Menghargai Diri Sendiri

Tinggalkan komentar

Salah satu hal yang membantu kita menerima diri sendiri adalah dengan menghargai diri sendiri. Pandangan jelek terhadap diri sendiri, baik beralasan maupun tidak, sedikit banyak akan tercermin dalam sikap terhadap orang-orang disekitar kita. Misalnya, jika kita merasa tersiksa karena kita merasakan suatu kekurangan, rasa penyesalan itu akan tertumpuk dalam hati kita, yang kemudian tersalurkan dalam bentuk sikap permusuhan terhadap dunia luar. Sebaliknya jika kita belajar untuk menghargai dan bersikap ramah pada diri sendiri, maka sedikit banyak akan bisa menambah cinta kita kepada orang lain.

Bila kita tak sanggup memecahkan persoalan-persoalan kita diri sendiri, kita mulai membenci oranglain. Hasilnya adalah bisa dikatakan sebagai lingkaran setan yang akan menghancurkan diri sendiri, yaitu : “BENCI DIRI SENDIRI, BENCI ORANG LAIN, AKIBATNYA DIBENCI JUGA OLEH ORANG LAIN”, nah lo berat deh kalo udah seperti ini, kabur aja hidup dihutan yang tidak ada manusianya. Tapi kalo dihutan tidak ramah juga dengan para penghuni asli disana, ya siap-siap aja diterkam si raja hutan ato yang lainya kekekeke…

Bentuk-bentuk dari sikap menghargai diri sendiri adalah dengan menjauhkan diri dari tindakan-tindakan tercela, seperti : Berjudi, madat, maling, provokator dsb… Sedangkan sikap-sikap seperti : konsisten, tanggung jawab dan menghargai waktu, termasuk wujud dari sikap menghargai diri sendiri (nah ini nih yang gampang-gampang susah kekekekeke….)

Mengembangkan harga diri berarti mengembangkan keyakinan bahwa seseorang (kita) mampu hidup dan patut berbahagia dalam menghadapi kehidupan dengan penuh keyakinan, kebajikan dan optimisme, yang akan membantu kita mencapai tujuan. Dengan mengembangkan harga diri berarti kita memperluas kapasitas untuk mencapai kebahagiaan. Semakin kokoh harga diri maka orang (kita) akan semakin kreatif, semakin hormat dan bijak dalam memperlakukan orang lain, karena tidak memandang oranglain sebagai ancaman.

Salah satu penghalang seseorang untuk menghargai diri sendiri adalah rasa rendah diri, yang dapat dimengerti sebagai suatu sikap negatif memandang diri sendiri rendah. Orang yang rendah diri senantiasa dikejar-kejar oleh kekurangan-kekurangan yang menghantui, baik kekurangan itu sungguh-sungguh ada atoupun hanya karena dibayangkan oleh diri kita sendiri.

Kalau ga salah, orang-orang pinter pada ngomong begini, “Biasanya untuk menghindari ato mengurangi rasa rendah diri, seseorang bisa menempuh dua, cara negatif dan positif.
CARA-CARA NEGATIF
1. Membangun mekanisme pertahanan. Dalam kehidupan sehari-hari bisa dikatakan dengan mencari perlindungan. Ia bicara besar, berlagak hebat, mengada-ada, membual tentang prestasi-prestasinya dalam banyak bidang, menunjukan sikap berlebih-lebihan pada saat-saat yang tidak tepat.
2. Mengundurkan diri dari lingkungan. Si penderita “Minder” itu bersembunyi, sambil berkhayal tentang kehebatan dirinya yang tak pernah terjadi, ia melamun tapi tidak berbuat sesuatu apapun. Ketika tersadar dari lamunannya dia akan kecewa karena lamunannya tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. orang model begini tidak mau bergaul dengan orang lain, ia mau orang lain menganggap bahwa dirinya itu paling unggul.

CARA-CARA POSITIF
1. Langsung bertindak mengatasi kekurangan. Rasa rendah diri memang dapat menjadi pembunuh kejam, tapi dilain pihak rasa rendah diri dapat juga menjadi sumber semangat yang luar biasa, yang bisa mengubah seekor kucing menjadi seekor harimau… Nah lo, buat kita semua aja ayo cepet-cepet bangun, sadar, buat langkah kecil pertama untuk melakukan perubahan kekekeke…
2. Subtitusi (tindakan pengganti). Kekurangan dalam satu bidang bisa juga diatasi dengan MEMUPUK KELEBIHAN DIBIDANG LAIN. Seseorang yang lemah jasmaninya bisa memupuk kelebihan dengan mengembangkan daya rohaninya.
3. Mau menerima kekurangan-kekurangan dan batas-batas kemampuan kita (bukan berarti kita menyerah pasrah lho kekeke…)
4. Tuhan menciptakan tiap-tiap manusia dengan selalu memberi keistimewaan tertentu.
5. Mencatat dan mengingat-ingat sukses yang pernah dicapai.

“Belajar untuk bersikap ramah terhadap diri sendiri adalah penting, karena hanya dengan itu kita bisa menambah perhatian kita kepada orang lain. hubungan yang baik dengan orang lain hanya bisa tercapai kalau hubungan kita dengan diri sendiri berlangsung baik”. Busyeeeeeeeet…gampang sekali, tapi akan sulit melakukanya kalo kita ga pernah ada kemauan untuk mencobanya kekekekeke….

Sukses buat kita semua….

Pelajaran dari Adam Young, Memanfaatkan Kekurangan Menjadi Kelebihan

Tinggalkan komentar

Saat ini, siapa yang tidak kenal akan Adam Young, seorang anak muda yang piawai dalam musik dan lebih terkenal lagi dengan grup music “Owl City” yang merupakan proyeknya. Saat ini, musiknya sedang digemari oleh banyak orang, bahkan berhasil bertahan di tangga lagu Billboard Hot 100 di Amerika selama beberapa minggu.

Keberhasilannya memang benar-benar luar biasa. Hal tersebut terbukti dari beberapa lagu-lagunya yang memang menjadi favorit banyak orang, seperti “Fireflies”, “The Saltwater Room”, dan berbagai lagu-lagu lainnya yang saat ini menjadi kesukaan di telinga banyak orang.

Namun, di balik segala keberhasilannya, siapa yang menyangka bahwa sebenarnya Adam Young adalah seorang penderita insomnia? Dan siapa yang menyangka bahwa karya-karyanya yang luar biasa tersebut banyak tercipta ketika ia menderita insomnia?

Nah, mungkin di dalam hidup, seringkali kekurangan yang ada di dalam diri kita membuat kita tidak percaya diri dan menjadi tidak sanggup untuk menjual potensi yang ada di dalam diri kita. Seperti yang kita tahu, percaya diri merupakan salah satu kunci penting yang harus dimiliki seorang salesperson. Salah satu wujud percaya diri yang harus kita ketahui adalah “memanfaatkan kekurangan menjadi kelebihan”.

Memanfaatkan kekurangan menjadi suatu kelebihan merupakan hal yang harus dimiliki oleh seorang salesperson. Soal merubah atau memanfaatkan kekurangan menjadi kelebihan, seorang salesperson harus memiliki mental yang kuat seperti Adam Young, dimana penyakit insomnia yang dideritanya tidak membuatnya menjadi mengeluh dan tidak percaya diri, melainkan ketika ia terserang insomnia, ia justru memanfaatkan waktu pada saat ia mengalami kesulitan tidur itu untuk mengarang dan mengaransemen berbagai lagu yang pada akhirnya menjadi terkenal dimana-mana.

Di dalam marketing, kita juga harus sanggup untuk “memanfaatkan kekurangan menjadi kelebihan”. Hal tersebut sangat penting karena ketika kita memanfaatkan dan mengubah kekurangan kita menjadi suatu kelebihan, maka kita akan sanggup untuk meningkatkan nilai jual kita dalam hal apapun, baik nilai secara pribadi maupun nilai dari produk atau jasa yang kita pasarkan.

