Belajar Menghargai Orang Lain

Tinggalkan komentar

Minggu siang di sebuah mal. Seorang bocah lelaki berumur delapan tahun berjalan menuju ke sebuah gerai penjual es krim. Karena pendek, ia terpaksa memanjat untuk bisa “melihat” si pramusaji. Penampilannya yang lusuh sangat kontras dengan suasana ingar-bingar mal yang serba wangi dan indah.
“Mbak, sundae cream harganya berapa?” si bocah bertanya.
“Lima ribu rupiah,” yang ditanya menjawab.
Bocah itu kemudian merogoh recehan duit dari kantungnya. Ia menghitung recehan di telapak tangan dengan teliti. Sementara si pramusaji menunggu dengan raut muka tidak sabar. Maklum. banyak pembeli yang lebih “berduit” mengantri di belakang pembeli ingusan tersebut.
“Kalau plain cream berapa?”
Dengan suara ketus setengah melecehkan, si pramusaji menjawab, “Tiga ribu lima ratus.”
Lagi-lagi si bocah menghitung recehannya, “Kalau begitu saya mau sepiring plain cream saja, Mbak.” kata si bocah sambil memberikan uang sejumlah harga es yang diminta. Si pramusaji pun segera mengangsurkan sepiring plain cream.
Beberapa waktu kemudian, si pramugari membersihkan meja dan piring kotor yang sudah ditinggalkan para pembeli. Ketika mengangkat piring es krim bekas dipakai bocah itu, ia terperanjat. Di meja itu terlihat dua keping logam lima ratusan serta lima keping recehan seratusan yang tersusun rapi. Ada rasa penyesalan tersumbat di kerongkongan. Sang pramusaji tersadar, sebenarnya bocah tadi bisa membeli sundae cream. Namun, ia mengorbankan keinginan pribadi dengan maksud agar bisa memberikan tip bagi si pramusaji.
Pesan moral yang dibawa oleh anak tadi; setiap manusia di dunia ini adalah penting. Di mana pun kita wajib memperlakukan orang lain dengan sopan, bermartabat, dan penuh hormat.

Norma-norma yang berlaku pada masyarakat Indonesia

Tinggalkan komentar

Dalam pergaulanhidup di masyarakat terdapat 4 macam norma atau kaidah, yaitu:

  1. Norma agama, yaitu peraturanhidup yang diterima sebagai perintah-perintah, larangan-larangan dan anjuran-anjuran yang berasal dari Tuhan. Contoh: tidak boleh minum-minuman keras, berbuat maksiat,mengkonsumsi madat, dan lain-lain.
  2. Norma kesusilaan, yaitu peraturan hidup yang dianggapsebagai suara hati nurani manusia atau datang melalui suarabatin yang diakuidan diinsyafi oleh setiap orang sebagai pedoman dalam bersikap dan berbuat. Contoh: seorang anak durhaka terhadap orangtuanya.
  3. Norma kesopanan, yaitu peraturan hidup yang timbul dari pergaulansegolongan manusia yang diikuti dan ditaati sebagai pedoman yang mengatur tingkah laku manusia terhadap lingkungan sekitarnya (misalnya: orang muda harus menghormati yang lebih tua).
  4. Norma hukum, yaitu peraturan-peraturan yang timbul dari hukum yang dibuat oleh penguasa negara yang isinya mengikat setiap orang dan pelaksanaannya dapat dipertahankan dengan segala paksaanoleh alat-alat negara.Contoh: melakukan pencurian, pembunuhan, pemerkosaan, dan lain-lain.

Menghargai Perbedaan Pendapat

Tinggalkan komentar

Suatu kejadian perbedaan pendapat dengan rekan kerja yang terjadi pada saat bekerja telah membuat saya sedikit berfikir untuk dapat berintropeksi diri dari kesalahan, keakuan dan sedikit ego diri.

Terkadang kita sebagai manusia merasa kita yang paling benar, dan kita mungkin pernah meremehkan pendapat, atau saran dari orang, terutama dari orang yang kita anggap lebih rendah status sosialnya, Atau seorang yang baru kita kenal. Kerap ketika kita menjadi seorang pemimpin sering muncul keangkuhan pribadi dalam menerima pendapat dan kritik, dan kita meremehkan anak buahnya,
padahal sesorang disebut pemimpin jika dia memiliki anak buah. Sering juga kita mengabaikan hati nurani, dalam pengambilan keputusan, sebenarnya perbedaan pendapat adalah suatu anugrah yang patut disukuri, karena dengan perbedaan pendapat kita bisa memiliki banyak pilihan keputusan, atau alternative penyelesaian masalah.

Sering kita sakit hati ketika ide atau gagasan kita tidak diterima oleh sahabat, rekan kerja, rekan bisnis, keluarga, dan suatu hubungan interaksi social lainnya. Coba kita berfikir positif jika pendapat kita belum dipakai, mungkin pendapat orang lain lebih tepat untuk meyelesaikan permasalahan. Dengan kita bisa menerima pendapat atau pandangan orang lain, dan tidak maksakan kehendak, adalah cermin dari kedewasaan, kebijaksanaan dari seseorang, seorang yang sudah berpribadi matang, cenderung akan menghargai pendapat orang lain, dan orang yang belum dewasa akan cenderung memaksakan keakuaanya.

Saat persaingan dunia kerja, atau sebagai penunjukan keeksistensian seseorang, terkadang sesorang dengan tak mau mengalah ingin pendapatnya dihargai, dan diakui sebagai ide miliknya.Sering saya lihat karena perbedaan pendapat orang berkelahi fisik, atau saling mendendam dan berniat untuk
saling menjatuhkan. Hal tersbut kurang lah bermanfaat, yang terjadi adalah suatu kerusakan, dan sikap saling memusuhi. Seperti sifat asli bangsa Indonesia yang suka bermusyawarah untuk mufakat
yang saat ini sudah jauh ditinggalkan, dengan banyaknya pendapat berbeda juga bisa menginspirasi munculnya ide baru hasil penggabungan fisi beberapa orang yang ada.

Jadi kenapa tidak kita bergabung bersama untuk mendapat ide yang lebih baik, atau menghargai ide orang lain saat ide kita tidak diterima. Tetapi kita juga janganlah congkak ketika ide kita diterima. Mari kita saling menghargai perbedaan pendapat diantara kita. Karena manusia terdiri dari banyak pemikiran. Dan mari kita buat perbedaan menjadi hal yang menyatukan.

” Bersifat lapang dada saat ide kita tidak diterima adalah sebuah proses kematangan diri “
” Menghargai perbedaan pendapat adalah sangat bijaksana”

Mengatasi Konflik antar Teman

Tinggalkan komentar

Konflik di tempat kerja memang terkadang tidak bisa dihindari. Terdapat banyak hal yang dapat membuat perselisihan dengan teman sekantor. Untuk menghindari konflik tersebut, berikut merupakan beberapa factor yang mungkin telah menjadi titik permasalahan yang ada.

