Tulisan ini berusaha merangkum yang tersiar dan yang tidak sempat tersampaikan saat Wikimu mengudara di D-Radio. Tema pembicaraan adalah ‘Tips memilih ekstrakurikuler bagi remaja’. Semoga dapat membantu remaja yang sedang mempertimbangkan pilihan ekstrakurikuler.

Bentuk ekskul di SMA

Biasanya berbentuk penyaluran hobi dan belakangan ini lebih banyak pilihan yang tersedia. Mulai banyak pula pilihan yang menunjang keahlian hidup (life skill) misalnya yang berkaitan dengan keterampilan (pertanian, wirausaha) atau profesi (jurnalisme/kepenulisan).

Biasanya pula, murid lebih cenderung memilih kegiatan ekstrakurikuler yang baginya tidak membebani kegiatan sekolah (pelajaran) yang sudah berat. Karena itu dapat dimengerti jika peminat paling banyak biasanya di bidang kerohanian, olahraga, dan seni.

Dan untuk tujuan menunjang pelajaran, bidang sains (berupa kegiatan ilmiah) juga banyak dipilih, terutama karena kesan baik yang dibawa jika dicantumkan dalam riwayat hidup🙂

Patokan memilih ekskul

Hobi/minat biasanya menjadi alasan pertama. Kebutuhan menunjang kegiatan kelas/pencapaian target (misal sangat berminat di sains dan bermaksud mampu mengembangkan penelitian sendiri) adalah alasan kedua.

Dan alasan yang juga populer adalah: teman (lo ikut, gue ikut), gebyar (rame, gengsi, terlihat banyak orang, ‘kelihatan’ apa yang dilakukan dan pencapaiannya), orangtua (musik, supaya… bisa musik hehehe… kan katanya musik bisa menunjang prestasi akademik –> ujung2nya akademik).

Yang juga harus dipertimbangkan: keadaan fisik, beban kegiatan sekolah, dan kemampuan diri. Ikut 5 ekskul mungkin tidak akan dilarang, ya. Tapi apakah mungkin untuk aktif dalam ke-5nya dengan kadar yang sama?

Peranan orangtua

Orangtua yang memilihkan ekskul untuk anaknya sesungguhnya berada dalam posisi yang riskan. Pilihan yang tidak diambil sendiri oleh anak cenderung kurang dijunjung tanggungjawabnya.

Ketika ada sesuatu beban yang menuntut anak untuk menanggungnya ia akan mudah lari dan berkata, “Yang pilih ini kan bukan saya. Wajar dong kalau saya tidak suka dan tidak antusias dalam mengikuti kegiatannya/terlibat”. Namun tentu saja baik jika pilihan orangtua diamini dan disukai oleh anak.

Orangtua yang mengambil pilihan untuk mendukung pilihan anak tentulah bermaksud bijak untuk memberi keleluasaan gerak dan kemandirian yang bertanggung jawab bagi anaknya, dan bukan pada sisi ‘terserah kamu mau ngapain, mamah ikut aja deh’.

Orangtua tentunya mengerti keadaan kesehatan anak, misalnya, sehingga wajar jika berkeberatan jika anaknya yang menderita penyakit kronis ingin masuk ekskul yang menguras fisik dan menyarankan kegiatan lain yang tidak mengandalkan kegiatan fisik sebagai 80% performa.

Jaminan ekskul

Apa ada jaminan kalau kita ikut ekskul akan pandai bersosialisasi?

TIDAK ada jaminan untuk kemahiran sosialisasi atau untuk apapun. Ikut ekskulnya karena apa? Aktivitas anak di dalam ekskul itu juga menentukan. Kalau cuma duduk diam atau asyik mengobrol dengan teman sebelah saja, apa yang bisa didapat?

Sosialisasi tentunya tidak sebatas punya banyak kenalan, namun juga memiliki kemampuan membawa diri, kadar kesopanan cukup tinggi, ramah, bagaimana berbicara pada orang yang lebih tua, bagaimana berkomunikasi yang efektif, dan sebagainya.

Sekadar banyak teman tidak cukup untuk dijadikan kadar penilaian ‘pandai bersosialisasi’. Teman banyak tapi kalau lebih dari separuhnya adalah orang-orang yang sebal padanya bagaimana? Hehehehe…

Kursus, bimbel, atau ekskul?

