Melakukan Pengembangan Diri dengan Cara Berfikir yang Positif

Tinggalkan komentar

Kita semakin menyadari sekarang jika berpikir positif dan berhenti mengkhawatirkan segala sesuatu adalah sesuatu yang penting kita lakukan dalam meraih suatu kerberhasilan, baik untuk menjadi pemimpin atau saat kita memimpin. Oleh karena itu, latihlah diri Anda untuk terus berpikir positif.

Berikut ini ada beberapa tips untuk mengembangkan diri dengan cara berpikir positif.

  1. Selalu gunakan kata-kata yang positif saat Anda berpikir dan berbicara. Gunakan kata-kata seperti “Tuhan pasti memampukanku”, “Dengan pertolongan Tuhan, aku pasti bisa melakukannya”, dll..
  2. Biarkan pikiran Anda dipenuhi dengan kebahagiaan, kekuatan, dan keberhasilan. Apa pun situasi yang Anda hadapi, carilah dan isilah pikiran Anda dengan sisi positif dari situasi tersebut. Dalam segala sesuatu, sisi positif dan negatif selalu ada. Seburuk apa pun situasi yang Anda alami, pasti ada sisi positif yang terkandung dalam situasi itu. Mungkin sulit untuk melihat sisi positif dari apa yang Anda alami, tapi cobalah lihat lebih dalam, sisi positif itu pasti ada.
  3. Cobalah untuk menghilangkan pikiran negatif dan mengabaikan pikiran yang negatif. Gantikan pikiran yang negatif dengan pikiran-pikiran yang membangun. Ganti pikiran: “saya tidak bisa melakukan hal ini” dengan “saya bisa melakukan hal ini dengan lebih baik setiap saat saya memohon penyertaan Tuhan dan mencoba melakukannya”.
  4. Sebelum melakukan sesuatu, jangan bayangkan sebuah kegagalan, tapi bayangkanlah keberhasilan yang Anda akan dapat setelah melakukan sesuatu hal tersebut. Jika Anda membayangkannya dengan sungguh-sungguh dan penuh iman, Anda akan terheran-heran dengan apa yang terjadi nantinya.
  5. Cobalah untuk tidak memikirkan sesuatu secara berlebihan. Sering kali kita terjebak untuk terlalu banyak berpikir dan menghabiskan banyak waktu untuk menimbang-nimbang atau memikirkan apa yang orang lain mungkin pikirkan tentang diri kita. Hal itu akan membuat Anda tidak bisa mengeluarkan kemampuan terbaik Anda.
  6. Penuhi pikiran Anda dengan talenta-talenta anugerah Tuhan yang Anda miliki. Jangan biarkan pikiran Anda dipenuhi dengan kelemahan-kelemahan yang mungkin Anda miliki. Dengan memikirkan setiap talenta yang Anda miliki, nantinya Anda akan semakin mengenali kemampuan Anda yang membedakan Anda dari orang lain. Jadikan cara berpikir yang demikian itu sebagai topi Anda. Jangan pakai “topi pikiran negatif”.
  7. Bergaullah dengan orang-orang yang berpikir positif. Pikiran yang positif itu seperti penyakit menular. Jika Anda berada di dekat orang-orang yang pikirannya dipenuhi kebahagiaan dan keoptimisan, Anda akan secara otomatis dipengaruhi oleh cara berpikir mereka yang positif.
  8. Bacalah buku-buku yang membangkitkan inspirasi — setidaknya satu halaman setiap harinya. Buku-buku inspiratif seperti itu akan membantu Anda untuk dapat berpikir positif.
  9. Biasakan untuk selalu duduk dan berjalan dengan punggung tegak. Kebiasaan seperti itu akan membantu meningkatkan rasa percaya diri dan kekuatan yang ada dalam diri Anda.
  10. Berjalan, berenang, atau berolahragalah. Hal-hal tersebut akan membantu Anda untuk mengembangkan pikiran dan sikap yang lebih positif.
  11. cobala dateng ke ahli psikologis atau ikutilah program pelatihan pengembangan diri yang diadakan oleh lembaga – lembaga yang memberikan program pengembangan diri .
  12. Putuskan untuk berpikir positif mulai sekarang dan tinggalkan pikiran-pikiran yang negatif. Tidak ada kata terlambat untuk mulai berpikir positif dan Anda akan segera mengalami hal-hal yang lebih baik daripada sebelumnya.

