Mau tahu tentang kuliah neh….???

Tinggalkan komentar

Buat kalian yang sekarang udah kelas 3 SMA (dan yang masih kelas 1 atau 2 ini mungkin bisa jadi bahan referensi ), mungkin ada sedikit informasi yang bisa kalian ketahui untuk menambah referensi kalian tentang perguruan tinggi. Yang jelas perguruan tinggi itu terbagi menjadi tiga, perguruan tinggi negeri, perguruan tinggi swasta, dan perguruan tinggi yang punya ikatan dinas. Kalian bisa milih tuh mana perguruan tinggi yang sesuai dengan keinginan kalian, sesuai dengan keadaan financial (keuangan), dan sesuai dengan prospek kerja yang diminati. Untuk bisa bergabung kedalam perguruan tinggi itu kalian bisa menempuhnya dengan tiga jalur, yaitu SNMPTN, PMDK, dan UM. Nah sekarang kalian tinggal meninmbang-nimbang mana yang kalian anggap cocok dan sesuai dengan cita-cita serta keinginan kalian, coba bicarakan kembali dengan orang tua dan jika ingin konsultasi lebih lanjut coba deh konsultasikan dengan guru BK sekolah, …^_^

Oya..hampir lupa…di bawah ini ada link dimana kalian bisa akses langsung tentang berbagai perguruan tinggi negeri, swasta, dan ikatan dinas di indonesia…

1. Link untuk perguruan tinggi negeri di Indonesia

http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_perguruan_tinggi_negeri_di_Indonesia

 

2. Link untuk perguruan tinggi swasta di Indonesia

http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_perguruan_tinggi_swasta_di_Indonesia

 

3. Link untuk perguruan tinggi ikatan dinas

http://evisyari.wordpress.com/2009/02/22/daftar-sekolah-tinggi-ikatan-dinas/

 

Atau bisa juga kalian langsung klik saja Daftar Perguruan Tinggi yang ada dsamping Blog BK ini….

Jangan lupa yah…kalo kalian pengen liat lebih lanjut tentang perguruan tingginya…kalian bisa klik alamat website perguruan tingginya di setiap artikelnya…^_*

Menghargai Diri Sendiri

Tinggalkan komentar

Salah satu hal yang membantu kita menerima diri sendiri adalah dengan menghargai diri sendiri. Pandangan jelek terhadap diri sendiri, baik beralasan maupun tidak, sedikit banyak akan tercermin dalam sikap terhadap orang-orang disekitar kita. Misalnya, jika kita merasa tersiksa karena kita merasakan suatu kekurangan, rasa penyesalan itu akan tertumpuk dalam hati kita, yang kemudian tersalurkan dalam bentuk sikap permusuhan terhadap dunia luar. Sebaliknya jika kita belajar untuk menghargai dan bersikap ramah pada diri sendiri, maka sedikit banyak akan bisa menambah cinta kita kepada orang lain.

Bila kita tak sanggup memecahkan persoalan-persoalan kita diri sendiri, kita mulai membenci oranglain. Hasilnya adalah bisa dikatakan sebagai lingkaran setan yang akan menghancurkan diri sendiri, yaitu : “BENCI DIRI SENDIRI, BENCI ORANG LAIN, AKIBATNYA DIBENCI JUGA OLEH ORANG LAIN”, nah lo berat deh kalo udah seperti ini, kabur aja hidup dihutan yang tidak ada manusianya. Tapi kalo dihutan tidak ramah juga dengan para penghuni asli disana, ya siap-siap aja diterkam si raja hutan ato yang lainya kekekeke…

Bentuk-bentuk dari sikap menghargai diri sendiri adalah dengan menjauhkan diri dari tindakan-tindakan tercela, seperti : Berjudi, madat, maling, provokator dsb… Sedangkan sikap-sikap seperti : konsisten, tanggung jawab dan menghargai waktu, termasuk wujud dari sikap menghargai diri sendiri (nah ini nih yang gampang-gampang susah kekekekeke….)