Beberapa cara untuk memanfaatkan atau merubah kekurangan menjadi suatu kelebihan :

Belajar untuk mengenali potensi diri

Belajar untuk mengenali potensi diri, berarti kita mencari tahu segala kelebihan yang ada di dalam diri kita. Misalnya, kita memiliki kemampuan untuk berkomunikasi di dalam pemasaran, kembangkanlah kemampuan komunikasi kita dengan sebaik-baiknya. Memang bisa jadi di dalam kemampuan kita berkomunikasi, kita bukanlah orang yang memiliki strategi yang baik di dalam menjalankan pemasaran kita. Tetapi Anda jangan berkecil hati, sambil terus belajar untuk mengembangkan strategi di dalam pemasaran Anda, terus tunjukkan keberanian Anda dalam berkomunikasi dan kembangkan kelebihan Anda secara terus-menerus dalam batas yang positif.

Tetap merasa percaya diri dan fokus kepada tujuan

Percaya diri merupakan salah satu kunci keberhasilan seorang salesperson. Selain percaya diri, fokus kepada tujuan juga merupakan hal yang tidak boleh dilupakan. Dengan kita fokus kepada tujuan, kita juga menjadi disiplin dan tidak menganggap kekurangan kita sebagai hal yang akan menghambat kemajuan kita. Dengan kita mau untuk percaya diri dan fokus kepada tujuan, kita akan semakin terpacu untuk menjadi lebih baik dan hal tersebut justru akan memberikan nilai tambah bagi diri kita sebagai seorang salesperson.

Tidak menganggap bahwa kelemahan kita akan membuat kita menjadi tidak ada artinya, tetapi gali segala potensi yang ada di dalam diri dan berusaha untuk mengembangkan diri dengan mengemas dan menghargai diri sendiri dengan nilai yang setinggi-tingginya

Kelemahan yang kita alami, tidak boleh menjadi penghambat di dalam hidup kita. Ketika kita hanya berdiam diri, mengeluhkan kelemahan kita dan bahkan merasa hidup sudah tidak ada artinya karena kelemahan yang kita derita, kita akan membuat diri kita semakin terpuruk dan potensi kita yang sesungguhnya tidak akan pernah tergali dan berkembang.

Kita harus mau untuk aktif menggali potensi yang ada di dalam diri kita dan juga menghargai diri kita begitu tinggi. Dengan itu, kita akan sanggup untuk merubah kelemahan menjadi kelebihan yang meningkatkan nilai jual kita dan juga produk atau jasa yang kita hasilkan. Kita juga harus bisa untuk mengemas dan menghargai diri kita dengan setinggi-tingginya.

Mengemas dan menghargai diri kita dengan setinggi-tingginya bukan berarti kita menjadi angkuh atau sombong, tetapi kita yakin dengan kemampuan kita dan tidak memandang kelemahan kita. Dan dengan keyakinan tersebutlah kita akan terpacu untuk menggali potensi diri dan sanggup mengubah kelemahan kita menjadi suatu kelebihan yang akan semakin memberikan nilai jual yang tinggi bagi diri kita sendiri maupun produk atau jasa yang kita hasilkan.

Belajar Menerima Kekurangan Diri

Tinggalkan komentar

Tidak ada manusia yang sempurna, hanya ada manusia yang merasa sempurna dan ingin terlihat sempurna. Ungkapan ini begitu bermakna untuk menyadarkan kita tentang kekurangan diri. Kelebihan dan kekurangan merupakan dua sisi dalam fitrah kemanusiaan yang saling melengkapi. Namun, seringkali kita tidak dapat menerima kekurangan diri sendiri dan tidak mau memahami kekurangan orang lain. Kekurangan lebih sering diapresiasi dengan perasaan dan pikiran negatif, sehingga banyak orang yang membenci kekurangan diri dan menganggap kesempurnaan sebagai faktor mutlak untuk mencapai kebahagiaan.

Menerima kekurangan, memang tidak mudah. Bagi saya bahkan lebih mudah menuliskannya daripada menerapkannya. Akan tetapi, proses belajar itu tidak boleh berhenti karena tanpa belajar, kita tidak akan tahu dan tidak akan mampu melakukan, serta mencapai sesuatu. Belajar merupakan proses berupaya untuk dapat memahami dan menerima, termasuk belajar menerima kekurangan diri. Lalu bagaimana caranya? Saya pun masih belajar dan mencoba berbagi lewat tulisan ini.

Kelebihan merupakan anugerah yang akan mengisi dan melengkapi kekurangan. Bermuhasabah akan senantiasa menumbuhkan kesadaran diri bahwa sejak awal terlahir pun kita tidak memiliki apa-apa. “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur” (An-Nahl:78). Ayat ini mengingatkan kita bahwa kekurangan dan kelebihan patut kita syukuri. Bersyukur atas keadaan yang kita terima merupakan langkah utama untuk belajar menerima diri secara utuh.Tanpa mensyukuri dan menyadari kekurangan diri, kita tidak akan benar-benar mengerti kelebihan diri. Allah SWT menciptakan kekurangan agar kita selalu introspeksi, tidak takabur dan menyombongkan diri karena hanya Yang Maha Sempurna yang berhak memiliki segalanya.

Dalam syukur itu ada kesabaran. Untuk bisa menerima kekurangan, perlu kesabaran dan pengertian. Kesabaran berarti ketulusan dalam berupaya dan berserah diri. Kita dan orang-orang yang kita sayangi tidak selalu bisa sejalan dengan keinginan dan tidak selalu bisa menyenangkan hati satu sama lain. Kekurangan diri tidak mungkin selalu bisa ditutupi dengan terus menonjolkan kelebihan diri. Kita terbatas dalam kemampuan dan tiada batas dalam keinginan, sehingga diperlukan pengertian dan kesabaran untuk memahami semua itu. Kita berhak untuk berubah, serta memperbaiki kekurangan diri sendiri dan orang lain, tetapi kita juga harus ingat untuk memaksimalkan kelebihan yang kita punya. Jangan sampai waktu dan energi terfokus untuk menambal dan menutupi kekurangan, sehingga kita lupa bahwa kita punya keistimewaan yang berguna. Pengertian berarti kita menerima apa adanya, kelebihan dan kekurangan diri kita dan orang lain tanpa memaksakan kehendak untuk mengubahnya, apalagi demi orang yang tidak mau belajar menerima kekurangan diri kita.

Pengertian akan tumbuh sejalan dengan rasa menghargai. Menghargai diri sendiri dan orang lain merupakan pengakuan bahwa ada sisi kelebihan yang bisa kita manfaatkan untuk membuat diri kita berguna, serta masih banyak orang lain yang melebihi kita dalam segala hal. Penghargaan yang tulus merupakan wujud penerimaan dan syukur atas apapun keadaan diri, sehingga kita dapat bersikap bijaksana, tidak merasa inferior dengan kekurangan diri, tidak underestimate terhadap kekurangan orang lain dan tidak dengki atas kelebihan orang lain.

Pengertian dan penghargaan kita atas diri sendiri dan orang lain bisa membuat kita menyadari hakikat kemanusiaan kita yakni selalu membutuhkan orang lain. Sebagai makhluk sosial, kita tidak bisa menghindar dari kebutuhan berinteraksi dan berelasi dengan orang lain di sekeliling kita. Hidup itu untuk saling mengisi dan melengkapi karena kita tidak akan mampu hidup sendiri. Kekurangan yang kita miliki bisa dilengkapi dengan kelebihan orang lain, dan kelebihan yang kita punya dapat mengisi kekurangan orang lain. Dalam hubungan dengan pasangan, sahabat, kerabat atau rekan kerja, kesadaran akan saling membutuhkan ini merupakan energi untuk memahami dan menghargai kekurangan dan kelebihan masing-masing.

Jika kita renungi dan kita hayati, kekurangan diri merupakan alarm hati yang akan mengingatkan kita akan kematian. Dengan mengingat kematian, kita dapat membangkitkan kesadaran bahwa semua makhluk akan binasa, sehingga tidak hanya kekurangan yang melekat pada diri kita, tetapi kehancuran yang pasti suatu saat nanti.

Bagi saya, semuanya butuh proses dan keteguhan hati untuk terus berupaya. Hanya orang yang mau menyadari dan mau berproses yang akan mendapatkan pembelajaran tentang banyak hal, bahkan keberhasilan dan kemanfaatan. Belajar menerima kekurangan diri dapat kita jadikan bagian dari manajemen hidup kita, sekaligus proses belajar memanusiakan diri kita.