Tips Menuju Sukses : Berpikiran Positif

Tinggalkan komentar

Percaya atau tidak, sikap kita adalah cermin masa lampau kita, pembicara kita di masa sekarang dan merupakan peramal bagi masa depan kita. Maksudnya apa ? Ya, bahwa kondisi masa lalu, sekarang dan masa depan kita dapat tercermin dari bagaimana sikap kita sehari-hari. Camkan satu hal, sikap kita merupakan sahabat yang paling setia, namun juga bisa menjadi musuh yang paling berbahaya.

Bagaimana sikap mental kita adalah sebuah pilihan; positif ataukah negatif.

W.W. Ziege pernah berkata.”Tak akan ada yang dapat menghentikan orang yang bermental positif untuk mencapai tujuannya. Sebaliknya, tak ada sesuatupun di dunia ini yang dapat membantu seorang yang sudah bermental negatif.

Jika kita seorang yang berpikiran positif, kita pasti mampu menghasilkan sesuatu. Kita akan lebih banyak berkreasi daripada bereaksi. Jelasnya, kita lebih berkonsentrasi untuk berjuang mencapai tujuan-tujuan yang positif daripada terus saja memikirkan hal-hal negatif yang mungkin saja terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari.

Kehidupan dan kebahagiaan seseorang tidaklah bisa diukur dengan ukuran gelar kesarjanaan, kedudukan maupun latar belakang keluarga. Yang dilihat adalah bagaimana cara berpikir orang itu. Memang kesuksesan kita lebih banyak dipengaruhi oleh cara kita berpikir.

Ingat perkataan Robert J. Hasting, “Tempat dan keadaan tidak menjamin kebahagiaan. Kita sendirilah yang harus memutuskan apakah kita ingin bahagia atau tidak. Dan begitu kita mengambil keputusan, maka kebahagiaan itu akan datang”.

Dengan bersikap positif bukan berarti telah menjamin tercapainya suatu keberhasilan. Namun, bila sikap kita positif, setidak-tidaknya kita sudah berada di jalan menuju keberhasilan. Berhasil atau tidaknya kita nantinya ditentukan oleh apa yang kita lakukan di sepanjang jalan yang kita lalui tersebut.

Dari beberapa buku yang saya baca beberapa tips berikut terbukti cukup membantu. Cobalah untuk menjalankan kegiatan-kegiatan berikut ini sebanyak mungkin dalam hidup kita. Sebagaimana untuk mencapai hal-hal lainnya, untuk menjadi seorang yang berpikiran positif, prosesnya harus dilakukan secara terus-menerus :

1. Pilihlah sebuah kutipan yang bernada positif setiap minggunya dan tulislah kutipan tadi pada selembar kartu berukuran 3 x 5. bawalah kartu tadi setiap hari selama seminggu. Baca dan camkanlah kutipan tadi secara berkala dalam sehari dan jadikan afirmasi, misalnya di meja kerja Anda, di dashboard mobil, atau di cermin kamar mandi. Jadikanlah setiap kutipan tersebut bagian pemikiran Anda selama seminggu itu.