Mengembangkan harga diri berarti mengembangkan keyakinan bahwa seseorang (kita) mampu hidup dan patut berbahagia dalam menghadapi kehidupan dengan penuh keyakinan, kebajikan dan optimisme, yang akan membantu kita mencapai tujuan. Dengan mengembangkan harga diri berarti kita memperluas kapasitas untuk mencapai kebahagiaan. Semakin kokoh harga diri maka orang (kita) akan semakin kreatif, semakin hormat dan bijak dalam memperlakukan orang lain, karena tidak memandang oranglain sebagai ancaman.

Salah satu penghalang seseorang untuk menghargai diri sendiri adalah rasa rendah diri, yang dapat dimengerti sebagai suatu sikap negatif memandang diri sendiri rendah. Orang yang rendah diri senantiasa dikejar-kejar oleh kekurangan-kekurangan yang menghantui, baik kekurangan itu sungguh-sungguh ada atoupun hanya karena dibayangkan oleh diri kita sendiri.

Kalau ga salah, orang-orang pinter pada ngomong begini, “Biasanya untuk menghindari ato mengurangi rasa rendah diri, seseorang bisa menempuh dua, cara negatif dan positif.
CARA-CARA NEGATIF
1. Membangun mekanisme pertahanan. Dalam kehidupan sehari-hari bisa dikatakan dengan mencari perlindungan. Ia bicara besar, berlagak hebat, mengada-ada, membual tentang prestasi-prestasinya dalam banyak bidang, menunjukan sikap berlebih-lebihan pada saat-saat yang tidak tepat.
2. Mengundurkan diri dari lingkungan. Si penderita “Minder” itu bersembunyi, sambil berkhayal tentang kehebatan dirinya yang tak pernah terjadi, ia melamun tapi tidak berbuat sesuatu apapun. Ketika tersadar dari lamunannya dia akan kecewa karena lamunannya tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. orang model begini tidak mau bergaul dengan orang lain, ia mau orang lain menganggap bahwa dirinya itu paling unggul.

CARA-CARA POSITIF
1. Langsung bertindak mengatasi kekurangan. Rasa rendah diri memang dapat menjadi pembunuh kejam, tapi dilain pihak rasa rendah diri dapat juga menjadi sumber semangat yang luar biasa, yang bisa mengubah seekor kucing menjadi seekor harimau… Nah lo, buat kita semua aja ayo cepet-cepet bangun, sadar, buat langkah kecil pertama untuk melakukan perubahan kekekeke…
2. Subtitusi (tindakan pengganti). Kekurangan dalam satu bidang bisa juga diatasi dengan MEMUPUK KELEBIHAN DIBIDANG LAIN. Seseorang yang lemah jasmaninya bisa memupuk kelebihan dengan mengembangkan daya rohaninya.
3. Mau menerima kekurangan-kekurangan dan batas-batas kemampuan kita (bukan berarti kita menyerah pasrah lho kekeke…)
4. Tuhan menciptakan tiap-tiap manusia dengan selalu memberi keistimewaan tertentu.
5. Mencatat dan mengingat-ingat sukses yang pernah dicapai.

“Belajar untuk bersikap ramah terhadap diri sendiri adalah penting, karena hanya dengan itu kita bisa menambah perhatian kita kepada orang lain. hubungan yang baik dengan orang lain hanya bisa tercapai kalau hubungan kita dengan diri sendiri berlangsung baik”. Busyeeeeeeeet…gampang sekali, tapi akan sulit melakukanya kalo kita ga pernah ada kemauan untuk mencobanya kekekekeke….

Sukses buat kita semua….

Pelajaran dari Adam Young, Memanfaatkan Kekurangan Menjadi Kelebihan

Tinggalkan komentar

Saat ini, siapa yang tidak kenal akan Adam Young, seorang anak muda yang piawai dalam musik dan lebih terkenal lagi dengan grup music “Owl City” yang merupakan proyeknya. Saat ini, musiknya sedang digemari oleh banyak orang, bahkan berhasil bertahan di tangga lagu Billboard Hot 100 di Amerika selama beberapa minggu.

Keberhasilannya memang benar-benar luar biasa. Hal tersebut terbukti dari beberapa lagu-lagunya yang memang menjadi favorit banyak orang, seperti “Fireflies”, “The Saltwater Room”, dan berbagai lagu-lagu lainnya yang saat ini menjadi kesukaan di telinga banyak orang.

