Teknik pemecahan masalah yang baik

Tinggalkan komentar

Tidak ada metodologi troubleshooting yang dapat secara keseluruhan mengatasi semua masalah yang anda temukan ketika bekerja dengan jaringan-jaringan nirkabel. Namun seringkali, masalah biasanya berupa satu dari beberapa kesalahan yang umum. Berikut ini adalah beberapa petunjuk yang sebaiknya diingat agar usaha pemecahan masalah anda berada di jalur yang benar.

  • Jangan panik. Jika anda meng-troubleshoot sebuah sistem, ini berarti bahwa alat itu pernah berfungsi, bahkan mungkin baru-baru saja. Sebelum bergerak dan membuat perubahan, surveilah situasi dan teliti secara seksama apa yang rusak. Jika anda memiliki log historis atau data statistik yang anda bisa acu, semakin baik. Pastikan untuk pertama-tama mengumpulkan informasi, sehingga anda dapat mengambil keputusan berinformasi sebelum membuat perubahan.
  • Apakah sudah tercolok? Langkah ini seringkali diabaikan sampai semua pilihan tereksplorasi. Colokan dapat baik secara sengaja ataupun tidak sengaja terlepas secara mudah. Apakah tembaga tersambung pada sumber daya yang baik? Apakah ujung yang lain tersambung ke alat anda? Apakah lampu sumber daya menyala? Ini mungkin terkesan bodoh, tetapi anda akan merasa lebih bodoh jika anda meluangkan banyak waktu mengecek sebuah jalur input antena hanya untuk menyadari bahwa colokan titik akses ternyata terlepas. Percayalah, ini lebih sering terjadi daripada kebanyakan dari kita yang mau mengaku.
  • Apa yang terakhir kali dirubah? Jika anda merupakan satu-satunya orang dengan akses ke sistem, apakah yang paling terakhir anda rubah? Jika orang lain memiliki akses, apakah perubahan terakhir yang mereka buat dan kapan? Kapan terakhir kali sistem bekerja? Seringkali, perubahan-perubahan sistem memiliki konsekuensi yang tidak diinginkan yang mungkin tidak dapat secara langsung ditemukan. Kembalikan ke konfigurasi semula dan perhatikan efek apa yang dilakukannya terhadap permasalahan.
  • Buatlah backup. Ini berlaku sebelum anda menemukan masalah, serta setelahnya. Jika anda membuat perubahan perangkat lunak yang rumit pada sebuah sistem, memiliki sebuah backup berarti anda dapat secara cepat mengembalikannya ke konfigurasi sebelumnya dan memulai kembali. Ketika memecahkan masalah yang sangat rumit, memiliki sebuah konfigurasi yang “kira-kira” dapat bekerja jauh lebih baik daripada menghadapi kerumitan yang tidak dapat bekerja sama sekali (dan ini bukanlah sesuatu yang anda dapat kembalikan secara mudah dari memori).
  • Sesuatu yang baik yang diketahui. Gagasan ini berlaku pada perangkat keras, serta lunak. Sesuatu yang baik yang diketahui adalah komponen apapun yang anda dapat tukar dalam sebuah sistem yang kompleks untuk mengecek bahwa komponen yang sama yang terpasang berada dalam kondisi yang baik dan berfungsi. Misalnya, anda mungkin membawa sebuah kabel Ethernet yang sudah diuji dalam kotak perlengkapan anda. Jika anda menduga ada masalah dengan kabel di lapangan, anda dapat secara mudah mengganti kabel yang bermasalah tersebut dengan kabel yang sudah diuji tersebut dan melihat apakah kondisinya membaik. Ini jauh lebih cepat dan memiliki kerentanan kesalahan yang lebih sedikit dibandingkan dengan meng-crimping sebuah kabel, dan secara langsung memberitahu anda apakah perubahan tersebut menyelesaikan masalah. Begitu pula, anda juga dapat memasukan sebuah baterai, kabel antena, atau CD-ROM cadangan dengan konfigurasi yang sudah dianggap baik untuk sistem tersebut. Ketika memperbaiki masalah yang rumit, menyimpan pekerjaan anda pada suatu tahap memungkinkan anda untuk kembali ke sesuatu yang baik yang diketahui, walaupun masalah tersebut belum sepenuhnya teratasi.
  • Rubahlah variabel satu per satu. Ketika dalam tekanan untuk menghidupkan sistem yang rusak kembali online, sangatlah menggiurkan untuk langsung bergerak dan merubah beberapa variabel sekaligus. Jika anda tetap melakukan ini, dan perubahan anda sepertinya memperbaiki permasalahannya, maka anda tidak akan mengerti secara persis apa yang sebenarnya menimbulkan masalah tersebut pada awalnya. Lebih buruk lagi, perubahan anda mungkin memperbaiki permasalahan utama, namun menimbulkan konsekuensi yang tidak diinginkan yang merusak bagian lain sistem. Dengan merubah variabel anda satu per satu, anda dapat secara persis memahami apa yang mula-mula salah, dan dapat melihat efek langsung dari perubahan yang anda buat.
  • Jangan merusak. Jika anda tidak sepenuhnya mengerti bagaimana sebuah sistem berfungsi, janganlah ragu-ragu untuk memanggil seseorang yang ahli. Jika anda tidak yakin apakah sebuah perubahan akan merusak bagian sistem, maka carilah seorang yang ahli dengan banyak pengalaman atau buat sebuah cara untuk menguji perubahan anda tanpa merusak. Meletakan sebuah koin logam sebagai pengganti sekering mungkin akan menyelesaikan masalah secara langsung, namun mungkin juga akan menyebabkan kebakaran.
  • Sepertinya tidak mungkin orang yang mendesain jaringan anda akan tersedia 24 jam setiap hari untuk memperbaiki kesalahan ketika mereka muncul. Tim troubleshooting anda akan memerlukan keahlian troubleshooting yang baik, tetapi mungkin tidak cukup kompeten untuk mengkonfigurasi router dari nol atau untuk meng-crimp sebuah bagian dari LMR-400. Adalah seringkali lebih efisien untuk membuat beberapa komponen backup selalu tersedia, dan melatih tim anda untuk dapat mengganti seluruh bagian yang rusak. Ini dapat berarti memiliki sebuah titik akses yang sudah dikonfigurasikan dan tersedia di lemari yang terkunci, dilabel secara sederhana, dan disimpan dengan kabel dan sumber daya cadangan.