Contoh :
“Seorang pemimpin yang baik adalah yang bisa membesarkan semangat dan harapan-harapan kepada anak buahnya.” (Napoleon Bonaparte). “Hari ini saya ingin menolong orang sebanyak mungkin” (Harry Bullis)

2. Pilihlah seseorang yang dalam hidup Anda yang Anda anggap berpikiran negatif. Cobalah cari hal-hal yang positif dalam diri orang itu dan ubahlah pikiran-pikiran negatif Anda mengenai orang tersebut dengan hal-hal positif tadi. Sebagai orang beragama, tolong doakan pula orang tersebut dengan hal-hal positif tadi dan mohonlah agar Tuhan menolongnya.

3. Pilih satu hari istimewa dalam seminggu dan jadikanlah hari itu sebagai “hari 10″. Bangunlah pada pagi hari dan yakinlah bahwa setiap orang yang akan Anda temui bernilai “10″, dan perlakukanlah mereka secara demikian. Anda pasti akan heran sendiri melihat tanggapan yang akan Anda peroleh dari orang-orang yang selama ini Anda anggap remeh.

4. Tandai suatu hari dalam seminggu sebagai “hari berpikiran positif.” Hapuslah kata-kata “tidak dapat,” “tidak pernah,” atau kata-kata lain yang senada, usahakan agar Anda menemukan cara untuk mengatakan apa yang bisa Anda lakukan.

5. Paling tidak sekali dalam seminggu, carilah suatu kesempatan untuk bisa memberi kepada orang lain dengan tulus. Lakukanlah suatu yang khusus pada suami/istri ataupun anak-anak Anda. Berbuatlah suatu kebaikan pada seseorang yang belum Anda kenal.

Siapa yang ingin sukses ?

Kuncinya jangan pernah sekali-kali berpikiran negatif !
Buang jauh-jauh hal-hal negatif; juga kalimat-kalimat negatif dari pikiran Anda !

Jangan pernah ada lagi kalimat-kalimat seperti :

“Pasti gagal;
Kami belum pernah melakukannya;
Kami tak sanggup melakukannya;
Saya belum siap melakukannya;
Itu bukan tanggung jawab kami; dan sebagainya”.

Selamat mencoba, dan ………………………………………….
SEMOGA sukses senantiasa bersama kita yang selalu berusaha maksimal
menggapainya.

Tips Memilih Ekskul

Tinggalkan komentar

Tulisan ini berusaha merangkum yang tersiar dan yang tidak sempat tersampaikan saat Wikimu mengudara di D-Radio. Tema pembicaraan adalah ‘Tips memilih ekstrakurikuler bagi remaja’. Semoga dapat membantu remaja yang sedang mempertimbangkan pilihan ekstrakurikuler.

Bentuk ekskul di SMA

Biasanya berbentuk penyaluran hobi dan belakangan ini lebih banyak pilihan yang tersedia. Mulai banyak pula pilihan yang menunjang keahlian hidup (life skill) misalnya yang berkaitan dengan keterampilan (pertanian, wirausaha) atau profesi (jurnalisme/kepenulisan).

Biasanya pula, murid lebih cenderung memilih kegiatan ekstrakurikuler yang baginya tidak membebani kegiatan sekolah (pelajaran) yang sudah berat. Karena itu dapat dimengerti jika peminat paling banyak biasanya di bidang kerohanian, olahraga, dan seni.

Dan untuk tujuan menunjang pelajaran, bidang sains (berupa kegiatan ilmiah) juga banyak dipilih, terutama karena kesan baik yang dibawa jika dicantumkan dalam riwayat hidup 🙂

Patokan memilih ekskul

Hobi/minat biasanya menjadi alasan pertama. Kebutuhan menunjang kegiatan kelas/pencapaian target (misal sangat berminat di sains dan bermaksud mampu mengembangkan penelitian sendiri) adalah alasan kedua.

Dan alasan yang juga populer adalah: teman (lo ikut, gue ikut), gebyar (rame, gengsi, terlihat banyak orang, ‘kelihatan’ apa yang dilakukan dan pencapaiannya), orangtua (musik, supaya… bisa musik hehehe… kan katanya musik bisa menunjang prestasi akademik –> ujung2nya akademik).