Namun, di balik segala keberhasilannya, siapa yang menyangka bahwa sebenarnya Adam Young adalah seorang penderita insomnia? Dan siapa yang menyangka bahwa karya-karyanya yang luar biasa tersebut banyak tercipta ketika ia menderita insomnia?

Nah, mungkin di dalam hidup, seringkali kekurangan yang ada di dalam diri kita membuat kita tidak percaya diri dan menjadi tidak sanggup untuk menjual potensi yang ada di dalam diri kita. Seperti yang kita tahu, percaya diri merupakan salah satu kunci penting yang harus dimiliki seorang salesperson. Salah satu wujud percaya diri yang harus kita ketahui adalah “memanfaatkan kekurangan menjadi kelebihan”.

Memanfaatkan kekurangan menjadi suatu kelebihan merupakan hal yang harus dimiliki oleh seorang salesperson. Soal merubah atau memanfaatkan kekurangan menjadi kelebihan, seorang salesperson harus memiliki mental yang kuat seperti Adam Young, dimana penyakit insomnia yang dideritanya tidak membuatnya menjadi mengeluh dan tidak percaya diri, melainkan ketika ia terserang insomnia, ia justru memanfaatkan waktu pada saat ia mengalami kesulitan tidur itu untuk mengarang dan mengaransemen berbagai lagu yang pada akhirnya menjadi terkenal dimana-mana.

Di dalam marketing, kita juga harus sanggup untuk “memanfaatkan kekurangan menjadi kelebihan”. Hal tersebut sangat penting karena ketika kita memanfaatkan dan mengubah kekurangan kita menjadi suatu kelebihan, maka kita akan sanggup untuk meningkatkan nilai jual kita dalam hal apapun, baik nilai secara pribadi maupun nilai dari produk atau jasa yang kita pasarkan.

Beberapa cara untuk memanfaatkan atau merubah kekurangan menjadi suatu kelebihan :

Belajar untuk mengenali potensi diri

Belajar untuk mengenali potensi diri, berarti kita mencari tahu segala kelebihan yang ada di dalam diri kita. Misalnya, kita memiliki kemampuan untuk berkomunikasi di dalam pemasaran, kembangkanlah kemampuan komunikasi kita dengan sebaik-baiknya. Memang bisa jadi di dalam kemampuan kita berkomunikasi, kita bukanlah orang yang memiliki strategi yang baik di dalam menjalankan pemasaran kita. Tetapi Anda jangan berkecil hati, sambil terus belajar untuk mengembangkan strategi di dalam pemasaran Anda, terus tunjukkan keberanian Anda dalam berkomunikasi dan kembangkan kelebihan Anda secara terus-menerus dalam batas yang positif.

Tetap merasa percaya diri dan fokus kepada tujuan

Percaya diri merupakan salah satu kunci keberhasilan seorang salesperson. Selain percaya diri, fokus kepada tujuan juga merupakan hal yang tidak boleh dilupakan. Dengan kita fokus kepada tujuan, kita juga menjadi disiplin dan tidak menganggap kekurangan kita sebagai hal yang akan menghambat kemajuan kita. Dengan kita mau untuk percaya diri dan fokus kepada tujuan, kita akan semakin terpacu untuk menjadi lebih baik dan hal tersebut justru akan memberikan nilai tambah bagi diri kita sebagai seorang salesperson.

Tidak menganggap bahwa kelemahan kita akan membuat kita menjadi tidak ada artinya, tetapi gali segala potensi yang ada di dalam diri dan berusaha untuk mengembangkan diri dengan mengemas dan menghargai diri sendiri dengan nilai yang setinggi-tingginya

Kelemahan yang kita alami, tidak boleh menjadi penghambat di dalam hidup kita. Ketika kita hanya berdiam diri, mengeluhkan kelemahan kita dan bahkan merasa hidup sudah tidak ada artinya karena kelemahan yang kita derita, kita akan membuat diri kita semakin terpuruk dan potensi kita yang sesungguhnya tidak akan pernah tergali dan berkembang.

Kita harus mau untuk aktif menggali potensi yang ada di dalam diri kita dan juga menghargai diri kita begitu tinggi. Dengan itu, kita akan sanggup untuk merubah kelemahan menjadi kelebihan yang meningkatkan nilai jual kita dan juga produk atau jasa yang kita hasilkan. Kita juga harus bisa untuk mengemas dan menghargai diri kita dengan setinggi-tingginya.