Tim anda dapat menukar komponen yang gagal, dan entah mengirim bagian yang rusak ke yang ahli untuk diperbaiki, atau mengatur agar cadangan dikirim. Mengasumsikan cadangan tersebut tersimpan dengan aman dan diganti ketika digunakan, ini akan menghemat banyak waktu untuk siapa saja.

PRINSIP-PRINSIP PENGAMBILAN KEPUTUSAN BERDASARKAN ISLAM

Tinggalkan komentar

HIKMAT DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN

Prinsip-prinsip yang bisa kita gunakan dan kita timba dari Firman Tuhan untuk menolong kita mengambil keputusan diambil dari kisah Raja Rehabeam, yang kita baca dalam kitab I Raja-raja 12 : 3-11. Ada beberapa prinsip pengambilan keputusan yang bisa kita petik yaitu:

Keputusan yang benar tidak mesti dikaitkan dengan bagaimana orang lain melihat diri kita. Di sini kita melihat Rehabeam ingin menunjukkan kekuasaannya dan keinginannya untuk dipandang berkuasa, hal itu telah membuatnya mengambil keputusan yang salah. Dengan kata lain adakalanya keputusan kita menjadi sangat salah, karena yang memotivasi kita mengambil keputusan itu bukanlah kita mempertimbang-kan keputusan yang benar, namun kita lebih mempedulikan bagaimanakah orang lain melihat kita. Kita ingin agar orang melihat kita sesuai dengan citra yang kita coba proyeksikan kepada orang lain. Yang penting kita memfokuskan mata kita pada permasalahannya.

Keputusan yang benar didasari atas masukan dari sumber yang memahami duduk masalahnya. Kadang-kadang kita mempunyai pandangan dalam mengambil keputusan mengumpulkan data sebanyak-banyaknya, saya kira itu tidak tepat, bukan kumpulkan data sebanyak-banyaknya, melainkan kumpul-kan data setepat-tepatnya. Tepat dalam pengertian kita mencari sumber yang memang kompeten atau memahami duduk masalahnya, jangan sampai kita kumpulkan terlalu banyak pandangan dari orang-orang yang tidak kompeten.

Keputusan yang benar berpijak pada konsep kebajikan yang universal, yaitu harus adil, penuh kasih dan juga harus baik. Jadi dalam pengambilan keputusan kita mesti bertanya aspek etisnya, aspek moralnya, apakah keputusan kita itu baik, apakah juga adil. Kadang-kadang baik untuk kita tetapi tidak baik untuk orang lain. Adil, apakah adil untuk kita dan untuk orang lain dan apakah ada unsur kasihnya, karena kasih adalah isi hati Tuhan yang paling dalam, yang juga harus kita miliki. Tuhan pernah mengajarkan kepada kita suatu perintah yang disebut hukum emas yaitu perbuatlah kepada orang lain sebagaimana kita inginkan orang perbuat kepada kita. Jadi kita bisa gunakan prinsip ini dalam pengambilan keputusan.

Keputusan yang benar mesti mempertimbangkan dampak dari keputusan itu. Orang yang bijaksana akan selalu mengingat apa akibat keputusan saya ini terhadap diri saya dan apa akibatnya terhadap orang lain serta pada orang-orang lain juga.

Keputusan yang benar muncul dari pergumulan dalam doa. Rehabeam tidak mencari Tuhan. Kita ingat sebelum Salomo mengemban tugasnya sebagai seorang raja, dia berdoa, dia meminta Tuhan memberikan hikmat dan itu yang Tuhan karuniakan. Jadi dalam kita mengambil keputusan jangan lupa untuk bergumul dalam doa, meminta Tuhan memimpin kita dan kita harus yakin setelah kita berdoa meminta pimpinan Tuhan, mulai detik itu Tuhan akan memimpin kita.

Keputusan yang benar tidak selalu tampak dengan jelas. Kita hidup dalam masyarakat yang instan kita ingin segala sesuatu muncul dengan seketika. Tapi keputusan yang baik sering kali menuntut waktu yang panjang, tidak selalu jelas apa itu keputusan yang baik yang kita bisa ambil. Jadi perlu ada waktu untuk mendinginkan kita dan membuktikan motivasi kita yang sebenarnya.

Keputusan yang benar tidak menutup kemungkinan muncul dari keputusan yang salah. Jadi adakalanya kita keliru mengambil keputusan yang salah, kita belajar kesalahannya apa dan belajar mengenal yang benar itu apa. Nah, justru keputusan yang salah menjadi batu pijakan atau batu loncatan yang membawa kita masuk ke dalam keputusan yang benar. Jadi intinya adalah bersedialah untuk meminta maaf jika menyadari bahwa kita telah membuat keputusan yang salah.

Siddiq berarti benar dan perkataan dan perbuatan. Jadi mustahil jika seorang nabi dan rosuladalah seorang pembohong yang suka berbohong.
Amanah artinya terpercaya atau dapat dipercaya. Jadi mustahil jika seorang nabi dan rosuladalah seorang pengkhianat yang suka khianat.
Fathonah adalah cerdas, pandai atau pintar. Jadi mustahil jika seorang nabi dan rosul adalahseorang yang bodoh dan tidak mengerti apa-apa.
Tabligh adalah menyampaikan wahtu atau risalah dari Allah SWT kepada orang lain. Jadimustahil jika seorang nabi dan rosul menyembunyikan dan merahasiakan wahyu / risalah AlaahSWT.

Jika dilihat basis empiriknya, menurut Aswab Mahasin (1993:30), Islam dan demokrasi memang berbeda. Agama berasal dari wahyu sementara demokrasi berasal dari proses pemikiran manusia. Dengan demikian, agama memiliki tata aturannyasendiri. Namun begitu, tidak ada halangan bagi agama untuk berdampingan dengan demokrasi. Dalam perspektif Islam terdapat nilai-nilai demokrasi meliputi: syura,musawah, adalah, amanah, masuliyyah dan hurriyyahSyura merupakan suatu prinsip tentang cara pengambilan keputusan yang secara lugas ditegaskan dalam Alquran.