Yang juga harus dipertimbangkan: keadaan fisik, beban kegiatan sekolah, dan kemampuan diri. Ikut 5 ekskul mungkin tidak akan dilarang, ya. Tapi apakah mungkin untuk aktif dalam ke-5nya dengan kadar yang sama?

Peranan orangtua

Orangtua yang memilihkan ekskul untuk anaknya sesungguhnya berada dalam posisi yang riskan. Pilihan yang tidak diambil sendiri oleh anak cenderung kurang dijunjung tanggungjawabnya.

Ketika ada sesuatu beban yang menuntut anak untuk menanggungnya ia akan mudah lari dan berkata, “Yang pilih ini kan bukan saya. Wajar dong kalau saya tidak suka dan tidak antusias dalam mengikuti kegiatannya/terlibat”. Namun tentu saja baik jika pilihan orangtua diamini dan disukai oleh anak.

Orangtua yang mengambil pilihan untuk mendukung pilihan anak tentulah bermaksud bijak untuk memberi keleluasaan gerak dan kemandirian yang bertanggung jawab bagi anaknya, dan bukan pada sisi ‘terserah kamu mau ngapain, mamah ikut aja deh’.

Orangtua tentunya mengerti keadaan kesehatan anak, misalnya, sehingga wajar jika berkeberatan jika anaknya yang menderita penyakit kronis ingin masuk ekskul yang menguras fisik dan menyarankan kegiatan lain yang tidak mengandalkan kegiatan fisik sebagai 80% performa.

Jaminan ekskul

Apa ada jaminan kalau kita ikut ekskul akan pandai bersosialisasi?

TIDAK ada jaminan untuk kemahiran sosialisasi atau untuk apapun. Ikut ekskulnya karena apa? Aktivitas anak di dalam ekskul itu juga menentukan. Kalau cuma duduk diam atau asyik mengobrol dengan teman sebelah saja, apa yang bisa didapat?

Sosialisasi tentunya tidak sebatas punya banyak kenalan, namun juga memiliki kemampuan membawa diri, kadar kesopanan cukup tinggi, ramah, bagaimana berbicara pada orang yang lebih tua, bagaimana berkomunikasi yang efektif, dan sebagainya.

Sekadar banyak teman tidak cukup untuk dijadikan kadar penilaian ‘pandai bersosialisasi’. Teman banyak tapi kalau lebih dari separuhnya adalah orang-orang yang sebal padanya bagaimana? Hehehehe…

Kursus, bimbel, atau ekskul?

Sebenarnya apa sih tujuan dari ekskul?

Pembinaan siswa dalam bentuk menyeimbangkan antara kegiatan kelas dan luar kelas. Wadah beraktivitas untuk memenuhi kebutuhan pengembangan sisi pembelajaran non-akademik.

Bimbel dijadikan sebagai ekskul. Bisakah?

TIDAK. Ekskul diadakan untuk pengembangan non-akademik, sedangkan bimbel digelar untuk menunjang kegiatan/peningkatan kemampuan akademik murid. Tujuannya berbeda sehingga tidak dapat saling menggantikan.

Kesepakatan pengembangan keragaman ekskul

Tidak ada aturan kaku yang dibakukan. Cenderung pada kebutuhan murid, ‘corak’ minat murid, dan masukan bagi sekolah, juga menurut kemajuan zaman. Tidak lupa disesuaikan dengan kondisi fisik dan perkembangan anak. Panjat dinding lebih pantas diadakan di SMA ketimbang SD, misalnya.