Beda Paham
Miscommunication sering menyebabkan salah paham satu sama lain karena terdapat penjelasan yang setengah-setengah, kurang jelas, dan kurang akurat. Seperti misalnya, atasan memberikan pekerjaan kepada Anda, dimana pekerjaan tersebut seharunya menjadi pekerjaan teman sekerja Anda. Kondisi tersebut dapat menimbulkan salah paham antara Anda dan teman sekerja Anda. Perbedaaan paham ini biasanya juga sering disisipi dengan pikiran negative terhadap perilaku, kata-kata, atau hal yang dilakukan oleh teman sekerja. Dengan bumbu pikiran yang negative, maka seseorang dapat menjadi benci kepada yang lain dan semakin memperuncing konflik yang terjadi.

Beda Kepribadian
Seorang partner kerja yang menyukai hal-hal detail, maka dirinya tidak akan cocok dengan dengan orang yang berlawanan. Hal ini dikarenakan karena orang yang hampir selalu detail akan cenderung mencari-cari kesalahan dan juga sering memaksakan kehendaknya kepada orang lain. Mereka juga cenderung menganggap bahwa hanya merekalah yang dapat melakukan semuanya dengan baik. Untuk mengatasi konflik yang terjadi, sebaiknya melakukan identifikasi mengenai kepribadian orang-orang yang menyebabkan konflik.

Beda Tujuan
Seseorang yang memiliki tujuan utama untuk memenuhi target jangka pendek atau target dirinya sendiri, akan cenderung melakukan berbagai cara untuk mencapainya seperti mengurangi biaya dan kualitas, dan bahkan sanggup untuk mengorbankan image perusahaan untuk mendapatkan hasil penjualan yang besar. Hal ini akan berbeda dengan orang yang berusaha memenuhi tujuan tim perusahaan, bukan dari segi angka saja namun juga segi profitnya dalam jangka panjang, seperti dengan meningkatkan dan mempertahankan kualitas produk yang bagus.

Beda Pandangan
Ada teman yang berpandangan bahwa prestasi pribadi lebih penting dari pada prestasi tim, untuk itu dirinya akan menunjukkan keunggulannya tanpa memperhatikan dampak perbuatan tersebut terhadap kinerja tim. Sedangkan rekan kerja yang lebih mementingkan kinerja tim, mungkin saja tidak terlalu memberi perhatian pada prestasi-prestasi dicapai tiap individu dalam tim. Ada anggota tim yang berpandangan bahwa pekerjaan harus dikerjakan dengan prinsip biar lambat asal sempurna. Rekan kerja ini seringkali mendapat hambatan bekerja sama dengan anggota tim lain yang berpandangan bahwa yang penting pekerjaan bisa diselesaikan dengan cepat dan tepat waktu, kekurangan bisa diperbaiki kemudian.

Ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi konflik dengan teman sekerja, seperti di bawah ini :

Saling Pengertian
Semua sikap ataupun tindakan serta keputusan yang dilakukan seseorang pasti ada alasannya. Jika bisa diketemukan alasan sebenarnya, setelah itu baru bisa memahami mengapa seseorang melakukan suatu tindakan, dimana awalnya Anda tidak mengerti alasannya. Jika sudah mengerti alasan dari sebuah tindakan, maka selanjutya dapat mencari cara untuk menyelesaikan konflik, atau bahkan dapat membantu seseorang yang dianggap pemicu konflik untuk duduk bersama menyelesaikan permasalahan.

Satukan Perbedaan
Anda bisa mencoba mengurangi perbedaan dengan bersama-sama menuju ke titik tengah. Jika masing-masing memiliki perbedaan cara pandang tetapi memiliki tujuan akhir yang sama, maka dapat berfokus bersama pada tujuan yang sama tersebut. Selanjutnya, dapat mencoba untuk menggalang koordinasi untuk semua kegiatan agar bisa diarahkan untuk mencapai tujuan yang sama.

Tenangkan Diri
Jika mereka mulai berulah, maka Anda tidak perlu merasa terusik. Jalan salah satunya adalah Anda mungkin dapat menghampiri mereka, memandang mereka dengan tegas (tanpa rasa emosi yang meluap) dan berkata dengan tenang, ”Saya menghormati pendapat anda, dan saya juga mempersilahkan Anda bekerja dengan cara yang Anda anggap baik untuk menyelesaikan bagian Anda. Tetapi, saya harap Anda juga menghormati pendapat saya, dan cara saya menyelesaikan pekerjaan saya.” Dengan kalimat ini, Anda telah menunjukan bahwa perbedaan memang ada, dan Anda menghormati perbedaan tersebut, dan berharap mereka juga bisa menghormati Anda.

Bersikap Netral
Cara lain yang bisa dilakukan untuk mengatasi konflik adalah menetralisasi sikap terhadap orang-orang yang berpotensi menjadi sumber konflik. Jika Anda tidak bisa menghindari interaksi dengan orang-orang yang mungkin bisa menyebabkan konflik, Anda masih dapat menetralisasi sikap terhadap orang-orang tersebut dengan mengabaikan kebiasaan-kebiasaan buruk mereka yang menyebalkan. Sebaliknya, Anda dapat memfokuskan perhatian pada kekuatan orang-orang tersebut dan mencari strategi untuk memanfaatkan kekuatan mereka untuk mendukung pekerjaan Anda.

Hindari Si Pemicu Konflik
Anda tidak perlu bersusah payah mengatasi rasa kesal, ataupun marah karena berurusan dengan mereka. Dengan begitu, Anda dan mereka dapat melakukan pekerjaan masing-masing tanpa harus dipusingkan dengan ketidakcocokan ataupun perbedaan-perbedaan mencolok, yang berpotensi untuk menyebabkan konflik antar teman sekerja.

Beda Paham
Miscommunication sering menyebabkan salah paham satu sama lain karena terdapat penjelasan yang setengah-setengah, kurang jelas, dan kurang akurat. Seperti misalnya, atasan memberikan pekerjaan kepada Anda, dimana pekerjaan tersebut seharunya menjadi pekerjaan teman sekerja Anda. Kondisi tersebut dapat menimbulkan salah paham antara Anda dan teman sekerja Anda. Perbedaaan paham ini biasanya juga sering disisipi dengan pikiran negative terhadap perilaku, kata-kata, atau hal yang dilakukan oleh teman sekerja. Dengan bumbu pikiran yang negative, maka seseorang dapat menjadi benci kepada yang lain dan semakin memperuncing konflik yang terjadi.

Beda Kepribadian
Seorang partner kerja yang menyukai hal-hal detail, maka dirinya tidak akan cocok dengan dengan orang yang berlawanan. Hal ini dikarenakan karena orang yang hampir selalu detail akan cenderung mencari-cari kesalahan dan juga sering memaksakan kehendaknya kepada orang lain. Mereka juga cenderung menganggap bahwa hanya merekalah yang dapat melakukan semuanya dengan baik. Untuk mengatasi konflik yang terjadi, sebaiknya melakukan identifikasi mengenai kepribadian orang-orang yang menyebabkan konflik.