MENERIMA DIRI SENDIRI

Tinggalkan komentar

Ingatkah Anda ketika remaja, berkaca di depan cermin, mengomentari diri sendiri dengan nada tidak puas ? Setiap lekuk wajah, bentuk mata, ukuran hidung, bibir, jerawat di pipi….. rasanya semua mengecewakan. Dan hari itu setelah selesai berkaca, rasanya kaki terasa berat untuk melangkah karena merasa tidak percaya diri,. Tidak PD dengan kondisi fisik yang dimiliki. Tidak bisa menerima kondisi diri seperti itu.

Mungkin saat ini pun Anda masih sering mencela atau mengkritik diri sendiri dengan nada tidak puas. Setiap pekerjaan rasanya tidak ada yang bagus, tidak ada yang baik. Akhirnya penilaian terhadap diri sendiri menjadi buruk, penerimaan diri sendiri pun menjadi negatif. Buntut-buntutnya Anda juga sering mencela atau mengkritik orang lain. Pujian menjadi hal yang ‘mahal’ untuk diucapkan kepada orang lain.

Mengapa seseorang sulit menerima dirinya sendiri ? Tidak pernah puas dengan apa yang diperoleh dan dimilikinya ? Tidak pernah menghargai usahanya sendiri bahkan usaha orang lain ? Banyak kemungkinan yang menyebabkan seseorang sulit untuk menerima diri sendiri. Barangkali Anda berasal dari keluarga dimana orang tua lebih sering mengkritik anak-anaknya ketimbang memuji. Anda tumbuh menjadi orang yang tidak terbiasa untuk cepat puas, selalu merasa kurang, dan akhirnya sulit untuk menerima diri sendiri bila ada kekurangan di dalamnya. Apa pun kondisi Anda di masa lalu, saat ini sebagai seseorang yang ingin maju dan berkembang, Anda dituntut untuk dapat menerima diri sendiri.

Orang yang sehat mental adalah orang yang mau menerima kondisi dirinya sendiri dengan bahagia. Orang yang mampu untuk menerima diri sendiri, biasanya adalah orang yang juga mampu untuk menerima orang lain apa adanya. Tidak memaksakan orang lain untuk melakukan yang diminta, menghargai usaha orang lain, bersikap hormat, tidak dikendalikan oleh ambisi yang tidak realistis, tidak terlalu banyak mengeluh, tidak mudah tersinggung, belajar mengendalikan kemarahan dengan benar, tidak terobsesi oleh masa lampau, serta tidak menuntut orang lain untuk memenuhi semua kebutuhannya.

Coba periksa diri Anda sendiri. Apakah Anda menjawab “YA” untuk setiap kondisi berikut di bawah ini ? (“Seni Mengasihi Diri Sendiri”, Cecil G. Osborne, 2001) Semakin banyak Anda menjawab “YA” untuk kondisi berikut ini, berarti Anda belum memiliki penerimaan diri sendiri yang baik.

  1. Apakah Anda dinilai terlalu sensitif oleh teman-teman atau keluarga ?
  2. Apakah Anda suka berbantah ?
  3. Apakah Anda suka mengecam ?
  4. Apakah Anda tidak toleran terhadap orang lain ? Terhadap ide-ide mereka ?
  5. Apakah Anda termasuk orang yang sangat mudah marah ?
  6. Apakah Anda sulit memberi maaf ?
  7. Apakah Anda cemburu buta ?
  8. Apakah Anda pendengar yang tidak baik ?
  9. Apakah Anda materialistis secara berlebihan ? Takut miskin ?
  10. Apakah Anda sangat terpukau pada titel, gelar, kehormatan, dan pangkat ?
  11. Apakah Anda orang yang tidak mau kalah ?
  12. Apakah Anda sulit menerima pujian ?

Ada sebuah illustrasi. Seorang turis Amerika sedang mengunjungi sebuah puri kuno di Inggris bersama rombongan tur. Puri kuno tersebut memiliki hamparan rumput yang sangat luas dan sangat indah. Turis Amerika ini sedang mengagumi hamparan rumput tersebut. Kemudian ia menghampiri kepala kebun puri yang sedang bekerja di dekat situ. Ia bertanya kepada kepala kebun tersebut, “Bagaimana caranya kalian membuat hamparan rumput sebagus dan seindah ini ? Saya sangat mengagumi hamparan rumput yang hijau dan elok ini.” Jawab si kepala kebun, “ Ah Pak, biasa saja. Kami hanya menanam bibit rumput yang terbaik, memberi pupuk, menyiramnya, serta merawatnya selama 500 tahun…” Menerima diri sendiri merupakan suatu proses yang harus diusahakan atau diperjuangkan. Butuh kerja keras untuk menerima diri apa adanya. Tujuannya adalah supaya memiliki pertumbuhan mental yang baik, mampu menerima orang lain apa adanya, menjalin relasi interpersonal yang lebih baik, serta dapat menikmati hidup.
Bagaimana untuk bisa menerima diri sendiri ? Ada beberapa saran yang bisa Anda terapkan. Diharapkan Anda juga berusaha untuk mengembangkan cara-cara untuk menerima diri sendiri.

  1. Gunakan kacamata paradigma baru. Mulailah untuk memandang diri sendiri secara berbeda. Tidak lagi cepat menilai negatif pada diri sendiri. Beri kesempatan pada diri sendiri bahwa Anda layak untuk dihargai. Fokuskan diri pada sisi positif dan negatif secara berimbang.
  2. Tetapkan standar atau target yang realistis. Ada kalanya seseorang sulit untuk menerima diri sendiri karena kegagalan untuk meraih target atau standar yang ditetapkannya sendiri. Perlu dicermati, target atau standar yang ditetapkan itu terkadang tidak realistis, terlalu muluk-muluk sehingga sangat sulit untuk dicapai. Untuk orang-orang yang menaruh penghargaan diri sendiri berdasarkan prestasi semata, hal ini bisa sangat meruntuhkan rasa percaya diri. Tetapkanlah standar atau target yang realistis. Bila tidak tercapai, janganlah terlalu “down” atau merasa sangat kecewa hingga tidak memberi kesempatan pada diri sendiri untuk mencoba lagi.
  3. Lakukan sesuatu yang membuat Anda lebih menyukai diri Anda. Berikanlah kasih, pertolongan, dukungan, perhatian, maaf, pengertian, uang, sehelai surat sederhana, atau apa pun kepada teman atau orang lain yang Anda rasa perlu.
  4. Beri pujian pada orang lain dan diri sendiri. Dengan melakukan hal ini Anda akan menghargai diri Anda sendiri dan juga orang lain.
  5. Gunakan kata-kata yang positif pada diri sendiri. Misalnya ketika Anda diserahkan tanggung jawab untuk mengerjakan proyek tertentu, katakan pada diri sendiri bahwa, ”Saya mampu dan bisa mengerjakan tugas ini dengan baik.”
  6. Bersyukurlah dengan apa yang Anda miliki. Orang yang bersyukur dengan keberadaan dirinya biasanya lebih mudah untuk menerima dirinya sendiri. Ia juga tidak mudah untuk marah, tidak mudah tersinggung, dan mampu memberi bagi orang lain.

”Selalu ada kesempatan untuk orang yang mau merubah dirinya”.

MEMETIK MANFAAT DARI KEKURANGAN DAN KEMALANGAN

Tinggalkan komentar

“I see only the objective, therefore the obstacles must give way. – Saya hanya memperhatikan secara obyektif. Karenanya setiap tantangan yang harus saya hadapi justru memberi saya jalan keluar.”
~ Napolean Bonaparte

Kekurangan dan kemalangan merupakan suatu hal yang sangat dihindari orang. Bahkan mayoritas manusia merasa malu mengakui kekurangan yang mereka miliki. Mereka beranggapan bahwa kekurangan hanya akan menjadi obyek cemoohan. Bahkan mereka berpikir bahwa kekurangan adalah penghalang untuk mendapatkan perlakuan ataupun kehidupan yang layak.

Pemikiran seperti itu tentu saja tak hanya menyiksa diri sendiri, melainkan membunuh kesempatan untuk hidup lebih baik. Bukankah jauh lebih baik jika kita menerima, mencintai dan menghargai diri sendiri apa adanya? Karena manusia diciptakan oleh Tuhan YME dengan segala kelebihan dan kekurangan.