Misalnya saja disebut dalam QS Assyura ayat 38 dan Ali Imran ayat 159. Dalam praktik kehidupan umat Islam, lembaga yang paling dikenal sebagai pelaksana syura adalah ahl halli wa-l’aqdi pada zaman khulafaurrasyidin. Lembaga ini lebih menyerupai tim formatur yang bertugas memilih kepala negara atau khalifah (Madani, 1999: 12). Jelas bahwa musyawarah sangat diperlukan sebagai bahan pertimbangan dan tanggung jawab bersama di dalam setiap mengeluarkan sebuah keputusan. Dengan begitu, maka setiap keputusan yang dikeluarkan oleh pemerintah akan menjadi tanggung jawab bersama. Sikap musyawarah juga merupakan
bentuk dari pemberian penghargaan terhadap orang lain karena pendapat-pendapatyang disampaikan menjadi pertimbangan bersama.

Di samping itu, prinsip al-muwasah adalah kesejajaran. Artinya tidak ada pihak yang merasa lebih tinggi dari yang lain sehingga dapat memaksakan kehendaknya. Penguasa tidak bisa memaksakan kehendaknya terhadap rakyat, berlaku otoriter dan eksploitatif. Kesejajaran ini penting dalam suatu pemerintahan demi menghindari hegemoni penguasa atas rakyat. Dalam perspektif Islam, pemerintah adalah orang atau institusi yang diberi wewenang dan kepercayaan oleh rakyat melalui pemilihan yang jujur dan adil untuk melaksanakan dan menegakkan peraturan dan undang-undang yang telah dibuat. Oleh sebab itu, pemerintah memiliki tanggung jawab besar di hadapan rakyat dan Tuhan. Dengan begitu, pemerintah harus amanah, memiliki sikap dan perilaku yang dapat dipercaya, jujur dan adil.

Sebagian ulama memahami al-musawah ini sebagai resultan dari prinsip al-syura dan al-‘adalah. Di antara dalil Alquran yang sering digunakan dalam hal ini adalah surat Alhujurat ayat 13, sementara dalil sunnah-nya cukup banyak antaralain tercakup dalam khutbah wada’ dan sabda Nabi kepada keluarga Bani Hasyim
(Tolchah, 199:26).

Nilai-nilai Islam yang sejalan dengan demokrasi masih banyak. Di antaranya al-masuliyyah atau tanggung jawab. Sebagaimana kita ketahui bahwa, kekuasaan dan jabatan itu adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan, bukan alat untuk memperkaya diri dan sewenang-wenang. Maka rasa tanggung jawab bagi seorang pemimpin atau penguasa harus dipenuhi. Dan kekuasaan sebagai amanah ini mememiliki dua pengertian, yaitu amanah yang harus dipertanggungjawabkan di depan rakyat dan juga amanah yang harus dipertanggungjawabkan di depan Tuhan.

Seperti yang dikatakan oleh Ibn Taimiyah (Madani, 1999:13), bahwa penguasa merupakan wakil Tuhan dalam mengurus umat manusia dan sekaligus wakil umat manusia dalam mengatur dirinya. Dengan dihayatinya prinsip pertanggungjawaban (al-masuliyyah) ini, diharapkan masing-masing orang berusaha untuk memberikan sesuatu yang terbaik bagi masyarakat luas.

Dengan demikian, pemimpin atau penguasa tidak ditempatkan pada posisi sebagai penguasa umat, melainkan sebagai khadim al-ummah (pelayan umat). Oleh karena itu, kemaslahatan umat senantiasa harus menjadi pertimbangan dalam setiap pengambilan keputusan oleh para penguasa, bukan sebaliknya rakyat atau umat harus menghamba pada penguasa. Dengan mengulas langsung ke nilai-nilai ajaran Islam itu maka tesis Huntington dan Fukuyama yang mengatakan: ”bahwa realitas empirik masyarakat Islam tidak kompatibel dengan demokrasi” adalah tidak seluruhnya benar. Karena belum menyentuh ke subtansi ajaran Islam dan heteregonitas di dalam dunia Islam.

Seni Pengambilan Keputusan

Tinggalkan komentar

Mempertimbangkan suatu masalah dari sisi pro dan kontra, memikirkan setiap alasan, dan mencari titik temu selama tiga atau empat hari untuk mengambil keputusan merupakan kebiasaan Benjamin Franklin yang disebutnya algebra moral. Ia senang dengan kebiasaan itu karena dapat menilai dengan lebih baik dan lebih bertanggung jawab.

Benjamin Franklin adalah sosok manusia yang sangat efektif dalam berbagai fungsi, yakni bisnis, militer, politik, ilmu pengetahuan, dan diplomasi. Pada zamannya (abad XVIII), ia seorang perintis di berbagai bidang, yakni perpustakaan keliling, pemadam kebakaran, almanak, Akademi Pennsylvania (sekarang Universitas Pennsylvannia), American Philosophical Society, hingga mengetuai penulisan undang-undang di Amerika Serikat. Semakin banyak fungsi atau peran seseorang, semakin banyak ia terlibat pemecahan masalah dan pengambilan keputusan.

Hal yang perlu dicatat dari pribadi Benjamin dalam pengambilan keputusan adalah bahwa ia berhasil memilih yang tepat dan bijaksana dalam berbagai hal hingga membuahkan keberhasilan. Ia juga meninggalkan kesan menyenangkan bagi banyak orang.

Ia adalah anggota masyarakat yang sangat dikagumi banyak orang sejak masih sangat muda. Sebagai gambaran, pada usia 30 tahun ia telah terpilih sebagai warga teladan di Pennsylvania.

Bila menengok bagaimana Benjamin dalam mengambil keputusan, mungkin kita tertawa, mengapa ia butuh waktu sampai tiga atau empat hari? Masih relevankah dengan situasi sekarang?

Bila menertawakan hal itu, berarti ada juga yang dapat ditertawakan dan dipertanyakan dari diri kita. Masih bersediakah kita mempertimbangkan apa saja yang keputusannya ada di tangan kita dengan lebih bijaksana, tanpa tergesa-gesa?

Ragam masalah
Sebagai manusia dewasa, setiap hari kita dihadapkan pada situasi untuk mengambil keputusan. Mengambil keputusan menu makanan keluarga sehari-hari tentu saja tidak perlu sampai berhari-hari.

Namun, untuk mengambil keputusan mengenai nasib seseorang atau sesuatu yang penting untuk orang banyak, baik di dalam keluarga (memutuskan pembelian kendaraan, memilih pasangan, pekerjaan, atau sekolah, memecahkan masalah psikologis anak) maupun menyangkut orang lain, seperti dalam perekrutan karyawan, menyusun peraturan, menyusun program, dan lain-lain, tentu saja perlu pertimbangan matang.