Beda Tujuan
Seseorang yang memiliki tujuan utama untuk memenuhi target jangka pendek atau target dirinya sendiri, akan cenderung melakukan berbagai cara untuk mencapainya seperti mengurangi biaya dan kualitas, dan bahkan sanggup untuk mengorbankan image perusahaan untuk mendapatkan hasil penjualan yang besar. Hal ini akan berbeda dengan orang yang berusaha memenuhi tujuan tim perusahaan, bukan dari segi angka saja namun juga segi profitnya dalam jangka panjang, seperti dengan meningkatkan dan mempertahankan kualitas produk yang bagus.

Beda Pandangan
Ada teman yang berpandangan bahwa prestasi pribadi lebih penting dari pada prestasi tim, untuk itu dirinya akan menunjukkan keunggulannya tanpa memperhatikan dampak perbuatan tersebut terhadap kinerja tim. Sedangkan rekan kerja yang lebih mementingkan kinerja tim, mungkin saja tidak terlalu memberi perhatian pada prestasi-prestasi dicapai tiap individu dalam tim. Ada anggota tim yang berpandangan bahwa pekerjaan harus dikerjakan dengan prinsip biar lambat asal sempurna. Rekan kerja ini seringkali mendapat hambatan bekerja sama dengan anggota tim lain yang berpandangan bahwa yang penting pekerjaan bisa diselesaikan dengan cepat dan tepat waktu, kekurangan bisa diperbaiki kemudian.

Ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi konflik dengan teman sekerja, seperti di bawah ini :

Saling Pengertian
Semua sikap ataupun tindakan serta keputusan yang dilakukan seseorang pasti ada alasannya. Jika bisa diketemukan alasan sebenarnya, setelah itu baru bisa memahami mengapa seseorang melakukan suatu tindakan, dimana awalnya Anda tidak mengerti alasannya. Jika sudah mengerti alasan dari sebuah tindakan, maka selanjutya dapat mencari cara untuk menyelesaikan konflik, atau bahkan dapat membantu seseorang yang dianggap pemicu konflik untuk duduk bersama menyelesaikan permasalahan.

Satukan Perbedaan
Anda bisa mencoba mengurangi perbedaan dengan bersama-sama menuju ke titik tengah. Jika masing-masing memiliki perbedaan cara pandang tetapi memiliki tujuan akhir yang sama, maka dapat berfokus bersama pada tujuan yang sama tersebut. Selanjutnya, dapat mencoba untuk menggalang koordinasi untuk semua kegiatan agar bisa diarahkan untuk mencapai tujuan yang sama.

Tenangkan Diri
Jika mereka mulai berulah, maka Anda tidak perlu merasa terusik. Jalan salah satunya adalah Anda mungkin dapat menghampiri mereka, memandang mereka dengan tegas (tanpa rasa emosi yang meluap) dan berkata dengan tenang, ”Saya menghormati pendapat anda, dan saya juga mempersilahkan Anda bekerja dengan cara yang Anda anggap baik untuk menyelesaikan bagian Anda. Tetapi, saya harap Anda juga menghormati pendapat saya, dan cara saya menyelesaikan pekerjaan saya.” Dengan kalimat ini, Anda telah menunjukan bahwa perbedaan memang ada, dan Anda menghormati perbedaan tersebut, dan berharap mereka juga bisa menghormati Anda.

Bersikap Netral
Cara lain yang bisa dilakukan untuk mengatasi konflik adalah menetralisasi sikap terhadap orang-orang yang berpotensi menjadi sumber konflik. Jika Anda tidak bisa menghindari interaksi dengan orang-orang yang mungkin bisa menyebabkan konflik, Anda masih dapat menetralisasi sikap terhadap orang-orang tersebut dengan mengabaikan kebiasaan-kebiasaan buruk mereka yang menyebalkan. Sebaliknya, Anda dapat memfokuskan perhatian pada kekuatan orang-orang tersebut dan mencari strategi untuk memanfaatkan kekuatan mereka untuk mendukung pekerjaan Anda.

Hindari Si Pemicu Konflik
Anda tidak perlu bersusah payah mengatasi rasa kesal, ataupun marah karena berurusan dengan mereka. Dengan begitu, Anda dan mereka dapat melakukan pekerjaan masing-masing tanpa harus dipusingkan dengan ketidakcocokan ataupun perbedaan-perbedaan mencolok, yang berpotensi untuk menyebabkan konflik antar teman sekerja.

Menjadi “Remaja Gaul” yang Syar’i

Tinggalkan komentar

Pengertian remaja

Secara teoritis, dan empiris dari segi psikologis, rentangan usia remaja berada dalam usia 12 tahun sampai 21 tahun bagi wanita, dan 13 tahun sampi 22 tahun bagi pria. Masa remaja adalah masa “stress dan strain” (masa kegoncangan dan kebimbangan), yaitu masa puncak pencarian identitas diri. Walaupun pencarian identitas itu sudah ada sejak tahap bayi sampai tahap tua, tetapi krisis identitas itu mencapai puncaknya pada masa remaja. Ini karena masa remaja adalah masa peralihan dari tahap anak-anak menuju dewasa.

Masa yang juga ditandai dengan berkembangnya kelenjar atau hormon, termasuk organ seks. Hal ini membuat remaja sadar bahwa mereka bukan lagi anak-anak walaupun kejiwaan mereka masih belum bisa sepenuhnya meninggalkan kekanak-kanakannya. Pada masa ini remaja juga mulai dapat mengerti tentang pengertian-pengertian agama, seperti pengetahuan tentang Alloh, tentang surga, tentang neraka, dan nilai-nilai dien yang lain, sehingga apabila sejak kanak-kanak orang tua telah membiasakan anak untuk mengenal Alloh dan juga nilai-nilai dien yang lain, maka ketika anak menjadi remaja, dia tinggal meneruskan kebiasaan berdien-nya sejak kecil, tetapi dengan pemahaman yang baru sesuai dengan perkembangan umurnya.

Akhlak remaja

Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasul saw. bersabda :

كل مولود يولد على الفطرة وإنّما أبواه يهوّدانه أو ينصّرانه أو يمجّسانه

“Setiap anak itu dilahirkan menurut fitrahnya, dan kedua orangtuanyalah yang akan menjadikannya seorang Yahudi, Nashrani, atau Majusi”

Sigmind Freud, seorang pakar Psikologi mengatakan bahwa struktur dasar kepribadian sudah terbentuk pada usia lima tahun, dan perkembangan kepribadian sesudah usia lima tahun sebagian besar hanya merupakan pengembangan dari struktur dasar tadi.