Mengemas dan menghargai diri kita dengan setinggi-tingginya bukan berarti kita menjadi angkuh atau sombong, tetapi kita yakin dengan kemampuan kita dan tidak memandang kelemahan kita. Dan dengan keyakinan tersebutlah kita akan terpacu untuk menggali potensi diri dan sanggup mengubah kelemahan kita menjadi suatu kelebihan yang akan semakin memberikan nilai jual yang tinggi bagi diri kita sendiri maupun produk atau jasa yang kita hasilkan.

Belajar Menerima Kekurangan Diri

Tinggalkan komentar

Tidak ada manusia yang sempurna, hanya ada manusia yang merasa sempurna dan ingin terlihat sempurna. Ungkapan ini begitu bermakna untuk menyadarkan kita tentang kekurangan diri. Kelebihan dan kekurangan merupakan dua sisi dalam fitrah kemanusiaan yang saling melengkapi. Namun, seringkali kita tidak dapat menerima kekurangan diri sendiri dan tidak mau memahami kekurangan orang lain. Kekurangan lebih sering diapresiasi dengan perasaan dan pikiran negatif, sehingga banyak orang yang membenci kekurangan diri dan menganggap kesempurnaan sebagai faktor mutlak untuk mencapai kebahagiaan.

Menerima kekurangan, memang tidak mudah. Bagi saya bahkan lebih mudah menuliskannya daripada menerapkannya. Akan tetapi, proses belajar itu tidak boleh berhenti karena tanpa belajar, kita tidak akan tahu dan tidak akan mampu melakukan, serta mencapai sesuatu. Belajar merupakan proses berupaya untuk dapat memahami dan menerima, termasuk belajar menerima kekurangan diri. Lalu bagaimana caranya? Saya pun masih belajar dan mencoba berbagi lewat tulisan ini.

Kelebihan merupakan anugerah yang akan mengisi dan melengkapi kekurangan. Bermuhasabah akan senantiasa menumbuhkan kesadaran diri bahwa sejak awal terlahir pun kita tidak memiliki apa-apa. “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur” (An-Nahl:78). Ayat ini mengingatkan kita bahwa kekurangan dan kelebihan patut kita syukuri. Bersyukur atas keadaan yang kita terima merupakan langkah utama untuk belajar menerima diri secara utuh.Tanpa mensyukuri dan menyadari kekurangan diri, kita tidak akan benar-benar mengerti kelebihan diri. Allah SWT menciptakan kekurangan agar kita selalu introspeksi, tidak takabur dan menyombongkan diri karena hanya Yang Maha Sempurna yang berhak memiliki segalanya.

Dalam syukur itu ada kesabaran. Untuk bisa menerima kekurangan, perlu kesabaran dan pengertian. Kesabaran berarti ketulusan dalam berupaya dan berserah diri. Kita dan orang-orang yang kita sayangi tidak selalu bisa sejalan dengan keinginan dan tidak selalu bisa menyenangkan hati satu sama lain. Kekurangan diri tidak mungkin selalu bisa ditutupi dengan terus menonjolkan kelebihan diri. Kita terbatas dalam kemampuan dan tiada batas dalam keinginan, sehingga diperlukan pengertian dan kesabaran untuk memahami semua itu. Kita berhak untuk berubah, serta memperbaiki kekurangan diri sendiri dan orang lain, tetapi kita juga harus ingat untuk memaksimalkan kelebihan yang kita punya. Jangan sampai waktu dan energi terfokus untuk menambal dan menutupi kekurangan, sehingga kita lupa bahwa kita punya keistimewaan yang berguna. Pengertian berarti kita menerima apa adanya, kelebihan dan kekurangan diri kita dan orang lain tanpa memaksakan kehendak untuk mengubahnya, apalagi demi orang yang tidak mau belajar menerima kekurangan diri kita.

Pengertian akan tumbuh sejalan dengan rasa menghargai. Menghargai diri sendiri dan orang lain merupakan pengakuan bahwa ada sisi kelebihan yang bisa kita manfaatkan untuk membuat diri kita berguna, serta masih banyak orang lain yang melebihi kita dalam segala hal. Penghargaan yang tulus merupakan wujud penerimaan dan syukur atas apapun keadaan diri, sehingga kita dapat bersikap bijaksana, tidak merasa inferior dengan kekurangan diri, tidak underestimate terhadap kekurangan orang lain dan tidak dengki atas kelebihan orang lain.