Sebagai manusia dewasa, kita sering kali kelewat percaya diri (over confidence), merasa telah matang dan mengerti banyak hal, sehingga cepat yakin dengan keputusan kita sendiri. Terlebih efektivitas manusia masa kini sering kali diukur hanya dengan kecepatannya memecahkan masalah dan mengambil keputusan.

Lebih fatal lagi, ada yang menemukan kenyataan bahwa setiap keputusan yang diambilnya selalu berbuah uang sebagai upah sehingga semakin banyak keputusan yang diambil, semakin banyak uang yang mengalir ke kantong. Hal-hal semacam ini akhirnya membuahkan ketergesaan dalam memecahkan berbagai masalah dan mengambil keputusan.

Ketergesaan hanya akan melahirkan keputusan yang prematur. Ibarat seorang ibu yang melahirkan anak prematur, secara fisik ia cepat merasa ringan, tetapi akhirnya menanggung beban lain, yakni kualitas kehidupan yang berisiko kelemahan fisik dan mental pada bayi yang dilahirkan. Demikian pula pengambilan keputusan yang prematur, menghasilkan kualitas keputusan yang merugikan diri kita sendiri maupun orang lain.

Utang luar negeri Indonesia merupakan salah satu contoh besar betapa kita harus menanggung beban berat dalam jangka panjang karena keputusan berutang oleh pemerintah masa lalu. Padahal, utang itu semata-mata demi mengatasi persoalan ekonomi jangka pendek.

Di tempat kerja, mungkin jajaran pimpinan sebuah organisasi memutuskan menolak lamaran seseorang hanya karena faktor usia atau jenis kelamin. Namun, akhirnya timbul penyesalan karena lima tahun kemudian nama pelamar itu muncul di media massa karena karyanya yang penting.

Kecenderungan kerja mental
Pada saat kita mengambil keputusan dengan tidak banyak pertimbangan, terdapat beberapa kecenderungan mental kita yang bekerja secara spontan tanpa disadari. Kecenderungan tersebut ada yang positif, positif-negatif, dan ada pula yang negatif. Semuanya terbentuk karena pembiasaan sehingga muncul persoalan dalam hal ini, yaitu sejauh mana kita membiasakan kecenderungan yang positif sehingga tidak didominasi oleh hal yang negatif.

*    Positif
Intuisi merupakan salah satu hal yang positif. Intuisi adalah kemampuan mengetahui atau mengenali secara cepat dan siap akan kemungkinan yang dapat terjadi dalam situasi-situasi tertentu.

Meski demikian, harus diakui bahwa pengambilan keputusan tidak cukup bila hanya mengandalkan intuisi. Akan lebih baik bila dikombinasikan dengan pendekatan analitis dan rasional. Intuisi sangat bermanfaat terutama dalam situasi pengambilan keputusan yang berisiko atau tidak menentu.

Kreativitas juga merupakan kecenderungan yang positif. Di dalam pengambilan keputusan, kreativitas berarti pengembangan respons-respons yang unik yang berkaitan dengan masalah dan kesempatan yang ada pada saat itu. Hal ini dapat berkembang bila seseorang mengembangkan intuisi.

*    Positif-negatif
Judgmental heuristic merupakan suatu bentuk penilaian yang bersifat sederhana (mengambil jalan pintas) dalam pengambilan keputusan. Hal ini memiliki nilai positif karena mencerminkan kerja mental yang efisien. Bagaimanapun, penilaian heuristic ini dapat berakibat bias dalam penilaian sehingga menyesatkan dalam pengambilan keputusan.

Setidaknya terdapat dua jenis penilaian heuristic:
–    Availability heuristic: menilai sesuatu hanya berdasarkan pengalaman atau informasi yang tersimpan dalam ingatan penilai. Misalnya, kita memutuskan membeli produk tertentu karena informasi teman yang berpengalaman positif dengan produk tersebut, padahal belum tentu cocok dengan diri kita.
–    Representativeness heuristic: menilai sesuatu berdasarkan pada anggapan memiliki ciri yang sama dengan ciri-ciri kelompoknya. Misalnya, menerima seorang pelamar kerja hanya karena ia berasal dari almamater tertentu yang kita kenal baik. Masalahnya tidak semua output almamater tersebut dapat diandalkan kualitasnya.

*    Negatif
Kecenderungan mental yang negatif ini mencakup kecenderungan seseorang untuk mempertahankan penilaian atau keputusan sebelumnya meskipun terdapat umpan-balik yang tidak mendukung penilaian tersebut. Kecenderungan ini disebut peningkatan komitmen (escalating commitment).

Pengambil keputusan yang baik tahu kapan ia harus mengubah keputusannya, yaitu apabila ia menyadari bahwa keputusan dan komitmen yang dijalankan saat ini ternyata tidak berhasil dengan baik.

Peningkatan komitmen negatif terjadi bila: (1) umpan balik negatif diabaikan, dianggap sebagai sesuatu yang sementara; (2) pengambil keputusan melindungi ego dengan tidak mengakui bahwa keputusannya salah; (3) menggunakan keputusan yang diambil hanya untuk memberikan kesan tertentu, misalnya ingin dilihat sebagai pimpinan yang tegas (sehingga mengambil keputusan secara otoriter).

Mengembangkan yang positif
Schermerhorn, Hunt & Osborn (1995) telah mengadopsi kiat mengembangkan pengambilan keputusan intuitif-analitis. Kiat tersebut meliputi tiga tahap: teknik rileksasi, latihan mental, dan teknik analitis. Ketiganya dapat dilakukan dalam waktu yang terpisah, tetapi ketika kita benar-benar dihadapkan pada suatu masalah yang harus diputuskan pemecahannya.

*    Teknik rileksasi
–    Singkirkan masalah yang ada untuk sementara waktu.
–    Buat saat yang tenang untuk diri kita.
–    Coba untuk membersihkan pikiran (keadaan no-mind).

*    Latihan mental
–    Gunakan imajinasi untuk menuntun cara berpikir kita.
–    Biarkan ide-ide yang ada dalam pikiran mengalir tanpa dihalangi.
–    Berlatih untuk menerima keadaan yang tidak pasti (ambiguitas) dan menerima pula kekurangmampuan kita untuk mengendalikan hal itu.