Kedua hal tersebut menunjukkan, bahwa sikap dan gaya kepengasuhan orang tua di rumah pada lima tahun awal kehidupannya, sangat menentukan sifat anak hingga dia dewasa kelak, walaupun tentu saja tidak bersifat mutlak. Orang tua yang keras kepada anak, akan menumbuhkan anak yang keras juga. Orang tua yang tidak mengajarkan disiplin, akan memunculkan sifat ketidakaturan pada anak, bahkan destruktif. Sebaliknya bila orang tua mendidik dan mendisiplinkan anak dengan kasih sayang, anak akan tumbuh menjadi anak yang kreatif dan produktif. Tetapi sifat atau akhlak, seperti banyak hal di dunia ini adalah sesuatu yang bisa dipelajari dan dibiasakan, bisa diubah atau dibentuk. Kebiasaan baik yang ditanamkan orang tua kepada anak sejak kecil, bisa saja ketika anak tumbuh menjadi remaja akan luntur dan kalah dengan perngaruh-pengaruh dari luar rumah, misalnya pengaruh pergaulan, juga kecanggihan tehnologi informasi seperti TV, internet juga telpon seluler. Demikian pula sebaliknya, ada anak yang lahir dan tumbuh dengan pemahaman dien yang minim, tetapi pergaulan di luar rumah atau pendidikan dapat mengantarkannya pada pemahaman dien yang benar, sehingga anak tersebut menjelma menjadi remaja yang syari’ (mematuhi syariat Islam)

Inilah kemudian, yang membuat komunikasi antar orang tua dan anak menjadi penting, saat anak memasuki usia remaja, agar orang tua dapat mengetahui gejolak jiwa remajanya, untuk kemudian mengarahkannya kepada jalan syariat…..Dan yang tidak kalah penting adalah doa, karena hanya Allohlah yang berhak untuk memberikan hidayah kepada seseorang, ataupun menyesatkannya.

Akhlak bisa dibentuk

Menjadi remaja yang gaul adalah hal yang diimpikan hampir oleh semua remaja. Remaja gaul identik dengan remaja cerdas, terkenal dan percaya diri. Siapa yang tidak ingin? Itulah kenapa para remaja banyak mengidolakan para artis yang di layar kaca terkesan cantik/ganteng dan percaya diri. Karena remaja-remaja mengidolakan para artis, merekapun terdorong untuk mengikuti gaya dan pola hidup artis-artis yang mereka idolakan itu. Mulai dari busana, gaya bicara, bahkan prinsip dan gaya hidup. Lalu bagaimana dengan remaja Islam? Bukankah remaja Islam adalah seorang remaja yang juga ingin menjadi sosok yang percaya diri?

Alloh swt. berfirman dalam surat Ali Imron ayat 110

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ …الآية)

“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Alloh……”

Bagaimana seorang remaja Islam merasa tidak percaya diri, padahal Alloh telah menyebutnya sebaik-baik umat? Bila kita tengok sejarah, betapa tinggi kepercayaan diri Rasul ketika harus mengemban amanat dakwah. Sendirian….betapa percaya diri Ja’far Bin Abi Thalib ketika dia harus berhadapan dengan Raja Habsyi, padahal statusnya sebagai pendatang…..Betapa percaya diri Amr Bin Ash ketika dia memasuki benteng Babilonia atas undangan Kaisar Romawi untuk bernegoisasi….Betapa berani dan percaya diri, Rasul dan para sahabat, ketika harus berperang melawan orang kafir yang jumlahnya jauh lebih banyak dari jumlah pasukan mereka….

Dan menjadi remaja yang percaya diri memang harus gaul….Bagaimana bisa beramar makruf dan nahi munkar, kalau tidak gaul? Bagaimana kalau dari “sono” nya memang nggak gaul? pendiam, atau bahkan pemarah? Sifat dan akhlak bisa dibentuk. Sesuatu yang dibiasakan akan menetap dan menjadi sifat seseorang. Seorang remaja bisa membiasakan diri bergaul dengan semua temannya tanpa pilih-pilih. Minimal murah senyum.

Sabda Nabi : تبسمك لأخيك صدقة

“Senyummu untuk saudaramu adalah sedekah.”

Jadi, tidak ada alasan untuk tidak menjadi remaja gaul. Gaul dengan teman-teman, gaul dengan guru, gaul dengan saudara-saudara, gaul dengan tetangga….agar remaja bisa beramar makruf nahi munkar, untuk meraih gelar dari Alloh sebagai sebaik-baik umat.

Dan menjadi gaul yang diridhai Alloh tentu saja gaul yang tidak menyalahi Syari’at Islam, seperti bergaul dengan lawan jenis yang bukan mahramnya bahkan dengan alasan dakwah sekalipun….

Alloh berfirman :

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ……(الآية)

“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kehormatannya…..(QS An Nur : 30)

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ…….(الآية)

“Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kehormatannya………..(QS An Nur : 31

Gangguan Makan Ancam Remaja Putri

Tinggalkan komentar

MENJADI langsing adalah dambaan kebanyakan kaum hawa. Tak ayal, sebagian dari mereka menjadi kebingungan bila lengan, perut, atau paha sudah tampak gelambir lemak. Apalagi, kegemukan juga identik dengan masalah kesehatan.

Sebaliknya, orang langsing dinilai lebih cantik, menarik dilihat, bahkan juga dianggap lebih sehat. Alhasil, banyak orang yang menjadwalkan diet dalam kesehariannya demi memiliki bentuk tubuh langsing. Ada orang yang mau menjalankan diet dengan perlahan, ada juga orang yang ingin kurus dengan cara instan.

Cuma, tak sedikit orang yang salah kaprah tentang diet. Mereka menganggap makan adalah biang kerok kegemukan. Untuk mengurangi berat badan, mereka lantas mengurangi asupan makanan secara drastis. Untuk mengurangi berat badan, mereka mengurangi asupan makanan dengan drastis. Padahal, sebenarnya diet adalah mengelola asupan kalori yang kita konsumsi

Cara mengurangi asupan makanan yang sekarang ini banyak menggejala adalah dengan puasa berlebihan atau dengan memuntahkan makanan yang sudah dimakan. Jika di sekitar Anda ada yang melakukan ini dalam pola makannya, “Bisa dicurigai mereka mengalami gangguan pola makan atau eating disorder,” ujar guru besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Sarlito Wirawan Sarwono.

Maklum, kian lama penderita gangguan pola makan seperti ini kian banyak. Menurut hasil penelitian Institut Robert Koch pada tahun 2008, setiap lima dari warga negara di Eropa yang berusia antara 11 sampai dengan 17 tahun memperlihatkan gejala-gejala terjadi gangguan pola makan mereka.

Mengincar remaja putri
Sependapat, Sarlito bilang, remaja putri memang lebih rentan mengalami eating disorder jika dibandingkan dengan wanita usia dewasa atau bahkan dengan pria. “Karena di kalangan mereka, imaji perempuan cantik itu harus langsing,” kata Sarlito.