Pengertian dan penghargaan kita atas diri sendiri dan orang lain bisa membuat kita menyadari hakikat kemanusiaan kita yakni selalu membutuhkan orang lain. Sebagai makhluk sosial, kita tidak bisa menghindar dari kebutuhan berinteraksi dan berelasi dengan orang lain di sekeliling kita. Hidup itu untuk saling mengisi dan melengkapi karena kita tidak akan mampu hidup sendiri. Kekurangan yang kita miliki bisa dilengkapi dengan kelebihan orang lain, dan kelebihan yang kita punya dapat mengisi kekurangan orang lain. Dalam hubungan dengan pasangan, sahabat, kerabat atau rekan kerja, kesadaran akan saling membutuhkan ini merupakan energi untuk memahami dan menghargai kekurangan dan kelebihan masing-masing.

Jika kita renungi dan kita hayati, kekurangan diri merupakan alarm hati yang akan mengingatkan kita akan kematian. Dengan mengingat kematian, kita dapat membangkitkan kesadaran bahwa semua makhluk akan binasa, sehingga tidak hanya kekurangan yang melekat pada diri kita, tetapi kehancuran yang pasti suatu saat nanti.

Bagi saya, semuanya butuh proses dan keteguhan hati untuk terus berupaya. Hanya orang yang mau menyadari dan mau berproses yang akan mendapatkan pembelajaran tentang banyak hal, bahkan keberhasilan dan kemanfaatan. Belajar menerima kekurangan diri dapat kita jadikan bagian dari manajemen hidup kita, sekaligus proses belajar memanusiakan diri kita.

MENERIMA DIRI SENDIRI

Tinggalkan komentar

Ingatkah Anda ketika remaja, berkaca di depan cermin, mengomentari diri sendiri dengan nada tidak puas ? Setiap lekuk wajah, bentuk mata, ukuran hidung, bibir, jerawat di pipi….. rasanya semua mengecewakan. Dan hari itu setelah selesai berkaca, rasanya kaki terasa berat untuk melangkah karena merasa tidak percaya diri,. Tidak PD dengan kondisi fisik yang dimiliki. Tidak bisa menerima kondisi diri seperti itu.

Mungkin saat ini pun Anda masih sering mencela atau mengkritik diri sendiri dengan nada tidak puas. Setiap pekerjaan rasanya tidak ada yang bagus, tidak ada yang baik. Akhirnya penilaian terhadap diri sendiri menjadi buruk, penerimaan diri sendiri pun menjadi negatif. Buntut-buntutnya Anda juga sering mencela atau mengkritik orang lain. Pujian menjadi hal yang ‘mahal’ untuk diucapkan kepada orang lain.

Mengapa seseorang sulit menerima dirinya sendiri ? Tidak pernah puas dengan apa yang diperoleh dan dimilikinya ? Tidak pernah menghargai usahanya sendiri bahkan usaha orang lain ? Banyak kemungkinan yang menyebabkan seseorang sulit untuk menerima diri sendiri. Barangkali Anda berasal dari keluarga dimana orang tua lebih sering mengkritik anak-anaknya ketimbang memuji. Anda tumbuh menjadi orang yang tidak terbiasa untuk cepat puas, selalu merasa kurang, dan akhirnya sulit untuk menerima diri sendiri bila ada kekurangan di dalamnya. Apa pun kondisi Anda di masa lalu, saat ini sebagai seseorang yang ingin maju dan berkembang, Anda dituntut untuk dapat menerima diri sendiri.

Orang yang sehat mental adalah orang yang mau menerima kondisi dirinya sendiri dengan bahagia. Orang yang mampu untuk menerima diri sendiri, biasanya adalah orang yang juga mampu untuk menerima orang lain apa adanya. Tidak memaksakan orang lain untuk melakukan yang diminta, menghargai usaha orang lain, bersikap hormat, tidak dikendalikan oleh ambisi yang tidak realistis, tidak terlalu banyak mengeluh, tidak mudah tersinggung, belajar mengendalikan kemarahan dengan benar, tidak terobsesi oleh masa lampau, serta tidak menuntut orang lain untuk memenuhi semua kebutuhannya.