Bila saja kita bersedia mengintropeksi diri, tentu masing-masing diantara kita mempunyai keunikan yang tidak dimiliki orang lain. Bila kita bersedia menjadikan kekurangan tersebut sebagai sumber motivasi untuk menjadi lebih baik, tentu kita akan dapat memanfaatkan kelebihan yang kita miliki menjadi bernilai luar biasa.

Salah satu contoh sebagai referensi belajar kita adalah Hirotada Ototake. Remaja di Jepang ini dilahirkan cacat, tanpa kedua tangan dan kaki. Kenyataan tersebut tidak membuat Hirotada bersusah hati. Sebaliknya, dalam sebuah buku No One’s Perfect, Hirotada mencurahkan isi hati bahwa kekurangan yang ia miliki bukan penghalang baginya untuk bekerja keras, menikmati humor dan hidup bahagia.

Satu lagi orang Indonesia yang sangat berbakat dalam melukis, namanya Patricia Saerang. Ia merupakan satu diantara ratusan pelukis berbakat yang tergabung dalam MFPA (Mouth and Foot Painting Artists – pelukis dengan mulut dan kaki). Meskipun cacat ia menyalurkan jiwa seni lukis lewat guratan kanvas dengan kaki kirinya. Karya lukisan Patricia sangat menakjubkan, bahkan salah satunya menghiasi kartu pos yang beredar di Indonesia.

Hirotada Ototake dan Patricia Saerang merupakan contoh personifikasi yang memilih untuk tidak menyesali atau malu atas kekurangan mereka. Mereka juga tidak berusaha menyalahkan siapapun. Mereka hanya berusaha mensyukuri apa yang sudah mereka miliki dan mengasah potensi yang masih sangat besar di dalam diri mereka. Jika Hirotada Ototake dan Patricia Saerang dengan keadaan fisik yang serba kurang sudah mampu menciptakan prestasi luar biasa, lalu bagaimana dengan kita? “Strength is a matter of a made up mind. – Kekuatan berasal dari pola pikir,” kata John Beecker. Jadi tanamkan dalam pikiran kita bahwa manusia pasti mempunyai kekurangan dan kelebihan. Jangan lagi meratapi kekurangan melainkan pikirkan bagaimana mengasah potensi lainnya untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik dari hari ke hari.

Selain memiliki kekurangan dan kelebihan, manusia seperti kita tentu juga mengalami keberuntungan maupun kemalangan, seperti kisah fiksi berikut ini yang menceritakan tentang seorang peternak lembu. Diceritakan bahwa peternak itu sangat rajin mengurus lembu-lembunya hingga berkembang dari belasan menjadi 250 ekor lembu. Setiap pagi dengan gembira ia menggiring lembu-lembu itu ke padang rumput yang luas dan tumbuh subur di desanya.

Suatu hari salah satu lembu tersebut hilang. Setelah ia mencari kesana kemari, ia menemukan bangkai lembu itu di pinggir sungai bekas dimangsa singa. Kehilangan satu lembu membuat peternak itu betul-betul frustasi. Hatinya terlampau sedih kehilangan salah satu lembunya. Tetapi yang sangat mengejutkan adalah ketika tiba-tiba ia menggiring 249 lembu yang tersisa terjun ke jurang sehingga mati semuanya.

Sangat ironis nasib peternak lembu itu. Sikap yang tak dapat menerima kemalangan menjadikan peternak itu kehilangan seluruh lembunya. Itulah gambaran menyedihkan tentang nasib seseorang apabila tidak dapat menerima kemalangan.

Berdasarkan kisah tersebut kita dapat memetik satu pelajaran bahwa mensyukuri apa yang sudah ada di genggaman jauh lebih menguntungkan dibandingkan terus memikirkan apa yang terlepaskan. Tak ada gunanya terus meratapi kemalangan, karena hanya akan menimbulkan frustasi. Sebaliknya bila kita mensyukuri apa yang masih ada di genggaman, memeliharanya dengan baik dan mempertajam kemampuan, tentu manfaat yang bakal kita peroleh akan jauh lebih besar.

Bagaimanapun kehidupan ini terus berjalan, sekalipun kita sedang dalam keadaan sangat susah atau gembira, sedang beruntung atau dalam keadaan paling sulit sekalipun. Sebagai manusia kita harus selalu dapat menerima kenyataan dengan lapang dada, memelihara sikap dan motivasi positif, serta tetap menjalankan tanggung jawab dengan sepenuh hati. Hanya dengan cara tersebut kita dapat memetik manfaat yang sangat menguntungkan dari setiap kemalangan maupun kekurangan kita.

Teknik pemecahan masalah yang baik

Tinggalkan komentar

Tidak ada metodologi troubleshooting yang dapat secara keseluruhan mengatasi semua masalah yang anda temukan ketika bekerja dengan jaringan-jaringan nirkabel. Namun seringkali, masalah biasanya berupa satu dari beberapa kesalahan yang umum. Berikut ini adalah beberapa petunjuk yang sebaiknya diingat agar usaha pemecahan masalah anda berada di jalur yang benar.

  • Jangan panik. Jika anda meng-troubleshoot sebuah sistem, ini berarti bahwa alat itu pernah berfungsi, bahkan mungkin baru-baru saja. Sebelum bergerak dan membuat perubahan, surveilah situasi dan teliti secara seksama apa yang rusak. Jika anda memiliki log historis atau data statistik yang anda bisa acu, semakin baik. Pastikan untuk pertama-tama mengumpulkan informasi, sehingga anda dapat mengambil keputusan berinformasi sebelum membuat perubahan.
  • Apakah sudah tercolok? Langkah ini seringkali diabaikan sampai semua pilihan tereksplorasi. Colokan dapat baik secara sengaja ataupun tidak sengaja terlepas secara mudah. Apakah tembaga tersambung pada sumber daya yang baik? Apakah ujung yang lain tersambung ke alat anda? Apakah lampu sumber daya menyala? Ini mungkin terkesan bodoh, tetapi anda akan merasa lebih bodoh jika anda meluangkan banyak waktu mengecek sebuah jalur input antena hanya untuk menyadari bahwa colokan titik akses ternyata terlepas. Percayalah, ini lebih sering terjadi daripada kebanyakan dari kita yang mau mengaku.
  • Apa yang terakhir kali dirubah? Jika anda merupakan satu-satunya orang dengan akses ke sistem, apakah yang paling terakhir anda rubah? Jika orang lain memiliki akses, apakah perubahan terakhir yang mereka buat dan kapan? Kapan terakhir kali sistem bekerja? Seringkali, perubahan-perubahan sistem memiliki konsekuensi yang tidak diinginkan yang mungkin tidak dapat secara langsung ditemukan. Kembalikan ke konfigurasi semula dan perhatikan efek apa yang dilakukannya terhadap permasalahan.
  • Buatlah backup. Ini berlaku sebelum anda menemukan masalah, serta setelahnya. Jika anda membuat perubahan perangkat lunak yang rumit pada sebuah sistem, memiliki sebuah backup berarti anda dapat secara cepat mengembalikannya ke konfigurasi sebelumnya dan memulai kembali. Ketika memecahkan masalah yang sangat rumit, memiliki sebuah konfigurasi yang “kira-kira” dapat bekerja jauh lebih baik daripada menghadapi kerumitan yang tidak dapat bekerja sama sekali (dan ini bukanlah sesuatu yang anda dapat kembalikan secara mudah dari memori).
  • Sesuatu yang baik yang diketahui. Gagasan ini berlaku pada perangkat keras, serta lunak. Sesuatu yang baik yang diketahui adalah komponen apapun yang anda dapat tukar dalam sebuah sistem yang kompleks untuk mengecek bahwa komponen yang sama yang terpasang berada dalam kondisi yang baik dan berfungsi. Misalnya, anda mungkin membawa sebuah kabel Ethernet yang sudah diuji dalam kotak perlengkapan anda. Jika anda menduga ada masalah dengan kabel di lapangan, anda dapat secara mudah mengganti kabel yang bermasalah tersebut dengan kabel yang sudah diuji tersebut dan melihat apakah kondisinya membaik. Ini jauh lebih cepat dan memiliki kerentanan kesalahan yang lebih sedikit dibandingkan dengan meng-crimping sebuah kabel, dan secara langsung memberitahu anda apakah perubahan tersebut menyelesaikan masalah. Begitu pula, anda juga dapat memasukan sebuah baterai, kabel antena, atau CD-ROM cadangan dengan konfigurasi yang sudah dianggap baik untuk sistem tersebut. Ketika memperbaiki masalah yang rumit, menyimpan pekerjaan anda pada suatu tahap memungkinkan anda untuk kembali ke sesuatu yang baik yang diketahui, walaupun masalah tersebut belum sepenuhnya teratasi.
  • Rubahlah variabel satu per satu. Ketika dalam tekanan untuk menghidupkan sistem yang rusak kembali online, sangatlah menggiurkan untuk langsung bergerak dan merubah beberapa variabel sekaligus. Jika anda tetap melakukan ini, dan perubahan anda sepertinya memperbaiki permasalahannya, maka anda tidak akan mengerti secara persis apa yang sebenarnya menimbulkan masalah tersebut pada awalnya. Lebih buruk lagi, perubahan anda mungkin memperbaiki permasalahan utama, namun menimbulkan konsekuensi yang tidak diinginkan yang merusak bagian lain sistem. Dengan merubah variabel anda satu per satu, anda dapat secara persis memahami apa yang mula-mula salah, dan dapat melihat efek langsung dari perubahan yang anda buat.
  • Jangan merusak. Jika anda tidak sepenuhnya mengerti bagaimana sebuah sistem berfungsi, janganlah ragu-ragu untuk memanggil seseorang yang ahli. Jika anda tidak yakin apakah sebuah perubahan akan merusak bagian sistem, maka carilah seorang yang ahli dengan banyak pengalaman atau buat sebuah cara untuk menguji perubahan anda tanpa merusak. Meletakan sebuah koin logam sebagai pengganti sekering mungkin akan menyelesaikan masalah secara langsung, namun mungkin juga akan menyebabkan kebakaran.
  • Sepertinya tidak mungkin orang yang mendesain jaringan anda akan tersedia 24 jam setiap hari untuk memperbaiki kesalahan ketika mereka muncul. Tim troubleshooting anda akan memerlukan keahlian troubleshooting yang baik, tetapi mungkin tidak cukup kompeten untuk mengkonfigurasi router dari nol atau untuk meng-crimp sebuah bagian dari LMR-400. Adalah seringkali lebih efisien untuk membuat beberapa komponen backup selalu tersedia, dan melatih tim anda untuk dapat mengganti seluruh bagian yang rusak. Ini dapat berarti memiliki sebuah titik akses yang sudah dikonfigurasikan dan tersedia di lemari yang terkunci, dilabel secara sederhana, dan disimpan dengan kabel dan sumber daya cadangan.


