Tidak ada hal yang lebih menakutkan bagi kaum remaja pria kecuali ketika mereka dituding sebagai banci atau perempuan. Bersikap lembut dan penuh belas kasih terhadap pihak lain menjadi perilaku terlarang. Feminitas pun dipandang sebagai tabu tidak terampunkan.

Tidak terlalu mengagetkan jika kehidupan remaja pria diwarnai segala macam kekerasan. Kompensasi lain untuk menunjukkan kelelakian mereka adalah membentuk kelompok teman sebaya. Fenomena itulah yang menjadikan geng tumbuh subur dalam kehidupan remaja pria.

Kehadiran geng bukan sekadar untuk berkumpul dengan remaja pria lain, tetapi juga sebagai aktualisasi nilai-nilai kelelakian yang dianggap paling sejati. Dalam geng itulah maskulinitas mendapatkan ruang paling diistimewakan.

Kita dapat menyimak gejala itu dengan pemberian nama geng yang terkesan beringas dan mengandalkan sikap tegas. Struktur organisasi geng sengaja diambilkan dari konsep militer. Kedudukan, kepangkatan, atau satuan institusional, seperti “panglima”, “jenderal”, atau “brigade”, makin mempertegas sifat maskulin yang diharapkan. Geng motor adalah salah satu fenomena kehidupan remaja pria dengan dunia yang harus serba menonjolkan maskulinitas.

Maskulinitas merupakan karakter jender yang secara sosial memang dianggap layak dilekatkan dengan sosok laki-laki. Semakin maskulin seorang remaja pria, semakin mudah ia diterima dalam kelompoknya. Sebagai produk konstruksi sosial, maskulinitas bahkan telah ditanamkan sangat kokoh dalam lingkup keluarga inti. Figur bapak dan ibu sudah sejak dini melakukan indoktrinasi.

Orangtua merupakan kekuatan paling dominan dalam melakukan penanaman nilai-nilai maskulinitas terhadap anak-anak lelaki. Misalnya, anak laki-laki tidak boleh menangis karena rengekan dan air mata hanya diizinkan bagi anak perempuan.

Penanaman dan pertumbuhan pesat maskulinitas semakin menjadi-jadi dalam interaksi di lembaga pendidikan (sekolah). Remaja pria yang mampu menjalankan peran-peran maskulin mengalami inklusi, yakni mudah dilibatkan dalam pergaulan. Begitu pula sebaliknya.

Bukankah seorang remaja pria ingin diterima kawan-kawan lelakinya yang lain? Di situlah sebenarnya penanaman nilai maskulinitas tidak dijalankan sukarela, tetapi melalui pemaksaan (compulsory) dan tekanan (pressure).

Remaja pria manakah yang berhasil keluar dari kungkungan represif nilai-nilai maskulin itu? Sebagaimana dikemukakan UNESCO—Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (New Delhi, 2006)—dalam risalah panjang berjudul Masculinity for Boys, remaja pria yang tidak mampu mengadopsi maskulinitas berarti: (1) akan ditolak kelompok sebayanya, (2) akan dilecehkan teman sebaya, dan (3) akan dipandang sebagai sosok laki-laki yang lebih lemah.

Sebagai moralitas

Proses yang terjadi kemudian adalah maskulinitas diposisikan sebagai moralitas yang menjadi tolok ukur kepantasan dalam pergaulan. Konsekuensinya, maskulinitas bukan lagi sebagai kebiasaan yang layak diikuti, melainkan sebagai norma yang berisi ajaran mengenai kebaikan versus keburukan. Maskulinitas menjadi dogma yang tidak mungkin mampu terbantahkan. Menentang maskulinitas berarti melanggar moralitas. Mematuhi maskulinitas bermakna meraih superioritas.

Tragisnya, mengikuti pemikiran Lawrence Kohlberg (1927-1987), remaja menjalani kehidupan dalam tahap perkembangan moral konvensional. Kesetiaan pada norma etis ditentukan oleh loyalitas pada kelompok yang melingkupinya. Jika ditanyakan mengapa remaja pria melakukan kekerasan atau bersedia begitu saja masuk dalam kehidupan geng, pasti jawabannya adalah karena perbuatan itulah yang dikehendaki teman-teman sebaya.

Identifikasi terhadap normalitas etis yang mengepungnya selalu diupayakan untuk dipenuhi. Meskipun perekrutan anggota geng dijalankan dengan cara brutal, pasti remaja pria bersedia mematuhinya. Mereka tidak berkeberatan ketika diminta tampil hanya mengenakan celana dalam, ditampar, ditendang, atau diadu secara fisik. Ini semua dianggap masa orientasi yang wajib dijalani.

Fenomena kemunculan dan merebaknya geng motor tidak hanya harus dilihat sebagai persoalan ketertiban sosial. Aspek penting lain yang juga layak dikemukakan adalah eksistensi geng motor atau berbagai jenis geng remaja pria tidak terlepas dari internalisasi nilai peran jender yang berlangsung dalam domain keluarga dan sekolah.

Jika maskulinitas dianggap sebagai keluhuran yang tidak terbantahkan, maka yang terjadi adalah kehidupan remaja pria memang harus disesuaikan dengan budaya kekerasan. Jalanan menjadi ruang yang dianggap terbaik bagi realisasi hasrat maskulinitas. Mengendarai kendaraan bermotor dengan kecepatan tinggi atau berkelahi untuk menunjukkan dominasi sosok lelaki tidak lain manifestasi dogma maskulinitas.

Atau, jika meminjam konsep pemikiran Pierre Bourdieu (1930-2002), dogma maskulinitas telah menjadi doxa, yakni keyakinan fundamental yang tertanam secara mendalam yang mengarahkan gagasan dan tindakan remaja pria dalam jalinan interaksi sosial. Perilaku tidak toleran, kebut-kebutan, atau aksi kekerasan dinilai sebagai cara terbaik bagi remaja pria dalam membuktikan kelelakiannya.