Jaman saya (masih ber)sekolah (di SMA) dulu, tidak ada ekskul softball, tenis, rampak gendang, IT, dan sebagainya. Sekarang berkembang menjadi sangat banyak dan dengan jumlah peminat yang agak mengejutkan pula. Siapa sangka tari tradisional menjadi ekskul favorit? 🙂

Kunci membuat pilihan ekskul

Tahu apa yang diinginkan

Kalau kamu ngga tahu kamu maunya apa, tidak ada yang bisa membantu. Kalau kamu tidak tahu apa yang akan dipilih, ada baiknya mencari tahu informasi tentang (jika perlu) semua ekskul yang ada di sekolahmu.

Sekolah-sekolah tertentu menyelenggarakan ekspo (semacam pameran) ekskul dan kamu bisa bertanya apa saja dan melihat kegiatan nyata pelaksanaan program ekskul yang bersangkutan..

Tentukan targetnya

Target membantumu untuk punya tujuan dan motivasi untuk maju. Tidak harus selalu berkaitan langsung dengan ekskul yang ada, walau akan membantumu jika antara tujuan dan ekskul yang akan kamu pilih berkaitan langsung. Misalnya jika kamu tertarik dan ingin menjadi jurnalis, kamu pilih ekskul jurnalisme atau media siswa.

Tapi tak ada salahnya juga jika ingin memilih teater atau kerohanian. Pilihan tak harus selalu homogen, bukan? Asal kamu punya target, kamu akan punya titik acuan hendak ke mana dan jalanmu lebih jelas.

Pilih jalannya dan JALANI

Kalau kamu memang akan memprioritaskan sekolah (kamu memilih sekolah karena sekolahnya terkenal baik di bidang akademik, misalnya), kamu harus siap untuk tidak terpilih sebagai anggota utama karena kamu tidak bisa ikut latihan tiap sore berturut-turut selama 3 minggu itu (misalnya).

Dan sebaliknya. Kalau kamu memang ingin terjun secara profesional di bidang ekskul yang kamu jalani (merakit komputer, penari, pemain musik, dsb) dan merasa kegiatan sekolah terlalu mengekang pencapaian tujuan ‘akhir’mu, bisa jadi ini pertanda kamu ‘salah pilih’ sekolah. Kamu seharusnya pilih sekolah yang lebih longgar atau yang memiliki dukungan tinggi terhadap bidang yang kamu minati.

Tentu saja, pilihan kedua ini jarang. Tapi bukannya tidak mungkin. Diperlukan kesepakatan dan dukungan dari orangtua untuk pencapaian hidup remaja. Kecuali jika kamu siap sepenuhnya lepas dari aturan (dus tanggungan) orangtua. Tidak umum, dan bukannya saya menyarankan, tapi ada. Dan belum tentu tidak berhasil juga 🙂

Tanggung konsekuensinya.

Capek, nih… Aduh, jangan ulangan besok dong, ada latihan nih! Hei, ini pilihan kamu. Kamu harus sudah memikirkan kemungkinan ini sedari awal.

Kamu harus bersedia menanggung pilihan kamu dan tidak melarikan diri. Alasan mungkin membuatmu dapat dimengerti, tapi alasan tidak memberi pembenaran. Bertanggung jawab atas pilihan adalah ciri manusia dewasa. Siapkah kamu menjadi dewasa? 🙂

Tips Agar Tidak Mencontek Saat Ujian

Tinggalkan komentar

Bismillah

Di masa2 sebelum ujian, biasanya kita takut kalau hasil ujian tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Ini wajar temanku. Karena itulah namanya ujian, artinya menguji seberapa dalam kompetensi kita dalam menerima materi. Takut ketika ujian menjadi tidak wajar kalau hal2 yang menyebabkan kita takut adalah hal2 tak rasional, seperti takut mati dsb.

Salah satu wujud ketakutan kita saat ujian adalah kalau ternyata kita mencontek (naujubile). Mencontek itu punya banyak sisi negatif. Yang pertama itu akan mendidik kita untuk tidak jujur. Mungkin saja para koruptor dulu adalah orang2 yang suka mencontek. Bisa saja kan? Hehehe.. Selanjutnya sisi jelek atau negatif dari mencontek adalah membuat kita tidak menghargai dan mengapresiasi kemampuan kita sendiri. Kita cenderung bergantung pada orang lain, yang selanjutnya menjerumuskan kita ke jurang dengan kehampaan kemandirian. Kita jadi hilang kepercayaan diri, dan hal2 lain yang mengganggu kepribadian kita nantinya.