Tim anda dapat menukar komponen yang gagal, dan entah mengirim bagian yang rusak ke yang ahli untuk diperbaiki, atau mengatur agar cadangan dikirim. Mengasumsikan cadangan tersebut tersimpan dengan aman dan diganti ketika digunakan, ini akan menghemat banyak waktu untuk siapa saja.

PRINSIP-PRINSIP PENGAMBILAN KEPUTUSAN BERDASARKAN ISLAM

Tinggalkan komentar

HIKMAT DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN

Prinsip-prinsip yang bisa kita gunakan dan kita timba dari Firman Tuhan untuk menolong kita mengambil keputusan diambil dari kisah Raja Rehabeam, yang kita baca dalam kitab I Raja-raja 12 : 3-11. Ada beberapa prinsip pengambilan keputusan yang bisa kita petik yaitu:

Keputusan yang benar tidak mesti dikaitkan dengan bagaimana orang lain melihat diri kita. Di sini kita melihat Rehabeam ingin menunjukkan kekuasaannya dan keinginannya untuk dipandang berkuasa, hal itu telah membuatnya mengambil keputusan yang salah. Dengan kata lain adakalanya keputusan kita menjadi sangat salah, karena yang memotivasi kita mengambil keputusan itu bukanlah kita mempertimbang-kan keputusan yang benar, namun kita lebih mempedulikan bagaimanakah orang lain melihat kita. Kita ingin agar orang melihat kita sesuai dengan citra yang kita coba proyeksikan kepada orang lain. Yang penting kita memfokuskan mata kita pada permasalahannya.

Keputusan yang benar didasari atas masukan dari sumber yang memahami duduk masalahnya. Kadang-kadang kita mempunyai pandangan dalam mengambil keputusan mengumpulkan data sebanyak-banyaknya, saya kira itu tidak tepat, bukan kumpulkan data sebanyak-banyaknya, melainkan kumpul-kan data setepat-tepatnya. Tepat dalam pengertian kita mencari sumber yang memang kompeten atau memahami duduk masalahnya, jangan sampai kita kumpulkan terlalu banyak pandangan dari orang-orang yang tidak kompeten.

Keputusan yang benar berpijak pada konsep kebajikan yang universal, yaitu harus adil, penuh kasih dan juga harus baik. Jadi dalam pengambilan keputusan kita mesti bertanya aspek etisnya, aspek moralnya, apakah keputusan kita itu baik, apakah juga adil. Kadang-kadang baik untuk kita tetapi tidak baik untuk orang lain. Adil, apakah adil untuk kita dan untuk orang lain dan apakah ada unsur kasihnya, karena kasih adalah isi hati Tuhan yang paling dalam, yang juga harus kita miliki. Tuhan pernah mengajarkan kepada kita suatu perintah yang disebut hukum emas yaitu perbuatlah kepada orang lain sebagaimana kita inginkan orang perbuat kepada kita. Jadi kita bisa gunakan prinsip ini dalam pengambilan keputusan.

Keputusan yang benar mesti mempertimbangkan dampak dari keputusan itu. Orang yang bijaksana akan selalu mengingat apa akibat keputusan saya ini terhadap diri saya dan apa akibatnya terhadap orang lain serta pada orang-orang lain juga.

Keputusan yang benar muncul dari pergumulan dalam doa. Rehabeam tidak mencari Tuhan. Kita ingat sebelum Salomo mengemban tugasnya sebagai seorang raja, dia berdoa, dia meminta Tuhan memberikan hikmat dan itu yang Tuhan karuniakan. Jadi dalam kita mengambil keputusan jangan lupa untuk bergumul dalam doa, meminta Tuhan memimpin kita dan kita harus yakin setelah kita berdoa meminta pimpinan Tuhan, mulai detik itu Tuhan akan memimpin kita.

Keputusan yang benar tidak selalu tampak dengan jelas. Kita hidup dalam masyarakat yang instan kita ingin segala sesuatu muncul dengan seketika. Tapi keputusan yang baik sering kali menuntut waktu yang panjang, tidak selalu jelas apa itu keputusan yang baik yang kita bisa ambil. Jadi perlu ada waktu untuk mendinginkan kita dan membuktikan motivasi kita yang sebenarnya.

Keputusan yang benar tidak menutup kemungkinan muncul dari keputusan yang salah. Jadi adakalanya kita keliru mengambil keputusan yang salah, kita belajar kesalahannya apa dan belajar mengenal yang benar itu apa. Nah, justru keputusan yang salah menjadi batu pijakan atau batu loncatan yang membawa kita masuk ke dalam keputusan yang benar. Jadi intinya adalah bersedialah untuk meminta maaf jika menyadari bahwa kita telah membuat keputusan yang salah.

Siddiq berarti benar dan perkataan dan perbuatan. Jadi mustahil jika seorang nabi dan rosuladalah seorang pembohong yang suka berbohong.
Amanah artinya terpercaya atau dapat dipercaya. Jadi mustahil jika seorang nabi dan rosuladalah seorang pengkhianat yang suka khianat.
Fathonah adalah cerdas, pandai atau pintar. Jadi mustahil jika seorang nabi dan rosul adalahseorang yang bodoh dan tidak mengerti apa-apa.
Tabligh adalah menyampaikan wahtu atau risalah dari Allah SWT kepada orang lain. Jadimustahil jika seorang nabi dan rosul menyembunyikan dan merahasiakan wahyu / risalah AlaahSWT.

