Banyak factor yang mempengaruhi keberhasilan belajar yang dikelompokkan kedalam factor internal dan eksternal. Salah satu factor eksternal yang dapat mempengaruhi keberhasilan belajar siswa adalah  “Bullying”. Bullying adalah suatu tindakan menggunakan tenaga dan kekuatan untuk melukai orang lain atau kelompok orang baik secara verbal, fisik, ataupun secara psikologis dan menyebabkan korbanya merasa tertekan, trauma dan tak berdaya. Pelaku kekerasan bertindak seperti ini denagn tujuan agar dia menjadi popular atau menarik perhatian orang. Dia melakukan ini bias juga disebabkan karena suatu kecemburuan atau karena ia pernah di perlakukan sebagai target dalam suatu bullying (crothers & levinson, 2004).

Di sekolah bullying biasanya terjadi disemua bagian wilayah sekolah. Misalkan, disembarang tempat dibagian bangunan sekolah atau disekitar sekolah bahkan sering terjadi di tempat olah raga, tempat istirahat, lorong, kamar mandi (WC), dalam bus sekolah atau di angkot, di tempat menunggu bus atau menunggu jemputan, di kelas yang memerlukan kerja kelompok setelah aktivitas sekolah berlangsung atau bahkan di kantin. Perlakuan kekerasan ini diantaranya yaitu mencela, mengejek, dan menggoda target mereka sebelum sampai kepada kekerasan fisik si korban. Target kekerasan di sekolah sering merupakan siswa yang dipandang pada awalnya sebagai hal yang aneh atau berbeda dengan teman temanya.

Akibat dari kekerasan dapat menjadi serius dan bahkan menyebabkan fatal(kamatian). O’moore (2003) mengatakan “ terdapat suatu penelitian yang mengindidkasikan bahwa individu baik itu anak ataupun orang dewasa yang secara terus menerus menjadi korban kekerasan akan beresiko stress, sakit, dan kadang kadang sampai bunuh diri. Adapun tips yang dapat berguna dalam mencegah bullying di sekolah antara lain yaitu:

  1. Bangunlah sebuah hubungan positif antara staf guru dan siswa dan buat interaksi guru-siswa yang positif.
  2. konseling yang efektif untuk siswa yang melakukan bully dapat berakibat mengurangi kecaman.
  3. dorongan yang efektif bagi korban (target) termasuk perlindungan terhadap korban terhadap Bully yang berulang-ulang.
  4. memberdayakan saksi mata untuk meceritakan kepada orang dewasa, untuk mendukung korban dan menghindari perilaku yang tidak bias diterima.

Tindak kekerasan tak pernah diinginkan oleh siapapun, apalagi di lembaga pendidikan yang sepatutnya menyelesaikan masalah kekerasan ini secara edukatif. Banyak program yang telah ditempuh untuk mencegah terjadinya tindak kekerasan dalam pendidikan di sekolah misalkan dengan mengundang pembicara, mengadakan seminar dan lokakarya, serta dialog antara guru, murid dan masyarakat. Namun semua itu tidak berarti apa apa jika tidak adanya kerjasama dan komitmen baik dari sekolah, masyarakat, maupun pemerintah untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas dan bebas dari kekerasaan (bullying).