*    Teknik analitis
–    Diskusikan masalah-masalah yang ada dengan orang lain yang memiliki cara pandang berbeda dengan kita.
–    Arahkan masalah yang ada pada saat kita berada pada kesiagaan penuh untuk menghadapinya.
–    Ambil jeda yang cukup sebelum membuat keputusan akhir.
Seperti Benjamin Franklin, kita dapat mengambil keputusan secara efektif, bijaksana, dan dapat diterima oleh banyak pihak. Untuk itu, selain dengan kiat di atas, kita juga harus mempertimbangkan beberapa kriteria keputusan yang etis:

*    Keputusan-keputusan diambil sedemikian rupa untuk memberikan kebaikan tidak hanya pada diri sendiri, tetapi juga pada banyak orang yang terkait.
*    Tidak melanggar hak-hak orang lain (hak bicara, privacy).
*    Mengenakan aturan yang tidak berat sebelah (adil).

Menghargai Perbedaan Pendapat

Tinggalkan komentar

Suatu kejadian perbedaan pendapat dengan rekan kerja yang terjadi pada saat bekerja telah membuat saya sedikit berfikir untuk dapat berintropeksi diri dari kesalahan, keakuan dan sedikit ego diri.

Terkadang kita sebagai manusia merasa kita yang paling benar, dan kita mungkin pernah meremehkan pendapat, atau saran dari orang, terutama dari orang yang kita anggap lebih rendah status sosialnya, Atau seorang yang baru kita kenal. Kerap ketika kita menjadi seorang pemimpin sering muncul keangkuhan pribadi dalam menerima pendapat dan kritik, dan kita meremehkan anak buahnya,
padahal sesorang disebut pemimpin jika dia memiliki anak buah. Sering juga kita mengabaikan hati nurani, dalam pengambilan keputusan, sebenarnya perbedaan pendapat adalah suatu anugrah yang patut disukuri, karena dengan perbedaan pendapat kita bisa memiliki banyak pilihan keputusan, atau alternative penyelesaian masalah.

Sering kita sakit hati ketika ide atau gagasan kita tidak diterima oleh sahabat, rekan kerja, rekan bisnis, keluarga, dan suatu hubungan interaksi social lainnya. Coba kita berfikir positif jika pendapat kita belum dipakai, mungkin pendapat orang lain lebih tepat untuk meyelesaikan permasalahan. Dengan kita bisa menerima pendapat atau pandangan orang lain, dan tidak maksakan kehendak, adalah cermin dari kedewasaan, kebijaksanaan dari seseorang, seorang yang sudah berpribadi matang, cenderung akan menghargai pendapat orang lain, dan orang yang belum dewasa akan cenderung memaksakan keakuaanya.

Saat persaingan dunia kerja, atau sebagai penunjukan keeksistensian seseorang, terkadang sesorang dengan tak mau mengalah ingin pendapatnya dihargai, dan diakui sebagai ide miliknya.Sering saya lihat karena perbedaan pendapat orang berkelahi fisik, atau saling mendendam dan berniat untuk
saling menjatuhkan. Hal tersbut kurang lah bermanfaat, yang terjadi adalah suatu kerusakan, dan sikap saling memusuhi. Seperti sifat asli bangsa Indonesia yang suka bermusyawarah untuk mufakat
yang saat ini sudah jauh ditinggalkan, dengan banyaknya pendapat berbeda juga bisa menginspirasi munculnya ide baru hasil penggabungan fisi beberapa orang yang ada.

Jadi kenapa tidak kita bergabung bersama untuk mendapat ide yang lebih baik, atau menghargai ide orang lain saat ide kita tidak diterima. Tetapi kita juga janganlah congkak ketika ide kita diterima. Mari kita saling menghargai perbedaan pendapat diantara kita. Karena manusia terdiri dari banyak pemikiran. Dan mari kita buat perbedaan menjadi hal yang menyatukan.

” Bersifat lapang dada saat ide kita tidak diterima adalah sebuah proses kematangan diri “
” Menghargai perbedaan pendapat adalah sangat bijaksana”

Kuasai dan Kendalikan Dirimu

Tinggalkan komentar

Ada sebuah syair yang ditulis oleh penulis anonim, berjudul An Indian Prayer berbunyi demikian: ”I seek strength. Not to be greater than my brother, but to fight the greatest enemy, myself……” Syair ini saya temukan tertempel di kamar belajar seorang teman saya di Amerika Serikat dua puluh tahun yang lalu. Penyair ini telah menemukan rahasia terbesar kehidupan ini, yaitu pertempuran terus-menerus dengan dirinya sendiri.
Seseorang disebut ”kuat” ketika dia sudah menemukan cara untuk mengalahkan dan mengendalikan dirinya. Inilah hal yang kita sadari sangat kurang dalam diri kita. Mengalahkan dan mengendalikan diri, menurut JFC Fuller, seorang jenderal pada angkatan bersenjata Inggris, menunjukkan kebesaran karakter seseorang. Mengendalikan orang lain hanya menunjukkan sebagian kebaikan karakter kita. Jadi salah satu komponen yang penting dalam memperkaya kehidupan spiritual kita adalah pengendalian diri, yaitu mengalahkan musuh terbesar yaitu diri kita sendiri.
Lao Tsu, filsuf Cina, pernah mengatakan, ”Menundukkan orang lain membutuhkan tenaga. Menundukkan diri kita sendiri membutuhkan kekuatan.” Ternyata lebih mudah bagi kita untuk menundukkan orang lain daripada menundukkan diri sendiri. Seperti kita ketahui bahwa salah satu anugerah Tuhan kepada manusia adalah kesadaran diri (self awareness). Hal ini berarti kita memiliki kekuatan untuk mengendalikan diri. Kesadaran diri membuat kita dapat sepenuhnya sadar terhadap seluruh perasaan dan emosi kita. Dengan senantiasa sadar akan keberadaan diri, kita dapat mengendalikan emosi dan perasaan kita.
Namun seringkali kita ”lupa” diri, sehingga lepas kendali atas emosi, perasaan dan keberadaan diri kita. Oleh karena itu agar dapat mengendalikan dan menguasai diri, kita harus senantiasa membuka kesadaran diri kita melalui upaya memasuki alam bawah sadar (frekuensi gelombang otak yang rendah) maupun suprasadar melalui meditasi.