Coba periksa diri Anda sendiri. Apakah Anda menjawab “YA” untuk setiap kondisi berikut di bawah ini ? (“Seni Mengasihi Diri Sendiri”, Cecil G. Osborne, 2001) Semakin banyak Anda menjawab “YA” untuk kondisi berikut ini, berarti Anda belum memiliki penerimaan diri sendiri yang baik.

  1. Apakah Anda dinilai terlalu sensitif oleh teman-teman atau keluarga ?
  2. Apakah Anda suka berbantah ?
  3. Apakah Anda suka mengecam ?
  4. Apakah Anda tidak toleran terhadap orang lain ? Terhadap ide-ide mereka ?
  5. Apakah Anda termasuk orang yang sangat mudah marah ?
  6. Apakah Anda sulit memberi maaf ?
  7. Apakah Anda cemburu buta ?
  8. Apakah Anda pendengar yang tidak baik ?
  9. Apakah Anda materialistis secara berlebihan ? Takut miskin ?
  10. Apakah Anda sangat terpukau pada titel, gelar, kehormatan, dan pangkat ?
  11. Apakah Anda orang yang tidak mau kalah ?
  12. Apakah Anda sulit menerima pujian ?

Ada sebuah illustrasi. Seorang turis Amerika sedang mengunjungi sebuah puri kuno di Inggris bersama rombongan tur. Puri kuno tersebut memiliki hamparan rumput yang sangat luas dan sangat indah. Turis Amerika ini sedang mengagumi hamparan rumput tersebut. Kemudian ia menghampiri kepala kebun puri yang sedang bekerja di dekat situ. Ia bertanya kepada kepala kebun tersebut, “Bagaimana caranya kalian membuat hamparan rumput sebagus dan seindah ini ? Saya sangat mengagumi hamparan rumput yang hijau dan elok ini.” Jawab si kepala kebun, “ Ah Pak, biasa saja. Kami hanya menanam bibit rumput yang terbaik, memberi pupuk, menyiramnya, serta merawatnya selama 500 tahun…” Menerima diri sendiri merupakan suatu proses yang harus diusahakan atau diperjuangkan. Butuh kerja keras untuk menerima diri apa adanya. Tujuannya adalah supaya memiliki pertumbuhan mental yang baik, mampu menerima orang lain apa adanya, menjalin relasi interpersonal yang lebih baik, serta dapat menikmati hidup.
Bagaimana untuk bisa menerima diri sendiri ? Ada beberapa saran yang bisa Anda terapkan. Diharapkan Anda juga berusaha untuk mengembangkan cara-cara untuk menerima diri sendiri.

  1. Gunakan kacamata paradigma baru. Mulailah untuk memandang diri sendiri secara berbeda. Tidak lagi cepat menilai negatif pada diri sendiri. Beri kesempatan pada diri sendiri bahwa Anda layak untuk dihargai. Fokuskan diri pada sisi positif dan negatif secara berimbang.
  2. Tetapkan standar atau target yang realistis. Ada kalanya seseorang sulit untuk menerima diri sendiri karena kegagalan untuk meraih target atau standar yang ditetapkannya sendiri. Perlu dicermati, target atau standar yang ditetapkan itu terkadang tidak realistis, terlalu muluk-muluk sehingga sangat sulit untuk dicapai. Untuk orang-orang yang menaruh penghargaan diri sendiri berdasarkan prestasi semata, hal ini bisa sangat meruntuhkan rasa percaya diri. Tetapkanlah standar atau target yang realistis. Bila tidak tercapai, janganlah terlalu “down” atau merasa sangat kecewa hingga tidak memberi kesempatan pada diri sendiri untuk mencoba lagi.
  3. Lakukan sesuatu yang membuat Anda lebih menyukai diri Anda. Berikanlah kasih, pertolongan, dukungan, perhatian, maaf, pengertian, uang, sehelai surat sederhana, atau apa pun kepada teman atau orang lain yang Anda rasa perlu.
  4. Beri pujian pada orang lain dan diri sendiri. Dengan melakukan hal ini Anda akan menghargai diri Anda sendiri dan juga orang lain.
  5. Gunakan kata-kata yang positif pada diri sendiri. Misalnya ketika Anda diserahkan tanggung jawab untuk mengerjakan proyek tertentu, katakan pada diri sendiri bahwa, ”Saya mampu dan bisa mengerjakan tugas ini dengan baik.”
  6. Bersyukurlah dengan apa yang Anda miliki. Orang yang bersyukur dengan keberadaan dirinya biasanya lebih mudah untuk menerima dirinya sendiri. Ia juga tidak mudah untuk marah, tidak mudah tersinggung, dan mampu memberi bagi orang lain.