Bagaimana kalau kita tidak bisa mengerjakan ujian? Ya santai saja. Kalau memang tidak bisa seluruhnya, pasrah saja. Jangan jadikan itu alasan kita boleh mencontek. Hihihi.. Berikut sedikit tips2nya

0. Persiapan matang
Sudah pasti, karena kesuksesan itu sebenarnya gabungan dari persiapan dan kesempatan. Kalau persiapan kita udah matang, mengapa mesti takut? Walau kadang2 juga soal ujian tidak pernah kita duga, yang membuat kita keringat dingin bahkan untuk 10 menit pertama saja.

1. Kalem Brur…
Biar kalem gimana dong? Ya baca bismillah. Hehehe.. Karena hanya dengan mengingat Allah hati kita menjadi tenang. Jangan sungkan2 nulis basmalah di kertas ujian, sapa tau jadi jimat bagus. Hihihihi.. Enggak ding. Yah pokoknya segala sesuatu yang dimulai dengan basmalah pasti dapet berkah deh.. Percaya kan? Ayo dong percaya.. 😛

2. Jaga konsentrasi
Kadang2 kita tidak tahu harus menulis apa di kertas ujian bukan karena kita tidak tahu, tapi karena beberapa materi yang “nyempil” di otak kita dan belum terbuka segelnya saja. Jadi, tetap konsentrasi dan kalem, siapa tahu2 Allah Kasih kita kemudahan, dan… TING! Kita tiba2 dapet ilham untuk mengerjakan soal yang kita anggap sulit tadi. Insya Allah. Nah, jadi jangan menyerah. Dan satu lagi, jangan terpengaruh oleh teman2 kita yang keluar cepet. Hihihiii kan belum tentu juga jawaban mereka bener. Hehehe.. Pokoknya berdjoeang sampe akhir sajalah. 😀

3. Ingat2 akibatnya kalau kamu ketahuan
Biasanya sih ditegur dan disuruh nulis berita acara. Isinya ga jauh2 dari “saya melakkan kesalah saat ujian” dan biasanya berakibat pada menurunnya (atau bahkan hilang/dianggap ga ada) nilai mata ujian yang bersangkutan untuk kita. Nah, kalau udah begitu ribet kan? Hehehe.. Makanya jangan nyontek yach? 😉

Oke ya? jangan nyontek ya? 🙂

MENCONTEK, MUBAH ATAU HARAM ??

Tinggalkan komentar

Assalammu’alaikum Wr. Wb.

Saya yakin saudara sekalian tahu apa itu mencontek ? Dan juga paling tidak saudara pernah melakukannya walaupun hanya sekali. SEkali ? Mana mungkin ?…

Mencontek adalah aktivitas menjiplak pekerjaan atau karya orang lain tanpa izin ataupun tanpa mencantumkan sumber. Jadi dari definisinya saja sudah kita ketahui, bahwa konotasinya adalah negatif. Lalu bagaimana jika kita terpaksa atau jika kita memang tidak bisa mengerjakannya sendiri. Sebelum itu mari kita simak pandangan islam mengenai mencontek.