Dimensi Pengendalian Diri
Mengalahkan diri sendiri memiliki dua dimensi yaitu mengendalikan emosi dan disiplin. Mengendalikan emosi berarti kita mampu mengenali/memahami serta mengelola emosi kita, sedangkan kedisiplinan adalah melakukan hal-hal yang harus kita lakukan secara ajeg dan teratur dalam upaya mencapai tujuan atau sasaran kita.

a. Mengendalikan Emosi
Kecerdasan emosi merupakan tahapan yang harus dilalui seseorang sebelum mencapai kecerdasan spiritual. Seseorang dengan Emotional Quotient (EQ) yang tinggi memiliki fondasi yang kuat untuk menjadi lebih cerdas secara spiritual. Seringkali kita menganggap bahwa emosi adalah hal yang begitu saja terjadi dalam hidup kita. Kita menganggap bahwa perasaan marah, takut, sedih, senang, benci, cinta, antusias, bosan, dan sebagainya adalah akibat dari atau hanya sekedar respons kita terhadap berbagai peristiwa yang terjadi pada kita.
Menurut definisi Daniel Goleman dalam bukunya Emotional Intelligence, emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran-pikiran khasnya, suatu keadaan biologis dan psikologis, dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Sedangkan Anthony Robbins (penulis Awaken the Giant Within) menunjuk emosi sebagai sinyal untuk melakukan suatu tindakan.
Di sini dia melihat bahwa emosi bukan akibat atau sekedar respons tetapi justru sinyal untuk kita melakukan sesuatu. Jadi dalam hal ini ada unsur proaktif, yaitu kita melakukan tindakan atas dorongan emosi yang kita miliki. Bukannya kita bereaksi atau merasakan perasaan hati atau emosi karena kejadian yang terjadi pada kita.

b. Menguasai Diri dan Kedisiplinan
Kata ‘disiplin’ atau ‘self-control’ berasal dari bahasa Yunani, dari akar kata yang berarti ”menggenggam” atau ”memegang erat”. Kata ini sesungguhnya menjelaskan orang yang bersedia menggenggam hidupnya dan mengendalikan seluruh bidang kehidupan yang membawanya kepada kesuksesan atau kegagalan. John Maxwell mendefinisikan ‘disiplin’ sebagai suatu pilihan dalam hidup untuk memperoleh apa yang kita inginkan dengan melakukan apa yang tidak kita inginkan. Setelah melakukan hal yang tidak kita inginkan selama beberapa waktu (antara 30 – 90 hari), ‘disiplin’ akhirnya menjadi suatu pilihan dalam hidup untuk memperoleh apa yang kita inginkan dengan melakukan apa yang ingin kita lakukan sekarang!! Saya percaya kita bisa menjadi disiplin dan menikmatinya setelah beberapa tahun melakukannya.
Berikut saya mengutip tulisan John Maxwell tentang disiplin diri yang merupakan syarat utama bagi seorang pemimpin:
All great leaders have understood that their number one responsibility was for their own discipline and personal growth. If they could not lead themselves, they could not lead others. Leaders can never take others farther than they have gone themselves, for no one can travel without until he or she has first travel within. A leader can only grow when the leader is willing to ‘pay the price’ for it.
Dalam buku Developing the Leader Within You, John Maxwell menyatakan ada dua hal yang sangat sukar dilakukan seseorang. Pertama, melakukan hal-hal berdasarkan urutan kepentingannya (menetapkan prioritas). Kedua, secara terus-menerus melakukan hal-hal tersebut berdasarkan urutan kepentingan dengan disiplin.
Berikut beberapa hal yang perlu kita lakukan untuk meningkatkan disiplin diri:

  1. Tetapkan tujuan atau target yang ingin dicapai dalam waktu dekat.
  2. Buat urutan prioritas hal-hal yang ingin kita lakukan.
  3. Buat jadwal kegiatan secara tertulis (saya selalu menempelkan jadwal kegiatan saya di dinding depan meja kerja saya di rumah).
  4. Lakukan kegiatan sesuai dengan jadwal yang kita buat, tetapi jangan terlalu kaku. Jika perlu, kita dapat mengubah jadwal tersebut sesuai dengan kondisi dan situasi.
  5. Berusahalah untuk senantiasa disiplin dengan jadwal program kegiatan yang sudah kita susun sendiri. Sekali kita tidak disiplin atau menunda kegiatan tersebut, akan sulit bagi kita untuk kembali melakukannya.

Melalui pengendalian emosi, penguasaan diri dan kedisiplinan kita dapat lebih memahami diri kita dan bagaimana cara memanfaatkan potensi luar biasa dalam diri kita sehingga kita menjadi manusia yang lebih cerdas secara spiritual. Namun, semua ini tidak akan ada artinya jika kita tidak melakukan sesuatu. Kita harus melakukan sesuatu untuk mencapai kehidupan yang berkelimpahan dan berkualitas, karena hanya kita sendiri yang dapat mengubah kehidupan kita.

Mengatasi Konflik antar Teman

Tinggalkan komentar

Konflik di tempat kerja memang terkadang tidak bisa dihindari. Terdapat banyak hal yang dapat membuat perselisihan dengan teman sekantor. Untuk menghindari konflik tersebut, berikut merupakan beberapa factor yang mungkin telah menjadi titik permasalahan yang ada.

Beda Paham
Miscommunication sering menyebabkan salah paham satu sama lain karena terdapat penjelasan yang setengah-setengah, kurang jelas, dan kurang akurat. Seperti misalnya, atasan memberikan pekerjaan kepada Anda, dimana pekerjaan tersebut seharunya menjadi pekerjaan teman sekerja Anda. Kondisi tersebut dapat menimbulkan salah paham antara Anda dan teman sekerja Anda. Perbedaaan paham ini biasanya juga sering disisipi dengan pikiran negative terhadap perilaku, kata-kata, atau hal yang dilakukan oleh teman sekerja. Dengan bumbu pikiran yang negative, maka seseorang dapat menjadi benci kepada yang lain dan semakin memperuncing konflik yang terjadi.

Beda Kepribadian
Seorang partner kerja yang menyukai hal-hal detail, maka dirinya tidak akan cocok dengan dengan orang yang berlawanan. Hal ini dikarenakan karena orang yang hampir selalu detail akan cenderung mencari-cari kesalahan dan juga sering memaksakan kehendaknya kepada orang lain. Mereka juga cenderung menganggap bahwa hanya merekalah yang dapat melakukan semuanya dengan baik. Untuk mengatasi konflik yang terjadi, sebaiknya melakukan identifikasi mengenai kepribadian orang-orang yang menyebabkan konflik.