”Selalu ada kesempatan untuk orang yang mau merubah dirinya”.

MEMETIK MANFAAT DARI KEKURANGAN DAN KEMALANGAN

Tinggalkan komentar

“I see only the objective, therefore the obstacles must give way. – Saya hanya memperhatikan secara obyektif. Karenanya setiap tantangan yang harus saya hadapi justru memberi saya jalan keluar.”
~ Napolean Bonaparte

Kekurangan dan kemalangan merupakan suatu hal yang sangat dihindari orang. Bahkan mayoritas manusia merasa malu mengakui kekurangan yang mereka miliki. Mereka beranggapan bahwa kekurangan hanya akan menjadi obyek cemoohan. Bahkan mereka berpikir bahwa kekurangan adalah penghalang untuk mendapatkan perlakuan ataupun kehidupan yang layak.

Pemikiran seperti itu tentu saja tak hanya menyiksa diri sendiri, melainkan membunuh kesempatan untuk hidup lebih baik. Bukankah jauh lebih baik jika kita menerima, mencintai dan menghargai diri sendiri apa adanya? Karena manusia diciptakan oleh Tuhan YME dengan segala kelebihan dan kekurangan.

Bila saja kita bersedia mengintropeksi diri, tentu masing-masing diantara kita mempunyai keunikan yang tidak dimiliki orang lain. Bila kita bersedia menjadikan kekurangan tersebut sebagai sumber motivasi untuk menjadi lebih baik, tentu kita akan dapat memanfaatkan kelebihan yang kita miliki menjadi bernilai luar biasa.

Salah satu contoh sebagai referensi belajar kita adalah Hirotada Ototake. Remaja di Jepang ini dilahirkan cacat, tanpa kedua tangan dan kaki. Kenyataan tersebut tidak membuat Hirotada bersusah hati. Sebaliknya, dalam sebuah buku No One’s Perfect, Hirotada mencurahkan isi hati bahwa kekurangan yang ia miliki bukan penghalang baginya untuk bekerja keras, menikmati humor dan hidup bahagia.

Satu lagi orang Indonesia yang sangat berbakat dalam melukis, namanya Patricia Saerang. Ia merupakan satu diantara ratusan pelukis berbakat yang tergabung dalam MFPA (Mouth and Foot Painting Artists – pelukis dengan mulut dan kaki). Meskipun cacat ia menyalurkan jiwa seni lukis lewat guratan kanvas dengan kaki kirinya. Karya lukisan Patricia sangat menakjubkan, bahkan salah satunya menghiasi kartu pos yang beredar di Indonesia.

Hirotada Ototake dan Patricia Saerang merupakan contoh personifikasi yang memilih untuk tidak menyesali atau malu atas kekurangan mereka. Mereka juga tidak berusaha menyalahkan siapapun. Mereka hanya berusaha mensyukuri apa yang sudah mereka miliki dan mengasah potensi yang masih sangat besar di dalam diri mereka. Jika Hirotada Ototake dan Patricia Saerang dengan keadaan fisik yang serba kurang sudah mampu menciptakan prestasi luar biasa, lalu bagaimana dengan kita? “Strength is a matter of a made up mind. – Kekuatan berasal dari pola pikir,” kata John Beecker. Jadi tanamkan dalam pikiran kita bahwa manusia pasti mempunyai kekurangan dan kelebihan. Jangan lagi meratapi kekurangan melainkan pikirkan bagaimana mengasah potensi lainnya untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik dari hari ke hari.