Jika dilihat basis empiriknya, menurut Aswab Mahasin (1993:30), Islam dan demokrasi memang berbeda. Agama berasal dari wahyu sementara demokrasi berasal dari proses pemikiran manusia. Dengan demikian, agama memiliki tata aturannyasendiri. Namun begitu, tidak ada halangan bagi agama untuk berdampingan dengan demokrasi. Dalam perspektif Islam terdapat nilai-nilai demokrasi meliputi: syura,musawah, adalah, amanah, masuliyyah dan hurriyyahSyura merupakan suatu prinsip tentang cara pengambilan keputusan yang secara lugas ditegaskan dalam Alquran.

Misalnya saja disebut dalam QS Assyura ayat 38 dan Ali Imran ayat 159. Dalam praktik kehidupan umat Islam, lembaga yang paling dikenal sebagai pelaksana syura adalah ahl halli wa-l’aqdi pada zaman khulafaurrasyidin. Lembaga ini lebih menyerupai tim formatur yang bertugas memilih kepala negara atau khalifah (Madani, 1999: 12). Jelas bahwa musyawarah sangat diperlukan sebagai bahan pertimbangan dan tanggung jawab bersama di dalam setiap mengeluarkan sebuah keputusan. Dengan begitu, maka setiap keputusan yang dikeluarkan oleh pemerintah akan menjadi tanggung jawab bersama. Sikap musyawarah juga merupakan
bentuk dari pemberian penghargaan terhadap orang lain karena pendapat-pendapatyang disampaikan menjadi pertimbangan bersama.

Di samping itu, prinsip al-muwasah adalah kesejajaran. Artinya tidak ada pihak yang merasa lebih tinggi dari yang lain sehingga dapat memaksakan kehendaknya. Penguasa tidak bisa memaksakan kehendaknya terhadap rakyat, berlaku otoriter dan eksploitatif. Kesejajaran ini penting dalam suatu pemerintahan demi menghindari hegemoni penguasa atas rakyat. Dalam perspektif Islam, pemerintah adalah orang atau institusi yang diberi wewenang dan kepercayaan oleh rakyat melalui pemilihan yang jujur dan adil untuk melaksanakan dan menegakkan peraturan dan undang-undang yang telah dibuat. Oleh sebab itu, pemerintah memiliki tanggung jawab besar di hadapan rakyat dan Tuhan. Dengan begitu, pemerintah harus amanah, memiliki sikap dan perilaku yang dapat dipercaya, jujur dan adil.

Sebagian ulama memahami al-musawah ini sebagai resultan dari prinsip al-syura dan al-‘adalah. Di antara dalil Alquran yang sering digunakan dalam hal ini adalah surat Alhujurat ayat 13, sementara dalil sunnah-nya cukup banyak antaralain tercakup dalam khutbah wada’ dan sabda Nabi kepada keluarga Bani Hasyim
(Tolchah, 199:26).

Nilai-nilai Islam yang sejalan dengan demokrasi masih banyak. Di antaranya al-masuliyyah atau tanggung jawab. Sebagaimana kita ketahui bahwa, kekuasaan dan jabatan itu adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan, bukan alat untuk memperkaya diri dan sewenang-wenang. Maka rasa tanggung jawab bagi seorang pemimpin atau penguasa harus dipenuhi. Dan kekuasaan sebagai amanah ini mememiliki dua pengertian, yaitu amanah yang harus dipertanggungjawabkan di depan rakyat dan juga amanah yang harus dipertanggungjawabkan di depan Tuhan.

Seperti yang dikatakan oleh Ibn Taimiyah (Madani, 1999:13), bahwa penguasa merupakan wakil Tuhan dalam mengurus umat manusia dan sekaligus wakil umat manusia dalam mengatur dirinya. Dengan dihayatinya prinsip pertanggungjawaban (al-masuliyyah) ini, diharapkan masing-masing orang berusaha untuk memberikan sesuatu yang terbaik bagi masyarakat luas.

Dengan demikian, pemimpin atau penguasa tidak ditempatkan pada posisi sebagai penguasa umat, melainkan sebagai khadim al-ummah (pelayan umat). Oleh karena itu, kemaslahatan umat senantiasa harus menjadi pertimbangan dalam setiap pengambilan keputusan oleh para penguasa, bukan sebaliknya rakyat atau umat harus menghamba pada penguasa. Dengan mengulas langsung ke nilai-nilai ajaran Islam itu maka tesis Huntington dan Fukuyama yang mengatakan: ”bahwa realitas empirik masyarakat Islam tidak kompatibel dengan demokrasi” adalah tidak seluruhnya benar. Karena belum menyentuh ke subtansi ajaran Islam dan heteregonitas di dalam dunia Islam.

Seni Pengambilan Keputusan

Tinggalkan komentar

Mempertimbangkan suatu masalah dari sisi pro dan kontra, memikirkan setiap alasan, dan mencari titik temu selama tiga atau empat hari untuk mengambil keputusan merupakan kebiasaan Benjamin Franklin yang disebutnya algebra moral. Ia senang dengan kebiasaan itu karena dapat menilai dengan lebih baik dan lebih bertanggung jawab.

Benjamin Franklin adalah sosok manusia yang sangat efektif dalam berbagai fungsi, yakni bisnis, militer, politik, ilmu pengetahuan, dan diplomasi. Pada zamannya (abad XVIII), ia seorang perintis di berbagai bidang, yakni perpustakaan keliling, pemadam kebakaran, almanak, Akademi Pennsylvania (sekarang Universitas Pennsylvannia), American Philosophical Society, hingga mengetuai penulisan undang-undang di Amerika Serikat. Semakin banyak fungsi atau peran seseorang, semakin banyak ia terlibat pemecahan masalah dan pengambilan keputusan.

Hal yang perlu dicatat dari pribadi Benjamin dalam pengambilan keputusan adalah bahwa ia berhasil memilih yang tepat dan bijaksana dalam berbagai hal hingga membuahkan keberhasilan. Ia juga meninggalkan kesan menyenangkan bagi banyak orang.

Ia adalah anggota masyarakat yang sangat dikagumi banyak orang sejak masih sangat muda. Sebagai gambaran, pada usia 30 tahun ia telah terpilih sebagai warga teladan di Pennsylvania.

Bila menengok bagaimana Benjamin dalam mengambil keputusan, mungkin kita tertawa, mengapa ia butuh waktu sampai tiga atau empat hari? Masih relevankah dengan situasi sekarang?

Bila menertawakan hal itu, berarti ada juga yang dapat ditertawakan dan dipertanyakan dari diri kita. Masih bersediakah kita mempertimbangkan apa saja yang keputusannya ada di tangan kita dengan lebih bijaksana, tanpa tergesa-gesa?

Ragam masalah
Sebagai manusia dewasa, setiap hari kita dihadapkan pada situasi untuk mengambil keputusan. Mengambil keputusan menu makanan keluarga sehari-hari tentu saja tidak perlu sampai berhari-hari.

Namun, untuk mengambil keputusan mengenai nasib seseorang atau sesuatu yang penting untuk orang banyak, baik di dalam keluarga (memutuskan pembelian kendaraan, memilih pasangan, pekerjaan, atau sekolah, memecahkan masalah psikologis anak) maupun menyangkut orang lain, seperti dalam perekrutan karyawan, menyusun peraturan, menyusun program, dan lain-lain, tentu saja perlu pertimbangan matang.

Sebagai manusia dewasa, kita sering kali kelewat percaya diri (over confidence), merasa telah matang dan mengerti banyak hal, sehingga cepat yakin dengan keputusan kita sendiri. Terlebih efektivitas manusia masa kini sering kali diukur hanya dengan kecepatannya memecahkan masalah dan mengambil keputusan.

Lebih fatal lagi, ada yang menemukan kenyataan bahwa setiap keputusan yang diambilnya selalu berbuah uang sebagai upah sehingga semakin banyak keputusan yang diambil, semakin banyak uang yang mengalir ke kantong. Hal-hal semacam ini akhirnya membuahkan ketergesaan dalam memecahkan berbagai masalah dan mengambil keputusan.