Ada dua jenis gangguan pola makan yang cukup terkenal, yaitu anoreksia nervosa dan bulimia. Anoreksia adalah menahan makanan masuk ke dalam tubuh karena takut kenyang lalu gemuk. Penderita anoreksia biasanya tidak mau makan, meskipun lapar dan nafsu makannya tidak terganggu. Jika makan, mereka biasanya mengasup sedikit saja.

Bulimia memiliki ciri berbeda. Penderita bulimia biasanya memuntahkan kembali makanan yang telah ditelannya dengan cara mengorek kerongkongan dan merangsang-mual. Mereka juga kerap menggunakan obat pencahar untuk mengeluarkan makanan dari tubuh sesegera mungkin.

Berat badan penderita eating disorder biasanya sangat ringan, bahkan sampai di bawah normal. Selain kurus, penderita eating disorder juga terlihat memiliki rambut dan kuku tipis, serta kulit yang kering.

Sarlito menilai, biasanya orang menderita anoreksia dan bulimia lebih disebabkan oleh faktor psikologis. Mereka tidak percaya diri dengan keadaan tubuhnya. Celakanya, mereka kerap menyangkal sedang terkena gangguan.

“Tapi, mereka akan terus menolak makanan meskipun tubuh mereka telah menjadi sangat kurus,” ujar dia. Untuk menghentikannya, penderita harus dibawa ke psikiater dan dikombinasikan dengan penanganan medis. Dorongan dari keluarga dan teman juga dibutuhkan untuk meningkatkan kepercayaan diri lagi.

Namun, Suhanto Kasmali, Kepala Bidang Pelayanan Medik Rumahsakit Dharmais, Jakarta Timur, menambahkan bahwa berat badan yang menurun secara drastis bisa juga karena kelainan fungsi organ tubuh atau adanya infeksi dalam tubuh.

“Ini juga bisa menyebabkan anoreksia,” ujar dia. Untuk itu, “Mereka harus segera dibawa ke rumahsakit agar diketahui  penyebabnya.

Jarang mau berobat, pilih bunuh diri
Selama paradigma cantik identik dengan langsing tak memudar, maka penderita anoreksia dan bulimia juga akan terus bertambah. Begitu salah satu kesimpulan penelitian Royal College of Psychiatrists di Inggris.

Sepanjang tahun 2009 lalu, penelitian tersebut menyebutkan kalau perempuan lebih sering terkena gangguan pola makan dibandingkan dengan pria. Dalam penelitian disebutkan: tubuh dari 1.000 wanita menderita gangguan pola makan.

Sedangkan pada pria hanya satu dari 1.000 pria menderita gangguan ini. Ini juga diperkuat hitung-hitungan Eating Disorder Association, yaitu; sebanyak 1,15 juta penduduk Inggris menderita gangguan pola makan sepanjang 2009.

Sayangnya, hanya sekitar 60.000 sampai 90.000 saja yang menjalani pemulihan dan pengobatan. Bahkan, dalam sebuah penelitian pasien penyimpanan cara makan di Amerika Serikat, sebesar 15% penderita anoreksia meninggal karena bunuh diri, infeksi, masalah pencernaan, dan malnutrisi alias kekurangan nutrisi.

Etika Bergaul Seorang Muslimah

Tinggalkan komentar

Bukan dari tulang ubun ia diciptakan sehingga lupa akan pujian, bukan juga dari tulang kaki karena khawatir akan diinjak dan direndahkan. Melainkan ia diciptakan dari tulang rusuk, dekat dengan dada untuk dilindungi dan dekat dengan hati untuk dicintai.

Akhwat beda dengan ikhwan. Dalam menjalankan aktivitas pun sangat berbeda. Tapi hukum syara’ memandang sejajar antara ikhwan dan akhwat. “Dan Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan,” (QS Al Isra ; 70)

Karena saya akhwat, pastinya saya akan membahas aktivitas akhwat batasannya seperti apa saja. Kadang, jika saya melihat dan menilai, secara tidak sengaja telah terjadi pelanggaran hukum syara’. Biasanya, di kalangan akhwat terjadi pelanggaran hukum syara’ dalam konteks ijtima’l atau pergaualan dengan lawan jenis. karena mereka belum memahami aktivitas mana saja yang termasuk hayatul khas dan hayatul ‘aam. Di kalangan ikhwan pun terkadang ada pelanggaran hukum syara’ karena sikap yang kurang tegas dan kurang mengetahui batasan aktivitas akhwat itu seperti apa saja, dalam konteks hubungan demi maslahat masing-masing yang sesuai dengan hukum syara’ dan selanjutnya karena godaan Syetan..

Apa yang akan saya paparkan adalah aktivitas akhwat dalam konteks hubungan interpersonal dengan ikhwan / ijtima’I:

1.Hayatul ‘Aam

Hayatul ‘aam atau kehidupan umum bagi akhwat adalah seputar kehidupan yang menyangkut perkara pendidikan, mu’amalah, kesehatan. Hayatul ‘aam, bagi akhwat, maknanya bahwa ia boleh bercerita tentang ketiga perkara tadi, selebihnya tidak boleh karena sudah menyangkut hayatul khas..

Bagi ikhwan manapun hanya cukup untuk mengetahui ”hayatul ’aam” kehidupan umum-nya saja, seperti contoh diatas ; pendidikan, tempat tinggal, hobi, aktivitas di lembaga dll. Sedangkan hayatul khas, sudah sangat privasi sekali yang menyangkut kehidupan pribadi (keadaan keluarga, keadaan dirinya) di luar itu konteksnya sudah hayatul khas.

Bagi akhwat tidak boleh menceritakan hal-hal pribadi pada ajnaby (orang asing). Akhwat boleh menceritakan hal-hal terkait pribadinya jika ia telah dikhitbah untuk lanjut ke jenjang pernikahan.

Dan ketika berinteraksi dengan lawan jenis akhwat diharapkan bertindak dan berbicara seperlunya saja, tegas dan jelas. Dalam aktivitas yang berkaitan dengan lawan jenis, seorang akhwat seringkali mudah melakukan pelanggaran. Mungkin karena secara psikologis akhwat memiliki karater ingin diperhatikan atau malah kadang cari perhatian agar bisa berinteraksi dengan lawan jenis, apalagi kalau sudah menyangkut “masalah hati.”

Tapi berinteraksi dengan ikhwan dalam konteks mendiskusikan ilmu, menurut saya ini dibolehkan, tapi, ada beberapa hal kita sendiri bisa menjaminnya sesuai dengan perkataan Rasulullah Saw, “Jika kalian tidak memiliki rasa malu maka bertindaklah sesuka kalian.”

