“JANGANLAH ENGKAU MENGANGGAP BAHWA TEMPAT-TEMPAT YANG PALING SUCI DAN MULIA BAGIMU UNTUK BERIBADAH ADALAH RUMAH-RUMAH IBADAH YANG DIBANGUN DENGAN MEGAH. BUKAN!

TETAPI TEMPAT IBADAH YANG SUCI ITU ADALAH DIDALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARIMU DIMUKA BUMI INI.”

Apakah ibadahmu masih ada bernilai, ketika didalam rumah ibadah dengan khusuk engkau memuja – muji Tuhanmu, sedangkan ketika dijalanan atau dirumah engkau menghina saudara-saudaramu? Ketika engkau telah merasa baik sebagai umat Tuhan, maka hanya kebanggaan dan keangkuhan yang engkau dapatkan. Tetapi tak ada yang dapat engkau berikan pada kehidupan disekitarmu dan itu hanya menjadi sebuah ibadah yang kosong.

Seorang pendeta pernah mengatakan, kalau ingin tahu sifat pendeta yang sebenarnya, tanyakan saja sama pembantunya. Mengapa? Karena dia orang yang setiap hari di rumah , dan apakah dengan seorang pembantunya dia bisa menaruh hormat seperti pada seorang pejabat? Dari situlah bisa dinilai sifatnya sesungguhnya. Sebab, seseorang yang telah ber-Tuhan, dimanapun baginya adalah tempat baginya untuk beribadah dan memuliakan Tuhannya.

Karena itu  dikatakan lebih lanjut lagi, banyak pelayan-pelayan , saat di tempat ibadah menjadi malaikat, tapi begitu sampai di rumah menjadi tak ubahnya “setan” . Karena tak jarang, kita sebagai manusia suka bermuka dua. Sebuah ungkapan yang yang sangat sesuai keadaan kehidupan kita pada saat ini yang langsung menusuk hati. Tetpai juga mencerahkan.

Bagaimana dengan kita, sebagai seorang yang mengaku-ngaku punya agama yang ” terbaik”? Apakah ibadah kita hanya terbatas di tempat-tempat ibadah yang kita anggap sebagai rumahnya Tuhan? Tetapi ketika sudah berbaur dalam kehidupan sehari-sehari sudah sulit dibedakan, apakah masih ber-Tuhan atau ber-hantu? Apakah ketika didalam rumah ibadah engkau mengatakan mengasihNya, tetapi tatkala melangkah dijalanan, kebencian telah merebak didalam dirimu? Atau kita hanya bangga  dengan mengenakan simbol-simbol keagamaan untuk membuktikan bahwa kita ini adalah orang yang beragama dan ber-Tuhan? Tetapi dalam  tindakannya  dikehidupan sehari-hari tak kalah dengan yang tidak beragama sekalipun. Tak sadarkah bahwa hamparan bumi yang maha luas ini adalah tempat mulia bagi kita untuk beribadah yang sesungguhnya? Bukan ditempat-tempat yang sempit yang bernada rumah ibadah yang kemudian justru mempersempit pemikiran kita tentang ibadah yang sesungguhnya!

Selalu mengembangkan kesadaran padaku bahwa dunia ini adalah sebuah  rumah ibadah yang suci ju, dimanapun  berada ada para malaikat yang mengawasi. Bahwa praktek nyata dari semua kebenaran yang  didapat di rumah ibadah adalah dalam kehidupan sehari-hari dengan saling mengasihi, sucikan pikiran, perbanyak kebaikan, dan jauhi kejahatan.