Ketergesaan hanya akan melahirkan keputusan yang prematur. Ibarat seorang ibu yang melahirkan anak prematur, secara fisik ia cepat merasa ringan, tetapi akhirnya menanggung beban lain, yakni kualitas kehidupan yang berisiko kelemahan fisik dan mental pada bayi yang dilahirkan. Demikian pula pengambilan keputusan yang prematur, menghasilkan kualitas keputusan yang merugikan diri kita sendiri maupun orang lain.

Utang luar negeri Indonesia merupakan salah satu contoh besar betapa kita harus menanggung beban berat dalam jangka panjang karena keputusan berutang oleh pemerintah masa lalu. Padahal, utang itu semata-mata demi mengatasi persoalan ekonomi jangka pendek.

Di tempat kerja, mungkin jajaran pimpinan sebuah organisasi memutuskan menolak lamaran seseorang hanya karena faktor usia atau jenis kelamin. Namun, akhirnya timbul penyesalan karena lima tahun kemudian nama pelamar itu muncul di media massa karena karyanya yang penting.

Kecenderungan kerja mental
Pada saat kita mengambil keputusan dengan tidak banyak pertimbangan, terdapat beberapa kecenderungan mental kita yang bekerja secara spontan tanpa disadari. Kecenderungan tersebut ada yang positif, positif-negatif, dan ada pula yang negatif. Semuanya terbentuk karena pembiasaan sehingga muncul persoalan dalam hal ini, yaitu sejauh mana kita membiasakan kecenderungan yang positif sehingga tidak didominasi oleh hal yang negatif.

*    Positif
Intuisi merupakan salah satu hal yang positif. Intuisi adalah kemampuan mengetahui atau mengenali secara cepat dan siap akan kemungkinan yang dapat terjadi dalam situasi-situasi tertentu.

Meski demikian, harus diakui bahwa pengambilan keputusan tidak cukup bila hanya mengandalkan intuisi. Akan lebih baik bila dikombinasikan dengan pendekatan analitis dan rasional. Intuisi sangat bermanfaat terutama dalam situasi pengambilan keputusan yang berisiko atau tidak menentu.

Kreativitas juga merupakan kecenderungan yang positif. Di dalam pengambilan keputusan, kreativitas berarti pengembangan respons-respons yang unik yang berkaitan dengan masalah dan kesempatan yang ada pada saat itu. Hal ini dapat berkembang bila seseorang mengembangkan intuisi.

*    Positif-negatif
Judgmental heuristic merupakan suatu bentuk penilaian yang bersifat sederhana (mengambil jalan pintas) dalam pengambilan keputusan. Hal ini memiliki nilai positif karena mencerminkan kerja mental yang efisien. Bagaimanapun, penilaian heuristic ini dapat berakibat bias dalam penilaian sehingga menyesatkan dalam pengambilan keputusan.

Setidaknya terdapat dua jenis penilaian heuristic:
–    Availability heuristic: menilai sesuatu hanya berdasarkan pengalaman atau informasi yang tersimpan dalam ingatan penilai. Misalnya, kita memutuskan membeli produk tertentu karena informasi teman yang berpengalaman positif dengan produk tersebut, padahal belum tentu cocok dengan diri kita.
–    Representativeness heuristic: menilai sesuatu berdasarkan pada anggapan memiliki ciri yang sama dengan ciri-ciri kelompoknya. Misalnya, menerima seorang pelamar kerja hanya karena ia berasal dari almamater tertentu yang kita kenal baik. Masalahnya tidak semua output almamater tersebut dapat diandalkan kualitasnya.

*    Negatif
Kecenderungan mental yang negatif ini mencakup kecenderungan seseorang untuk mempertahankan penilaian atau keputusan sebelumnya meskipun terdapat umpan-balik yang tidak mendukung penilaian tersebut. Kecenderungan ini disebut peningkatan komitmen (escalating commitment).

Pengambil keputusan yang baik tahu kapan ia harus mengubah keputusannya, yaitu apabila ia menyadari bahwa keputusan dan komitmen yang dijalankan saat ini ternyata tidak berhasil dengan baik.

Peningkatan komitmen negatif terjadi bila: (1) umpan balik negatif diabaikan, dianggap sebagai sesuatu yang sementara; (2) pengambil keputusan melindungi ego dengan tidak mengakui bahwa keputusannya salah; (3) menggunakan keputusan yang diambil hanya untuk memberikan kesan tertentu, misalnya ingin dilihat sebagai pimpinan yang tegas (sehingga mengambil keputusan secara otoriter).

Mengembangkan yang positif
Schermerhorn, Hunt & Osborn (1995) telah mengadopsi kiat mengembangkan pengambilan keputusan intuitif-analitis. Kiat tersebut meliputi tiga tahap: teknik rileksasi, latihan mental, dan teknik analitis. Ketiganya dapat dilakukan dalam waktu yang terpisah, tetapi ketika kita benar-benar dihadapkan pada suatu masalah yang harus diputuskan pemecahannya.

*    Teknik rileksasi
–    Singkirkan masalah yang ada untuk sementara waktu.
–    Buat saat yang tenang untuk diri kita.
–    Coba untuk membersihkan pikiran (keadaan no-mind).

*    Latihan mental
–    Gunakan imajinasi untuk menuntun cara berpikir kita.
–    Biarkan ide-ide yang ada dalam pikiran mengalir tanpa dihalangi.
–    Berlatih untuk menerima keadaan yang tidak pasti (ambiguitas) dan menerima pula kekurangmampuan kita untuk mengendalikan hal itu.

*    Teknik analitis
–    Diskusikan masalah-masalah yang ada dengan orang lain yang memiliki cara pandang berbeda dengan kita.
–    Arahkan masalah yang ada pada saat kita berada pada kesiagaan penuh untuk menghadapinya.
–    Ambil jeda yang cukup sebelum membuat keputusan akhir.
Seperti Benjamin Franklin, kita dapat mengambil keputusan secara efektif, bijaksana, dan dapat diterima oleh banyak pihak. Untuk itu, selain dengan kiat di atas, kita juga harus mempertimbangkan beberapa kriteria keputusan yang etis:

*    Keputusan-keputusan diambil sedemikian rupa untuk memberikan kebaikan tidak hanya pada diri sendiri, tetapi juga pada banyak orang yang terkait.
*    Tidak melanggar hak-hak orang lain (hak bicara, privacy).
*    Mengenakan aturan yang tidak berat sebelah (adil).

Kuasai dan Kendalikan Dirimu

Tinggalkan komentar

Ada sebuah syair yang ditulis oleh penulis anonim, berjudul An Indian Prayer berbunyi demikian: ”I seek strength. Not to be greater than my brother, but to fight the greatest enemy, myself……” Syair ini saya temukan tertempel di kamar belajar seorang teman saya di Amerika Serikat dua puluh tahun yang lalu. Penyair ini telah menemukan rahasia terbesar kehidupan ini, yaitu pertempuran terus-menerus dengan dirinya sendiri.
Seseorang disebut ”kuat” ketika dia sudah menemukan cara untuk mengalahkan dan mengendalikan dirinya. Inilah hal yang kita sadari sangat kurang dalam diri kita. Mengalahkan dan mengendalikan diri, menurut JFC Fuller, seorang jenderal pada angkatan bersenjata Inggris, menunjukkan kebesaran karakter seseorang. Mengendalikan orang lain hanya menunjukkan sebagian kebaikan karakter kita. Jadi salah satu komponen yang penting dalam memperkaya kehidupan spiritual kita adalah pengendalian diri, yaitu mengalahkan musuh terbesar yaitu diri kita sendiri.
Lao Tsu, filsuf Cina, pernah mengatakan, ”Menundukkan orang lain membutuhkan tenaga. Menundukkan diri kita sendiri membutuhkan kekuatan.” Ternyata lebih mudah bagi kita untuk menundukkan orang lain daripada menundukkan diri sendiri. Seperti kita ketahui bahwa salah satu anugerah Tuhan kepada manusia adalah kesadaran diri (self awareness). Hal ini berarti kita memiliki kekuatan untuk mengendalikan diri. Kesadaran diri membuat kita dapat sepenuhnya sadar terhadap seluruh perasaan dan emosi kita. Dengan senantiasa sadar akan keberadaan diri, kita dapat mengendalikan emosi dan perasaan kita.
Namun seringkali kita ”lupa” diri, sehingga lepas kendali atas emosi, perasaan dan keberadaan diri kita. Oleh karena itu agar dapat mengendalikan dan menguasai diri, kita harus senantiasa membuka kesadaran diri kita melalui upaya memasuki alam bawah sadar (frekuensi gelombang otak yang rendah) maupun suprasadar melalui meditasi.