Yang dimaksud hal-hal yang kita harus bisa menjaminnya adalah kemungkinan timbulnya fitnah. Mungkin kita bisa berdalih dengan mengatakan “Saya dengan dia cuma teman, hanya sebatas sharing ilmu.” Tapi saya berpendapat sebaiknya dicari “aman” nya saja, karena fitnah itu diibaratkan mencemarkan dan menjatuhkan kehormatan seorang akhwat dan manjaga ’iffah / kehormatan itu wajib hukumnya.

Mubah hukumnya untuk berinteraksi dengan ikhwan dalam masalah ilmu, kareka khawatir seorang akhwat akan menceritakan sesuatu yang masuk dalam wilayah khas, sehingga yang mubah menjerumuskan ke haram.

Bagaimana dengan diskusi di forum internet atau milis? Menurut saya, dalam wilayah ini sifatnya lebih ‘aam karena diketahui banyak orang pembahasannya pun seputar perkara yang dibolehkan. Dalam hal ini saya ingin mengutip perkataan Abu Bakar, “Berhati-hatilah dalam bertindak karena dari hati-hati tadi memberikan manfaat bagimu.”

2.Hayatul khas

Hayatul khas atau kehidupan khusus adalah perkara seputar pribadi dan ini hanya boleh di ketahui oleh keluarga ‘mahram’ dan sesama kaum perempuan dalam lingkungan kita. Contohnya, menceritakan keadaan dirinya dan keluarganya, target hidup, target dakwah dll. secara detil, kecuali seorang akhwat sudah dikhitbah.

Seorang ikhwan yang faham akan apa arti kehormatan bagi seorang akhwat pasti maklum atas sikap tegasn seorang akhwat dan tidak dimaknai sebagai sikap jaim (jaga image) atau jutek, terlalu saklek atau apalah namanya. Tegas bukan berarti memaksa agar pandangannya di terima atau egois tapi demi menjaga kehormatan.

Intinya, dalam hal ini sangat dibutuhkan ketegasan dari masing-masing pihak, baik maupun akhwat untuk menjaga ‘iffahnya masing-masing. Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya perkara halal itu jelas, dan perkara haram itu jelas; serta di antara keduanya terdapat perkara mutasyabihat yang kebanyakan orang tidak mengetahuinya. Barangsiapa yang menjauhi syubhat, sungguh ia telah terbebas dari dosa, dalam agama dan kehormatannya. sebaliknya, siapa yang terjerumus pada perkara syubhat berarti ia telah terjerumus dalam perkara haram,” (HR. Imam Bukhari, Muslim dan ashabun Sunan)

Rabbanaghfirlanaa dzunuubanaa isyraafanaa fii amrina. Wallahu’alam.

Tips Hidup Hemat

Tinggalkan komentar

Merasakan hidup sendiri jauh dari orang tua dan sanak saudara, apalagi hidup ditengah2 komunitas lain dengan corak budaya, bahasa dan etnis yang berbeda tentunya sangat tidak nyaman, tetapi itu adalah sebuah risiko dari seorang perantau. Jika ditanah air tinggal dengan orang tua, segalanya sudah terpenuhi, mau makan tinggal bilang ke emak… lapeer, gak ada duit tinggal minta, trus ngabur alias ngeluyur. Beberapa tahun yang lalu saya berusaha memutuskan ketergantungan finansial saya dengan orang tua. Mulai saat itu saya mandiri, sehingga saya merasakan sekali bahwa cari duit itu sulitnya bukan main, jadi teringat betapa megabesar jasa bapak yang telah banting tulang mencari nafkah untuk kebutuhan sandang, pangan dan papan kami sekeluarga, tentunya budi baik orang tua tak dapat kita balas, hanya yang bisa dilakukan adalah meringankan bebannya, mendoakannya, berusaha hidup mandiri adalah salah satunya.

Berbicara masalah kemandirian, tentunya seorang manusia harus memiliki bekal hidup awal yakni skill/keterampilan dan ilmu pengetahuan, ketika manusia telah memiliki bekal tersebut diatas maka dimanapun orang tinggal maka dia akan sanggup menghidupi dirinya bahkan termasuk orang2 sekelilingnya. Orang yang telah mandiri akan berusaha untuk meng-upgrade kualitas hidupnya, ini merupakan sebuah kecendrungan yang natural/sunatullah, bahwa manusia suka akan keindahan, kendaraan yang bagus, rumah yang megah dan pasangan hidup yang cantik. Namun untuk mencapai tujuan dunia tersebut manusia pasti akan dihadapkan oleh masalah2 yang suatu saat kesulitan hidup akan menempa seseorang menjadi seorang yang sabar dan bijaksana.

Saya sedang megalami masa2 sulit itu, semangat yang turun grastis, kondisi finansial yang paspasan sehingga menuntuk kita pandai-pandai memutar otak bagaimana kita bisa melewati kesulitan2 hidup tersebut. Nah.. tip2 dibawah ini adalah sebahagian dari 1001 macam tips hidup hemat.

  1. Makan ala kadarnya, mengapa? karena makan adalah salah satu pengeluaran terbesar dari penghasilan kita. Tapi ingat bukan makan asal2an, tetap menuntut 4 sehat 5 sempurna. Memasak dirumah merupakan upaya penghematan karena jika kita keseringan makan diluar tentunya akan 2-3 kali membobok anggaran belanja rumah kita ( kalau perlu Nyambel bawang aja cukup ).
  2. Kurangi cuci mata, hehehhe(kanggo sik bujang ) maksudnya window shopping. Karena keseringan WS ini akan berakibat kita lebih mudah membelanjakan penghasilan kita untuk barang baru. Padahal barang2 yang ada dirumah masih berfungsi dengan baik.
  3. Gunakan kendaraan umum, oooo wes mestilah, paling enak naik sepeda, kalo cuma sekedar keliling2 kota mah gak perlu naik bis, sepeda adalah kendaraan dengan mobilitas tinggi, sekalian berolahraga.( Bike 2 Work )
  4. Gunakan lampu dengan sensor cahaya, ini sebuah terobosan dalam dunia teknologi sensor. Lampu akan menyala jika ada orang disekitar lampu tersebut, sehingga jika tak ada orang otomatis lampu mati ini akan menghemat biaya pemakaian listrik. Tapi kalo rumah gelap ya maling siap2 pakai lilin aja.
  5. Kurangin telfon dan ber SMS ria. Gunakan telfon untuk hal2 yang penting saja, jika kangen telfon saja beberapa waktu sehingga bisa menghemat pengeluaran. telfon nyari yang gratis saja.
  6. Jika bisa memasak untuk 3 kali makan, lakukanlah. Kurangi memasak lebih dari 1 kali, sehingga dapat mengirit bahan bakar memasak/minyak goreng, gas, listrik, minyak tanah.
  7. Gunakan barang2 selama masih berfungsi dengan baik, rawat barang2 tersebut sehingga tidak rusak sebelum waktunya.
  8. Berolahraga yang cukup menghindari kita mengeluarkan orngkos untuk membayar dokter dan obat, karena kita selalu menjaga kesehatan.( lari pagi,sepeda,dll )
  9. Berusahalah untuk berlibur tidak terlalu jauh dari rumah anda, berlibur tidak harus menyewa dengan menginap 1 minggu, hidup kan liburan anda dengan mengunjungi orang tua handai taulan kerabat, sahabat anda atau sekedar menyapa tetangga anda.