Beda Tujuan
Seseorang yang memiliki tujuan utama untuk memenuhi target jangka pendek atau target dirinya sendiri, akan cenderung melakukan berbagai cara untuk mencapainya seperti mengurangi biaya dan kualitas, dan bahkan sanggup untuk mengorbankan image perusahaan untuk mendapatkan hasil penjualan yang besar. Hal ini akan berbeda dengan orang yang berusaha memenuhi tujuan tim perusahaan, bukan dari segi angka saja namun juga segi profitnya dalam jangka panjang, seperti dengan meningkatkan dan mempertahankan kualitas produk yang bagus.

Beda Pandangan
Ada teman yang berpandangan bahwa prestasi pribadi lebih penting dari pada prestasi tim, untuk itu dirinya akan menunjukkan keunggulannya tanpa memperhatikan dampak perbuatan tersebut terhadap kinerja tim. Sedangkan rekan kerja yang lebih mementingkan kinerja tim, mungkin saja tidak terlalu memberi perhatian pada prestasi-prestasi dicapai tiap individu dalam tim. Ada anggota tim yang berpandangan bahwa pekerjaan harus dikerjakan dengan prinsip biar lambat asal sempurna. Rekan kerja ini seringkali mendapat hambatan bekerja sama dengan anggota tim lain yang berpandangan bahwa yang penting pekerjaan bisa diselesaikan dengan cepat dan tepat waktu, kekurangan bisa diperbaiki kemudian.

Ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi konflik dengan teman sekerja, seperti di bawah ini :

Saling Pengertian
Semua sikap ataupun tindakan serta keputusan yang dilakukan seseorang pasti ada alasannya. Jika bisa diketemukan alasan sebenarnya, setelah itu baru bisa memahami mengapa seseorang melakukan suatu tindakan, dimana awalnya Anda tidak mengerti alasannya. Jika sudah mengerti alasan dari sebuah tindakan, maka selanjutya dapat mencari cara untuk menyelesaikan konflik, atau bahkan dapat membantu seseorang yang dianggap pemicu konflik untuk duduk bersama menyelesaikan permasalahan.

Satukan Perbedaan
Anda bisa mencoba mengurangi perbedaan dengan bersama-sama menuju ke titik tengah. Jika masing-masing memiliki perbedaan cara pandang tetapi memiliki tujuan akhir yang sama, maka dapat berfokus bersama pada tujuan yang sama tersebut. Selanjutnya, dapat mencoba untuk menggalang koordinasi untuk semua kegiatan agar bisa diarahkan untuk mencapai tujuan yang sama.

Tenangkan Diri
Jika mereka mulai berulah, maka Anda tidak perlu merasa terusik. Jalan salah satunya adalah Anda mungkin dapat menghampiri mereka, memandang mereka dengan tegas (tanpa rasa emosi yang meluap) dan berkata dengan tenang, ”Saya menghormati pendapat anda, dan saya juga mempersilahkan Anda bekerja dengan cara yang Anda anggap baik untuk menyelesaikan bagian Anda. Tetapi, saya harap Anda juga menghormati pendapat saya, dan cara saya menyelesaikan pekerjaan saya.” Dengan kalimat ini, Anda telah menunjukan bahwa perbedaan memang ada, dan Anda menghormati perbedaan tersebut, dan berharap mereka juga bisa menghormati Anda.

Bersikap Netral
Cara lain yang bisa dilakukan untuk mengatasi konflik adalah menetralisasi sikap terhadap orang-orang yang berpotensi menjadi sumber konflik. Jika Anda tidak bisa menghindari interaksi dengan orang-orang yang mungkin bisa menyebabkan konflik, Anda masih dapat menetralisasi sikap terhadap orang-orang tersebut dengan mengabaikan kebiasaan-kebiasaan buruk mereka yang menyebalkan. Sebaliknya, Anda dapat memfokuskan perhatian pada kekuatan orang-orang tersebut dan mencari strategi untuk memanfaatkan kekuatan mereka untuk mendukung pekerjaan Anda.

Hindari Si Pemicu Konflik
Anda tidak perlu bersusah payah mengatasi rasa kesal, ataupun marah karena berurusan dengan mereka. Dengan begitu, Anda dan mereka dapat melakukan pekerjaan masing-masing tanpa harus dipusingkan dengan ketidakcocokan ataupun perbedaan-perbedaan mencolok, yang berpotensi untuk menyebabkan konflik antar teman sekerja.

Beda Paham
Miscommunication sering menyebabkan salah paham satu sama lain karena terdapat penjelasan yang setengah-setengah, kurang jelas, dan kurang akurat. Seperti misalnya, atasan memberikan pekerjaan kepada Anda, dimana pekerjaan tersebut seharunya menjadi pekerjaan teman sekerja Anda. Kondisi tersebut dapat menimbulkan salah paham antara Anda dan teman sekerja Anda. Perbedaaan paham ini biasanya juga sering disisipi dengan pikiran negative terhadap perilaku, kata-kata, atau hal yang dilakukan oleh teman sekerja. Dengan bumbu pikiran yang negative, maka seseorang dapat menjadi benci kepada yang lain dan semakin memperuncing konflik yang terjadi.

Beda Kepribadian
Seorang partner kerja yang menyukai hal-hal detail, maka dirinya tidak akan cocok dengan dengan orang yang berlawanan. Hal ini dikarenakan karena orang yang hampir selalu detail akan cenderung mencari-cari kesalahan dan juga sering memaksakan kehendaknya kepada orang lain. Mereka juga cenderung menganggap bahwa hanya merekalah yang dapat melakukan semuanya dengan baik. Untuk mengatasi konflik yang terjadi, sebaiknya melakukan identifikasi mengenai kepribadian orang-orang yang menyebabkan konflik.

Beda Tujuan
Seseorang yang memiliki tujuan utama untuk memenuhi target jangka pendek atau target dirinya sendiri, akan cenderung melakukan berbagai cara untuk mencapainya seperti mengurangi biaya dan kualitas, dan bahkan sanggup untuk mengorbankan image perusahaan untuk mendapatkan hasil penjualan yang besar. Hal ini akan berbeda dengan orang yang berusaha memenuhi tujuan tim perusahaan, bukan dari segi angka saja namun juga segi profitnya dalam jangka panjang, seperti dengan meningkatkan dan mempertahankan kualitas produk yang bagus.