Dimensi Pengendalian Diri
Mengalahkan diri sendiri memiliki dua dimensi yaitu mengendalikan emosi dan disiplin. Mengendalikan emosi berarti kita mampu mengenali/memahami serta mengelola emosi kita, sedangkan kedisiplinan adalah melakukan hal-hal yang harus kita lakukan secara ajeg dan teratur dalam upaya mencapai tujuan atau sasaran kita.

a. Mengendalikan Emosi
Kecerdasan emosi merupakan tahapan yang harus dilalui seseorang sebelum mencapai kecerdasan spiritual. Seseorang dengan Emotional Quotient (EQ) yang tinggi memiliki fondasi yang kuat untuk menjadi lebih cerdas secara spiritual. Seringkali kita menganggap bahwa emosi adalah hal yang begitu saja terjadi dalam hidup kita. Kita menganggap bahwa perasaan marah, takut, sedih, senang, benci, cinta, antusias, bosan, dan sebagainya adalah akibat dari atau hanya sekedar respons kita terhadap berbagai peristiwa yang terjadi pada kita.
Menurut definisi Daniel Goleman dalam bukunya Emotional Intelligence, emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran-pikiran khasnya, suatu keadaan biologis dan psikologis, dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Sedangkan Anthony Robbins (penulis Awaken the Giant Within) menunjuk emosi sebagai sinyal untuk melakukan suatu tindakan.
Di sini dia melihat bahwa emosi bukan akibat atau sekedar respons tetapi justru sinyal untuk kita melakukan sesuatu. Jadi dalam hal ini ada unsur proaktif, yaitu kita melakukan tindakan atas dorongan emosi yang kita miliki. Bukannya kita bereaksi atau merasakan perasaan hati atau emosi karena kejadian yang terjadi pada kita.

b. Menguasai Diri dan Kedisiplinan
Kata ‘disiplin’ atau ‘self-control’ berasal dari bahasa Yunani, dari akar kata yang berarti ”menggenggam” atau ”memegang erat”. Kata ini sesungguhnya menjelaskan orang yang bersedia menggenggam hidupnya dan mengendalikan seluruh bidang kehidupan yang membawanya kepada kesuksesan atau kegagalan. John Maxwell mendefinisikan ‘disiplin’ sebagai suatu pilihan dalam hidup untuk memperoleh apa yang kita inginkan dengan melakukan apa yang tidak kita inginkan. Setelah melakukan hal yang tidak kita inginkan selama beberapa waktu (antara 30 – 90 hari), ‘disiplin’ akhirnya menjadi suatu pilihan dalam hidup untuk memperoleh apa yang kita inginkan dengan melakukan apa yang ingin kita lakukan sekarang!! Saya percaya kita bisa menjadi disiplin dan menikmatinya setelah beberapa tahun melakukannya.
Berikut saya mengutip tulisan John Maxwell tentang disiplin diri yang merupakan syarat utama bagi seorang pemimpin:
All great leaders have understood that their number one responsibility was for their own discipline and personal growth. If they could not lead themselves, they could not lead others. Leaders can never take others farther than they have gone themselves, for no one can travel without until he or she has first travel within. A leader can only grow when the leader is willing to ‘pay the price’ for it.
Dalam buku Developing the Leader Within You, John Maxwell menyatakan ada dua hal yang sangat sukar dilakukan seseorang. Pertama, melakukan hal-hal berdasarkan urutan kepentingannya (menetapkan prioritas). Kedua, secara terus-menerus melakukan hal-hal tersebut berdasarkan urutan kepentingan dengan disiplin.
Berikut beberapa hal yang perlu kita lakukan untuk meningkatkan disiplin diri:

  1. Tetapkan tujuan atau target yang ingin dicapai dalam waktu dekat.
  2. Buat urutan prioritas hal-hal yang ingin kita lakukan.
  3. Buat jadwal kegiatan secara tertulis (saya selalu menempelkan jadwal kegiatan saya di dinding depan meja kerja saya di rumah).
  4. Lakukan kegiatan sesuai dengan jadwal yang kita buat, tetapi jangan terlalu kaku. Jika perlu, kita dapat mengubah jadwal tersebut sesuai dengan kondisi dan situasi.
  5. Berusahalah untuk senantiasa disiplin dengan jadwal program kegiatan yang sudah kita susun sendiri. Sekali kita tidak disiplin atau menunda kegiatan tersebut, akan sulit bagi kita untuk kembali melakukannya.

Melalui pengendalian emosi, penguasaan diri dan kedisiplinan kita dapat lebih memahami diri kita dan bagaimana cara memanfaatkan potensi luar biasa dalam diri kita sehingga kita menjadi manusia yang lebih cerdas secara spiritual. Namun, semua ini tidak akan ada artinya jika kita tidak melakukan sesuatu. Kita harus melakukan sesuatu untuk mencapai kehidupan yang berkelimpahan dan berkualitas, karena hanya kita sendiri yang dapat mengubah kehidupan kita.

Pentingnya Pengendalian Emosi

Tinggalkan komentar

Emosi yang tak terkendali hanya akan merugikan diri sendiri. Selain menyebabkan energi Anda terkuras habis, Anda akan dicap tidak kuat  mental dan tidak dewasa. Makanya, jika Anda digelayuti berbagai masalah, cobalah jangan hanyut dalam Emosi, kendalikan diri.

Lebih baik Anda coba tenangkan diri dengan menarik nafas dalam-dalam. Dan berpikirlah lebih rileks! Emang nggak mudah sih, tapi kalau pandai mengelola dan mengendalikan emosi, Anda akan merasakan manfaatnya loh, apa aja sih..?

Orang-orang yang terlatih mengendalikan emosi umumnya tidak pernah panik dalam menghadapi situasi apapun. Hal ini tentu cukup mempengaruhi kualitas kerja Anda. Orang-orang yang mampu mengendalikan emosi, umumnya bisa menjaga kualitas kerjanya dengan baik pula. Sebaliknya, jika Anda bekerja dalam keadaan emosi yang tidak stabil, membuka peluang besar untuk melakukan kesalahan fatal.

Emosi yang terkendali dengan baik, dapat meningkatkan rasa pede Anda. Dengan emosi yang terjaga, Anda lebih mudah melakukan tugas apapun dengan lebih
baik. Dengan demikian Anda yakin apapun yang akan Anda hadapi dapat Anda selesaikan semaksimal mungkin. Hal ini secara otomatis akan menambah rasa percaya diri Anda. Dan tentu saja hal ini sangat diperlukan dalam dunia kerja bukan? Perlu Anda ketahui, emosi yang berlebihan akan menguras nyaris seluruh energi Anda, lebih dari kegiatan fisik yang Anda lakukan. Karena emosi umumnya membuat pikiran Anda meledak-ledak dan tanpa disadari membuat gerakan Anda sulit terkendali.

Nah emosi yang terkendali lebih menghemat energi Anda. Sehingga Anda tidak mudah lelah dan selalu siap dengan aktivitas sehari-hari. Hal yang sangat menguntungkan, jika Anda pandai mengelola dan mengendalikan emosi, Anda akan lebih sehat baik fisik maupun mental. Coba aja lihat, orang-orang yang sering dilanda emosi banyak dihinggapi penyakit. Selain penyakit mental seperti stres dan depresi, mereka juga dijangkiti penyakit fisik yang cukup berat seperti hipertensi, alergi, maag, migrain, dll. Nah kalau Anda terlatih mengendalikan emosi, stres dan segala macam penyakit ini akan menjauh dari kehidupan Anda. Pikiran dan fisik Anda pun lebih sehat. Lagipula kesehatan sangat penting untuk membangun karir bukan? Dengan segala keuntungan mengendalikan emosi,otomatis akan melancarkan segala aktivitas anda. Baik aktivitas pribadi maupun karir. So, mulai sekarang coba deh belajar mengendalikan emosi..! .

Older Entries

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.