Hemat atau Kikir

Tinggalkan komentar

Apa perbedaan hemat dengan kikir? Dalam Tesaurus Bahasa Indonesia (Eko Endarmoko, tahun 2007) sinonim dari hemat : cermat, ekonomis, irit. Sedangkan, kikir mempunyai sinonim pelit, medit, bakhil. Jelas ada perbedaan antara keduanya, tetapi dalam kehidupan sehari-hari banyak orang yang salah kaprah plus keliru menerapkan kedua kata sifat ini. Maksud hati ingin berhemat tapi malah jadi pelit lantaran terlalu hemat. Sementara yang sudah medit sejak lahir selalu berkelit – ketika diejek pelit – dengan mengatakan kalau dirinya irit, bukan pelit.

Apalagi di zaman krisis begini, semua orang harus bijak mengatur pengeluarannya. Jangan sampai lebih besar pasak daripada tiang. Maka, semakin bertambahlah orang-orang yang berhemat dan tak jarang menjadi pelit bukan main. Seperti yang terjadi pada seorang teman saya.

Sebagai seseorang yang pernah hidup berkekurangan, teman saya itu memang sangat pandai mengatur pengeluarannya. Namun, setelah usahanya berkembang pesat, sifat ekonomisnya justru menjelma menjadi pelit luar biasa. Tak pandang bulu, sahabat karib atau teman biasa, semua kena dampak sifat kikirnya. Aneh! Makin kaya makin pelit. Barangkali dia berpikir : Hemat pangkal kaya. Kekayaannya akan bertambah kalau hidup sangat amat hemat. Awalnya – meskipun kaget – saya mencoba memaklumi dirinya. Namun, lambat laun saya mulai merasa jengkel karena meditnya sudah melebihi ambang batas.

Suatu ketika saya nitip fotocopy seberkas dokumen dengan biaya fotocopy seluruhnya Rp.7.000,- Saya sudah tahu biaya fotocopy itu dan berjanji akan membayarnya pada saat kami bertemu nanti. Keesokannya – setelah dokumen tersebut dicopy olehnya – telpon di rumah berdering. Ternyata teman saya yang menelpon dan kebetulan yang mengangkat adalah ibu saya. Saat itu saya sedang ke mal dengan adik saya. Begitu tahu, saya tidak ada di rumah, dia pun berpesan pada ibu saya :

“Tante, titip pesan ya buat Fanny, dokumennya sudah dicopy. Biaya copynya Rp.7.000,-, ”

Alamak! Apakah perlu menyebutkan biaya fotocopynya pada ibu saya? Bukankah saya sudah tahu biayanya? Kayak takut nggak dibayar saja. Kalau biayanya mencapai ratusan ribu rupiah masih masuk akal jika dia takut tidak dibayar. Tapi, TUJUH RIBU RUPIAH….Oh, my God! Ibu saya geleng-geleng kepala. Sementara saya tersenyum pahit.

Well, mungkin boleh dibilang saya saja yang terlalu peka. Siapa tahu dia berpesan begitu tanpa berpikir macam-macam, apalagi sampai merasa takut nggak dibayar. Mungkin dia keceplosan. Tapi bagaimana dengan kejadian berikutnya.

Suatu hari, teman saya ini ingin membeli roti abon di sebuah mal, dan dia bertanya pada saya apakah mau nitip. Mengingat saya malas antri hanya untuk beberapa potong roti abon yang saat itu sedang ngetrend, saya langsung mengangguk setuju. Tapi, pada saat saya memberikan uang pembelian roti, teman saya berkata :

“Duit elo masih sisa Rp. 2.500,-. Gak usah dikembaliin ya? Buat bayar parkir mobil gue aja. ”

Ya, ampuuun! Rp. 2.500,- gitu lho! Tanpa dimintapun, saya tidak akan menagih uang kembaliannya.

Padahal kalau saya mau ikut berhitung, entah berapa banyak pertolongan materiil dan immateriil yang saya berikan padanya. Saya selalu jadi pendengar setia curhat-curhatnya. Saya pernah memberikan order besar kepadanya dan tak pernah minta komisi. Kalau ke luar negeri pun, saya selalu membelikan oleh-oleh. Meski tak selalu mahal tapi yang penting perhatian dan ketulusan dalam memberi. Saya juga sering meminjamkan novel-novel saya. Tentu saja tanpa dipungut biaya sepeserpun.

Tapi, kok dia perhitungan banget sama saya? Saya tidak pernah berharap dia membalas semua pertolongan dan kebaikan – kalau memang layak disebut kebaikan – yang pernah saya berikan karena yang namanya persahabatan tentu harus tulus. Tidak menghitung untung rugi. Tidak melihat apa yang bisa dia berikan. Saya lantas bertanya dalam hati : apakah arti persahabatan kami selama ini jika segala sesuatu dikalkulasi? Atau, mungkin persepsi kami – tentang definisi Hemat – memang berbeda.

Mungkin bagi teman saya, Hemat berarti segala sesuatu diperhitungkan sampai nilai terkecil. Tak peduli dengan siapapun dia berhadapan. Sementara menurut saya, Hemat berarti bisa mengendalikan diri dalam menggunakan uang yang kita miliki. Tidak jor-joran beli barang – yang tidak kita butuhkan – hanya karena ada sale besar-besaran.

Well, setiap orang boleh saja punya persepsi berbeda. Namun sebelum terlanjur menjadi kikir lantaran terlalu hemat, coba tanyakan pada diri sendiri : apakah dengan menghemat uang Rp.2.500,- akan membuat kita kaya raya? Apalagi, jika penghematan tersebut sifatnya incidental (seperti kasus nitip beli roti) dan bukan dalam rangka transaksi bisnis.

Akh, sudahlah….Saya tidak mau membesar-besarkan masalah. Saya mencoba menerima kekurangannya yang satu ini dan tetap berteman baik dengannya. Hanya saja, saya jadi waspada kalau sudah ngomong soal duit dengannya.

“Hemat Bukan Pelit”

Tinggalkan komentar

Setahun yang lalu saya pernah diundang sebagai nara sumber sebuah acara menyambut bulan Ramadhan, yang bertajuk “Indahnya Puasa” oleh sebuah stasiun televisi (TV) swasta yang tergolong masih baru (masih siaran percobaan) namun menurut saya cukup prospektif, yaitu Televisi Nusantara (TVN) yang Production House (PH) nya berlokasi di Cikarang, Jawa Barat.

