Apa perbedaan hemat dengan kikir? Dalam Tesaurus Bahasa Indonesia (Eko Endarmoko, tahun 2007) sinonim dari hemat : cermat, ekonomis, irit. Sedangkan, kikir mempunyai sinonim pelit, medit, bakhil. Jelas ada perbedaan antara keduanya, tetapi dalam kehidupan sehari-hari banyak orang yang salah kaprah plus keliru menerapkan kedua kata sifat ini. Maksud hati ingin berhemat tapi malah jadi pelit lantaran terlalu hemat. Sementara yang sudah medit sejak lahir selalu berkelit – ketika diejek pelit – dengan mengatakan kalau dirinya irit, bukan pelit.

Apalagi di zaman krisis begini, semua orang harus bijak mengatur pengeluarannya. Jangan sampai lebih besar pasak daripada tiang. Maka, semakin bertambahlah orang-orang yang berhemat dan tak jarang menjadi pelit bukan main. Seperti yang terjadi pada seorang teman saya.

Sebagai seseorang yang pernah hidup berkekurangan, teman saya itu memang sangat pandai mengatur pengeluarannya. Namun, setelah usahanya berkembang pesat, sifat ekonomisnya justru menjelma menjadi pelit luar biasa. Tak pandang bulu, sahabat karib atau teman biasa, semua kena dampak sifat kikirnya. Aneh! Makin kaya makin pelit. Barangkali dia berpikir : Hemat pangkal kaya. Kekayaannya akan bertambah kalau hidup sangat amat hemat. Awalnya – meskipun kaget – saya mencoba memaklumi dirinya. Namun, lambat laun saya mulai merasa jengkel karena meditnya sudah melebihi ambang batas.

Suatu ketika saya nitip fotocopy seberkas dokumen dengan biaya fotocopy seluruhnya Rp.7.000,- Saya sudah tahu biaya fotocopy itu dan berjanji akan membayarnya pada saat kami bertemu nanti. Keesokannya – setelah dokumen tersebut dicopy olehnya – telpon di rumah berdering. Ternyata teman saya yang menelpon dan kebetulan yang mengangkat adalah ibu saya. Saat itu saya sedang ke mal dengan adik saya. Begitu tahu, saya tidak ada di rumah, dia pun berpesan pada ibu saya :

“Tante, titip pesan ya buat Fanny, dokumennya sudah dicopy. Biaya copynya Rp.7.000,-, ”

Alamak! Apakah perlu menyebutkan biaya fotocopynya pada ibu saya? Bukankah saya sudah tahu biayanya? Kayak takut nggak dibayar saja. Kalau biayanya mencapai ratusan ribu rupiah masih masuk akal jika dia takut tidak dibayar. Tapi, TUJUH RIBU RUPIAH….Oh, my God! Ibu saya geleng-geleng kepala. Sementara saya tersenyum pahit.

Well, mungkin boleh dibilang saya saja yang terlalu peka. Siapa tahu dia berpesan begitu tanpa berpikir macam-macam, apalagi sampai merasa takut nggak dibayar. Mungkin dia keceplosan. Tapi bagaimana dengan kejadian berikutnya.

Suatu hari, teman saya ini ingin membeli roti abon di sebuah mal, dan dia bertanya pada saya apakah mau nitip. Mengingat saya malas antri hanya untuk beberapa potong roti abon yang saat itu sedang ngetrend, saya langsung mengangguk setuju. Tapi, pada saat saya memberikan uang pembelian roti, teman saya berkata :

“Duit elo masih sisa Rp. 2.500,-. Gak usah dikembaliin ya? Buat bayar parkir mobil gue aja. ”

Ya, ampuuun! Rp. 2.500,- gitu lho! Tanpa dimintapun, saya tidak akan menagih uang kembaliannya.

Padahal kalau saya mau ikut berhitung, entah berapa banyak pertolongan materiil dan immateriil yang saya berikan padanya. Saya selalu jadi pendengar setia curhat-curhatnya. Saya pernah memberikan order besar kepadanya dan tak pernah minta komisi. Kalau ke luar negeri pun, saya selalu membelikan oleh-oleh. Meski tak selalu mahal tapi yang penting perhatian dan ketulusan dalam memberi. Saya juga sering meminjamkan novel-novel saya. Tentu saja tanpa dipungut biaya sepeserpun.

Tapi, kok dia perhitungan banget sama saya? Saya tidak pernah berharap dia membalas semua pertolongan dan kebaikan – kalau memang layak disebut kebaikan – yang pernah saya berikan karena yang namanya persahabatan tentu harus tulus. Tidak menghitung untung rugi. Tidak melihat apa yang bisa dia berikan. Saya lantas bertanya dalam hati : apakah arti persahabatan kami selama ini jika segala sesuatu dikalkulasi? Atau, mungkin persepsi kami – tentang definisi Hemat – memang berbeda.

Mungkin bagi teman saya, Hemat berarti segala sesuatu diperhitungkan sampai nilai terkecil. Tak peduli dengan siapapun dia berhadapan. Sementara menurut saya, Hemat berarti bisa mengendalikan diri dalam menggunakan uang yang kita miliki. Tidak jor-joran beli barang – yang tidak kita butuhkan – hanya karena ada sale besar-besaran.

Well, setiap orang boleh saja punya persepsi berbeda. Namun sebelum terlanjur menjadi kikir lantaran terlalu hemat, coba tanyakan pada diri sendiri : apakah dengan menghemat uang Rp.2.500,- akan membuat kita kaya raya? Apalagi, jika penghematan tersebut sifatnya incidental (seperti kasus nitip beli roti) dan bukan dalam rangka transaksi bisnis.

Akh, sudahlah….Saya tidak mau membesar-besarkan masalah. Saya mencoba menerima kekurangannya yang satu ini dan tetap berteman baik dengannya. Hanya saja, saya jadi waspada kalau sudah ngomong soal duit dengannya.