Beda Pandangan
Ada teman yang berpandangan bahwa prestasi pribadi lebih penting dari pada prestasi tim, untuk itu dirinya akan menunjukkan keunggulannya tanpa memperhatikan dampak perbuatan tersebut terhadap kinerja tim. Sedangkan rekan kerja yang lebih mementingkan kinerja tim, mungkin saja tidak terlalu memberi perhatian pada prestasi-prestasi dicapai tiap individu dalam tim. Ada anggota tim yang berpandangan bahwa pekerjaan harus dikerjakan dengan prinsip biar lambat asal sempurna. Rekan kerja ini seringkali mendapat hambatan bekerja sama dengan anggota tim lain yang berpandangan bahwa yang penting pekerjaan bisa diselesaikan dengan cepat dan tepat waktu, kekurangan bisa diperbaiki kemudian.

Ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi konflik dengan teman sekerja, seperti di bawah ini :

Saling Pengertian
Semua sikap ataupun tindakan serta keputusan yang dilakukan seseorang pasti ada alasannya. Jika bisa diketemukan alasan sebenarnya, setelah itu baru bisa memahami mengapa seseorang melakukan suatu tindakan, dimana awalnya Anda tidak mengerti alasannya. Jika sudah mengerti alasan dari sebuah tindakan, maka selanjutya dapat mencari cara untuk menyelesaikan konflik, atau bahkan dapat membantu seseorang yang dianggap pemicu konflik untuk duduk bersama menyelesaikan permasalahan.

Satukan Perbedaan
Anda bisa mencoba mengurangi perbedaan dengan bersama-sama menuju ke titik tengah. Jika masing-masing memiliki perbedaan cara pandang tetapi memiliki tujuan akhir yang sama, maka dapat berfokus bersama pada tujuan yang sama tersebut. Selanjutnya, dapat mencoba untuk menggalang koordinasi untuk semua kegiatan agar bisa diarahkan untuk mencapai tujuan yang sama.

Tenangkan Diri
Jika mereka mulai berulah, maka Anda tidak perlu merasa terusik. Jalan salah satunya adalah Anda mungkin dapat menghampiri mereka, memandang mereka dengan tegas (tanpa rasa emosi yang meluap) dan berkata dengan tenang, ”Saya menghormati pendapat anda, dan saya juga mempersilahkan Anda bekerja dengan cara yang Anda anggap baik untuk menyelesaikan bagian Anda. Tetapi, saya harap Anda juga menghormati pendapat saya, dan cara saya menyelesaikan pekerjaan saya.” Dengan kalimat ini, Anda telah menunjukan bahwa perbedaan memang ada, dan Anda menghormati perbedaan tersebut, dan berharap mereka juga bisa menghormati Anda.

Bersikap Netral
Cara lain yang bisa dilakukan untuk mengatasi konflik adalah menetralisasi sikap terhadap orang-orang yang berpotensi menjadi sumber konflik. Jika Anda tidak bisa menghindari interaksi dengan orang-orang yang mungkin bisa menyebabkan konflik, Anda masih dapat menetralisasi sikap terhadap orang-orang tersebut dengan mengabaikan kebiasaan-kebiasaan buruk mereka yang menyebalkan. Sebaliknya, Anda dapat memfokuskan perhatian pada kekuatan orang-orang tersebut dan mencari strategi untuk memanfaatkan kekuatan mereka untuk mendukung pekerjaan Anda.

Hindari Si Pemicu Konflik
Anda tidak perlu bersusah payah mengatasi rasa kesal, ataupun marah karena berurusan dengan mereka. Dengan begitu, Anda dan mereka dapat melakukan pekerjaan masing-masing tanpa harus dipusingkan dengan ketidakcocokan ataupun perbedaan-perbedaan mencolok, yang berpotensi untuk menyebabkan konflik antar teman sekerja.

Pentingnya Pengendalian Emosi

Tinggalkan komentar

Emosi yang tak terkendali hanya akan merugikan diri sendiri. Selain menyebabkan energi Anda terkuras habis, Anda akan dicap tidak kuat  mental dan tidak dewasa. Makanya, jika Anda digelayuti berbagai masalah, cobalah jangan hanyut dalam Emosi, kendalikan diri.

Lebih baik Anda coba tenangkan diri dengan menarik nafas dalam-dalam. Dan berpikirlah lebih rileks! Emang nggak mudah sih, tapi kalau pandai mengelola dan mengendalikan emosi, Anda akan merasakan manfaatnya loh, apa aja sih..?

Orang-orang yang terlatih mengendalikan emosi umumnya tidak pernah panik dalam menghadapi situasi apapun. Hal ini tentu cukup mempengaruhi kualitas kerja Anda. Orang-orang yang mampu mengendalikan emosi, umumnya bisa menjaga kualitas kerjanya dengan baik pula. Sebaliknya, jika Anda bekerja dalam keadaan emosi yang tidak stabil, membuka peluang besar untuk melakukan kesalahan fatal.

Emosi yang terkendali dengan baik, dapat meningkatkan rasa pede Anda. Dengan emosi yang terjaga, Anda lebih mudah melakukan tugas apapun dengan lebih
baik. Dengan demikian Anda yakin apapun yang akan Anda hadapi dapat Anda selesaikan semaksimal mungkin. Hal ini secara otomatis akan menambah rasa percaya diri Anda. Dan tentu saja hal ini sangat diperlukan dalam dunia kerja bukan? Perlu Anda ketahui, emosi yang berlebihan akan menguras nyaris seluruh energi Anda, lebih dari kegiatan fisik yang Anda lakukan. Karena emosi umumnya membuat pikiran Anda meledak-ledak dan tanpa disadari membuat gerakan Anda sulit terkendali.

Nah emosi yang terkendali lebih menghemat energi Anda. Sehingga Anda tidak mudah lelah dan selalu siap dengan aktivitas sehari-hari. Hal yang sangat menguntungkan, jika Anda pandai mengelola dan mengendalikan emosi, Anda akan lebih sehat baik fisik maupun mental. Coba aja lihat, orang-orang yang sering dilanda emosi banyak dihinggapi penyakit. Selain penyakit mental seperti stres dan depresi, mereka juga dijangkiti penyakit fisik yang cukup berat seperti hipertensi, alergi, maag, migrain, dll. Nah kalau Anda terlatih mengendalikan emosi, stres dan segala macam penyakit ini akan menjauh dari kehidupan Anda. Pikiran dan fisik Anda pun lebih sehat. Lagipula kesehatan sangat penting untuk membangun karir bukan? Dengan segala keuntungan mengendalikan emosi,otomatis akan melancarkan segala aktivitas anda. Baik aktivitas pribadi maupun karir. So, mulai sekarang coba deh belajar mengendalikan emosi..! .

Older Entries Newer Entries

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.