Mungkin anda berpikir kok jauh sekali yach PH-nya? Padahal kantor pusatnya ada dikawasan sentra bisnis ternama di Jl. Rasuna Said, Kuningan, Jakarta. Sebenarnya bukanlah hal yang aneh mengapa Cikarang yang dipilih oleh TVN sebagai salah satu markas mereka.

Hal ini tentunya terkait dengan rencana pemerintah yang akan menjadikan kawasan Cikarang, tepatnya di Jababeka II, sebagai “The first one stop film and TV industry centre in Indonesia” atau nantinya akan lebih dikenal dengan sebutan “Hollywood-nya Indonesia” (informasi lebih lengkapnya bisa anda lihat pada link diatas, yaitu saat saya menghadiri launching acara tersebut).

Acara tersebut tayang sambil menunggu Adzan Maghrib terjelang. Bersama komedian senior, mas Unang, selebritis cantik dan tersohor, mba Devi Permatasari), dan jebolan Akademi Pelawak Indonesia (API) Ragil (Indra) yang kocak abis serta dengan di iringi oleh “Simple Band” yang saat ini (mungkin) sudah hampir menelorkan dua album sebagai guest star-nya, menjadikan acara tersebut semakin hidup dan penuh warna.

Dikemas dalam sebuah tema acara yang menarik (menurut saya), yaitu “Hemat Bukan Pelit”, menjadikan tayangan pada episode tersebut menjadi lebih bermakna, dimana kita bisa belajar “sesuatu” hal yang positif, sambil menunggu waktu “ngabuburit” serta menanti suara bedug maghrib mulai berkumandang yang menandai saatnya berbuka puasa.

Sekilas, sebagian orang awam mungkin berpendapat bahwa orang hemat itu sama dengan pelit, tidak keliru memang, karena mereka hanya melihat dalam satu sudut pandang yaitu “efisien dalam mengeluarkan uang”, namun jika kita kaji lebih mendalam ternyata hemat itu sama sekali berbeda dengan pelit, mengapa demikian? berikut ini adalah analogi yang dapat saya sampaikan:

Pelit:

  • Saat kita memiliki kesempatan untuk menggunakan berbagai macam alternatif transportasi umum (misalnya: taxi, busway, bajaj, ojek motor, mikrolet, dsb) untuk pergi kesebuah lokasi, kita akan memilih transportasi umum yang paling sedikit mengeluarkan biaya (misalnya: mikrolet), tanpa mempertimbangkan aspek kebutuhan serta manfaat yang akan kita terima dari pilihan kita tersebut.
  • Seorang yang pelit, berusaha untuk tidak mengeluarkan uang, meskipun untuk diri sendiri, apalagi jika harus mengeluarkan uang untuk kepentingan orang lain (sering disebut sebagai orang yang kikir).

Hemat:

  • Saat kita memiliki kesempatan untuk menggunakan berbagai macam alternatif transportasi umum (misalnya: taxi, busway, bajaj, ojek motor, mikrolet, dsb) untuk pergi kesebuah lokasi, kita akan memilih transportasi umum yang paling sedikit mengeluarkan biaya (misalnya: mikrolet), namun tetap dengan mempertimbangkan aspek kebutuhan serta manfaat yang akan kita terima dari pilihan kita tersebut (proporsional)
  • Seorang yang hemat, mungkin saja akan memilih naik taxi ketimbang mikrolet, jikalau dirasakan ada faktor-faktor tertentu (dengan menggunakan logika) yang jika dengan menggunakan taxi manfaat yang di dapatkan sesuai dengan tingkat kebutuhannya pada saat itu (misalnya: harus menghadiri undangan pejabat, terkait dengan kenaikan pangkat-nya).
  • Seorang yang hemat, rela mengeluarkan uang Rp. 1.000.000 untuk memenuhi kebutuhan sesuai dengan manfaat yang di inginkannya, namun ia tidak akan rela mengeluarkan uang, meskipun hanya Rp. 1.000 untuk sesuatu hal yang sama sekali tidak dibutuhkan.

Berdasarkan analogi yang saya sampaikan tersebut, bisa disimpulkan bahwa definisi hemat dan pelit kurang lebih adalah sebagai berikut:

Pelit:

  • Tidak ada pengeluaran untuk orang lain, apalagi jika dirasa pengeluaran yang dilakukan tidak akan mendatangkan manfaat baginya (bersifat egosentris).
  • Orang pelit cenderung sombong, karena sifat dasarnya yang sangat egosentris tadi, mementingkan diri sendiri, tidak pernah memikirkan bagaimana nasib orang lain meskipun bisa membantu.
  • Jika menggunakan sesuatu (listrik, air, dsb) dipakai sesedikit mungkin, tanpa mempertimbangkan aspek lainnya (logika berpikir).
  • Salah satu ciri orang yang pelit adalah tidak memiliki teman, karena biasanya mereka sangat khawatir dimintai pinjaman uang oleh temannya tersebut.

Hemat:

  • Menggunakan sesuatu (uang) dengan cermat dan berhati-hati agar tidak lekas habis.
  • Tidak ada pengeluaran untuk hal-hal yang tidak sedang dibutuhkan, bisa menempatkan setiap pengeluaran sesuai dengan porsinya (proforsional).
  • Hemat merupakan sikap dasar yang dalam memanfaatkan sesuatu akan dilakukan secara efektif dan efisien.
  • Jika menggunakan sesuatu (listrik, air, dsb) dipakai seperlunya (sesuai dengan kebutuhan), karena biasa berpikir dengan menggunakan logika
  • Salah satu ciri orang yang hemat adalah sudah memiliki tabungan

Sementara itu jika kita coba mengkaji lebih dalam lagi, HEMAT menurut ALQUR’AN adalah sebagaimana sudah disampaikan melalui Surat Al-Furqan, ayat ke 67, yang mengatakan sebagai berikut:: “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.”.

Sedangkan HEMAT menurut HADITS, adalah sebagaimana disampaikan melalui HR. Ahmad yang menyatakan sebagai berikut: “Allah akan memberikan rahmat kepada seseorang yang berusaha dari yang baik, membelanjakan dengan pertengahan, dan dapat menyisihkan kelebihan untuk menjaga pada hari dia miskin dan membutuhkannya. Dan “Tidak akan miskin orang yang bersikap pertengahan dalam pengeluaran.”

Salah seorang sastrawan ternama di Indonesia, Buya Hamka (Alm.), juga pernah melakukan pendefinisian terhadap HEMAT dan PELIT, yaitu sebagaimana disampaikan sebagai berikut: “Jangan serupakan diantara Hemat dan Bakhil (Pelit), karena orang yang hemat memperhitungkan perbelanjaannya, uang masuk dan uang keluar dengan tujuan apabila perlu dapat membelanjakan harta itu menurut yang sepatutnya. Tetapi orang yang bakhil mengumpulkan harta dengan tujuan semata-mata hanya menumpuknya. Orang yang Hemat mengatur hartanya, orang yang Bakhil (Pelit) diatur oleh hartanya“.

Entri Lama

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.