Sebenarnya apa sih tujuan dari ekskul?

Pembinaan siswa dalam bentuk menyeimbangkan antara kegiatan kelas dan luar kelas. Wadah beraktivitas untuk memenuhi kebutuhan pengembangan sisi pembelajaran non-akademik.

Bimbel dijadikan sebagai ekskul. Bisakah?

TIDAK. Ekskul diadakan untuk pengembangan non-akademik, sedangkan bimbel digelar untuk menunjang kegiatan/peningkatan kemampuan akademik murid. Tujuannya berbeda sehingga tidak dapat saling menggantikan.

Kesepakatan pengembangan keragaman ekskul

Tidak ada aturan kaku yang dibakukan. Cenderung pada kebutuhan murid, ‘corak’ minat murid, dan masukan bagi sekolah, juga menurut kemajuan zaman. Tidak lupa disesuaikan dengan kondisi fisik dan perkembangan anak. Panjat dinding lebih pantas diadakan di SMA ketimbang SD, misalnya.

Jaman saya (masih ber)sekolah (di SMA) dulu, tidak ada ekskul softball, tenis, rampak gendang, IT, dan sebagainya. Sekarang berkembang menjadi sangat banyak dan dengan jumlah peminat yang agak mengejutkan pula. Siapa sangka tari tradisional menjadi ekskul favorit?🙂

Kunci membuat pilihan ekskul

Tahu apa yang diinginkan

Kalau kamu ngga tahu kamu maunya apa, tidak ada yang bisa membantu. Kalau kamu tidak tahu apa yang akan dipilih, ada baiknya mencari tahu informasi tentang (jika perlu) semua ekskul yang ada di sekolahmu.

Sekolah-sekolah tertentu menyelenggarakan ekspo (semacam pameran) ekskul dan kamu bisa bertanya apa saja dan melihat kegiatan nyata pelaksanaan program ekskul yang bersangkutan..

Tentukan targetnya

Target membantumu untuk punya tujuan dan motivasi untuk maju. Tidak harus selalu berkaitan langsung dengan ekskul yang ada, walau akan membantumu jika antara tujuan dan ekskul yang akan kamu pilih berkaitan langsung. Misalnya jika kamu tertarik dan ingin menjadi jurnalis, kamu pilih ekskul jurnalisme atau media siswa.

Tapi tak ada salahnya juga jika ingin memilih teater atau kerohanian. Pilihan tak harus selalu homogen, bukan? Asal kamu punya target, kamu akan punya titik acuan hendak ke mana dan jalanmu lebih jelas.

Pilih jalannya dan JALANI

Kalau kamu memang akan memprioritaskan sekolah (kamu memilih sekolah karena sekolahnya terkenal baik di bidang akademik, misalnya), kamu harus siap untuk tidak terpilih sebagai anggota utama karena kamu tidak bisa ikut latihan tiap sore berturut-turut selama 3 minggu itu (misalnya).

Dan sebaliknya. Kalau kamu memang ingin terjun secara profesional di bidang ekskul yang kamu jalani (merakit komputer, penari, pemain musik, dsb) dan merasa kegiatan sekolah terlalu mengekang pencapaian tujuan ‘akhir’mu, bisa jadi ini pertanda kamu ‘salah pilih’ sekolah. Kamu seharusnya pilih sekolah yang lebih longgar atau yang memiliki dukungan tinggi terhadap bidang yang kamu minati.

Tentu saja, pilihan kedua ini jarang. Tapi bukannya tidak mungkin. Diperlukan kesepakatan dan dukungan dari orangtua untuk pencapaian hidup remaja. Kecuali jika kamu siap sepenuhnya lepas dari aturan (dus tanggungan) orangtua. Tidak umum, dan bukannya saya menyarankan, tapi ada. Dan belum tentu tidak berhasil juga🙂

Tanggung konsekuensinya.

Capek, nih… Aduh, jangan ulangan besok dong, ada latihan nih! Hei, ini pilihan kamu. Kamu harus sudah memikirkan kemungkinan ini sedari awal.

Kamu harus bersedia menanggung pilihan kamu dan tidak melarikan diri. Alasan mungkin membuatmu dapat dimengerti, tapi alasan tidak memberi pembenaran. Bertanggung jawab atas pilihan adalah ciri manusia dewasa. Siapkah kamu menjadi dewasa?🙂