Selain memiliki kekurangan dan kelebihan, manusia seperti kita tentu juga mengalami keberuntungan maupun kemalangan, seperti kisah fiksi berikut ini yang menceritakan tentang seorang peternak lembu. Diceritakan bahwa peternak itu sangat rajin mengurus lembu-lembunya hingga berkembang dari belasan menjadi 250 ekor lembu. Setiap pagi dengan gembira ia menggiring lembu-lembu itu ke padang rumput yang luas dan tumbuh subur di desanya.

Suatu hari salah satu lembu tersebut hilang. Setelah ia mencari kesana kemari, ia menemukan bangkai lembu itu di pinggir sungai bekas dimangsa singa. Kehilangan satu lembu membuat peternak itu betul-betul frustasi. Hatinya terlampau sedih kehilangan salah satu lembunya. Tetapi yang sangat mengejutkan adalah ketika tiba-tiba ia menggiring 249 lembu yang tersisa terjun ke jurang sehingga mati semuanya.

Sangat ironis nasib peternak lembu itu. Sikap yang tak dapat menerima kemalangan menjadikan peternak itu kehilangan seluruh lembunya. Itulah gambaran menyedihkan tentang nasib seseorang apabila tidak dapat menerima kemalangan.

Berdasarkan kisah tersebut kita dapat memetik satu pelajaran bahwa mensyukuri apa yang sudah ada di genggaman jauh lebih menguntungkan dibandingkan terus memikirkan apa yang terlepaskan. Tak ada gunanya terus meratapi kemalangan, karena hanya akan menimbulkan frustasi. Sebaliknya bila kita mensyukuri apa yang masih ada di genggaman, memeliharanya dengan baik dan mempertajam kemampuan, tentu manfaat yang bakal kita peroleh akan jauh lebih besar.

Bagaimanapun kehidupan ini terus berjalan, sekalipun kita sedang dalam keadaan sangat susah atau gembira, sedang beruntung atau dalam keadaan paling sulit sekalipun. Sebagai manusia kita harus selalu dapat menerima kenyataan dengan lapang dada, memelihara sikap dan motivasi positif, serta tetap menjalankan tanggung jawab dengan sepenuh hati. Hanya dengan cara tersebut kita dapat memetik manfaat yang sangat menguntungkan dari setiap kemalangan maupun kekurangan kita.

Belajar Menghargai Orang Lain

Tinggalkan komentar

Minggu siang di sebuah mal. Seorang bocah lelaki berumur delapan tahun berjalan menuju ke sebuah gerai penjual es krim. Karena pendek, ia terpaksa memanjat untuk bisa “melihat” si pramusaji. Penampilannya yang lusuh sangat kontras dengan suasana ingar-bingar mal yang serba wangi dan indah.
“Mbak, sundae cream harganya berapa?” si bocah bertanya.
“Lima ribu rupiah,” yang ditanya menjawab.
Bocah itu kemudian merogoh recehan duit dari kantungnya. Ia menghitung recehan di telapak tangan dengan teliti. Sementara si pramusaji menunggu dengan raut muka tidak sabar. Maklum. banyak pembeli yang lebih “berduit” mengantri di belakang pembeli ingusan tersebut.
“Kalau plain cream berapa?”
Dengan suara ketus setengah melecehkan, si pramusaji menjawab, “Tiga ribu lima ratus.”
Lagi-lagi si bocah menghitung recehannya, “Kalau begitu saya mau sepiring plain cream saja, Mbak.” kata si bocah sambil memberikan uang sejumlah harga es yang diminta. Si pramusaji pun segera mengangsurkan sepiring plain cream.
Beberapa waktu kemudian, si pramugari membersihkan meja dan piring kotor yang sudah ditinggalkan para pembeli. Ketika mengangkat piring es krim bekas dipakai bocah itu, ia terperanjat. Di meja itu terlihat dua keping logam lima ratusan serta lima keping recehan seratusan yang tersusun rapi. Ada rasa penyesalan tersumbat di kerongkongan. Sang pramusaji tersadar, sebenarnya bocah tadi bisa membeli sundae cream. Namun, ia mengorbankan keinginan pribadi dengan maksud agar bisa memberikan tip bagi si pramusaji.
Pesan moral yang dibawa oleh anak tadi; setiap manusia di dunia ini adalah penting. Di mana pun kita wajib memperlakukan orang lain dengan sopan, bermartabat, dan penuh hormat.

Older Entries