Hukum Mencontek

Mencontek itu berarti sama saja dengan berbohong. Ketika kita mencontek dan hasil dari contekan kita mendapat nilai yang baik, para guru dan orang tua memuji kita. Padahal kita tahu bahwa hasil itu kita dapatkan dengan jalan yang batil, yaitu mencontek. Coba pikir, nilai baik itu bukan berasal dari kemampuan kita, tetapi dari kreatifitas kita dalam mencontek, mencuri – curi dalam kesempitan. Apakah yang demikian ini, tidak bisa disebut berbohong atau menipu ? Padahal Rasulullah sudah memperingatkan kita akan bahayanya berbohong

Dari Ibnu Mas’ud Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Hendaklah kalian selalu melakukan kebenaran, karena kebenaran akan menuntun kepada kebaikan, dan kebaikan itu menuntun ke surga. Jika seseorang selalu berbuat benar dan bersungguh dengan kebenaran, ia akan ditulis di sisi Allah sebagai orang yang sangat benar. Jauhkanlah dirimu dari bohong, karena bohong akan menuntun kepada kedurhakaan, dan durhaka itu menuntun ke neraka. Jika seseorang selalu bohong dan bersungguh-sungguh dengan kebohongan, ia akan ditulis di sisi Allah sebagai orang yang sangat pembohong.” Muttafaq Alaihi.

Dari hadits di atas sudah dijelaskan bahwa berbohong memang berdampak buruk, khususnya di masa – masa yang akan dating. Bagaimana tidak sekali berbohong, maka seseorang akn menutupinya dengan kebohongan yang lain. Selain itu dari sebuah kebohongan kecil seperti menyonteklah lahir para koruptor – koruptor di negeri ini. Apa saudara ingin menjadikannya sebagai suri tauladan ?? Naudzubillahi min dzalik.

Selain itu menyontek sama saja mencuri. Mencuri kesempatan dalam kesempitan tepatnya, yang bermuara kepada kejelekan.

Dari Abu Bakar ash-Shiddiq Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang suka menipu, orang kikir, dan orang yang tidak bertanggungjawab terhadap apa yang dimilikinya.” Riwayat Tirmidzi. Ia menjadikannya dua hadits dan dalam sanadnya ada kelemahan.

Apa saudara ingin tidak masuk surga ? Saya yakin pasti tidak. Satu hal lagi yang penting adalah menyontek berarti sama saja melanggar aturan dari pemimpin kita, padahal islam mengajarkan kita untuk selalu mematuhi para pemimpin.

Hadis riwayat Abu Hurairah ra.: Dari Nabi saw. beliau bersabda: Barang siapa yang mentaatiku berarti ia telah mentaati Allah, dan barang siapa yang mendurhakai perintahku, maka berarti ia telah mendurhakai Allah. Barang siapa yang mematuhi pemimpin berarti ia telah mematuhiku dan barang siapa yang mendurhakai pemimpin berarti ia telah mendurhakaiku. (Shahih Muslim No.3417).

Kesimpulan

Jadi dari uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa menyontek hukumnya haram. Karena menyontek sama dengan mencuri, berbohong, menipu dan tidak mematuhi aturan pemimpin kita. Sekarang jika saudara bertanya bagaimana kalau kepepet atau tidak bisa ?. Maka jawaban adalah pasrah pada Allah dan terus berusaha serta berdo’a. tetpi jika saudara tetap memaksa, maka boleh saudara melakukannya asal saudara mencantumkan dalam lembar jawaban daftar pustaka dari jawaban orang yang saudara contek, hehhehe….. Jadi, tetap berpegang teguh pada kebenaran, maka Allah akan membimbing kita.

Wassalammu’alaikum Wr. Wb.

Mencontek dalam Islam

Tinggalkan komentar

nyontekMasa-masa Ujian selalu menimbulkan rasa berontak ingin meneriakkan sesuatu.

WOI JANGAN NYONTEEEEK!!!!

Sebel rasanya kalau liat banyak temen-temen yang nyontek dan tidak mau berusaha untuk jujur. Sebenarnya kenapa mereka suka mencontek ? Bahkan untuk soal yang tidak membutuhkan hafalan alias konsep pun nyontek.

Rasanya nasehat saja tidak cukup untuk menghindarkan saudara kita dari contek-mencontek. Oleh karena itu saya akan mengulas sedikit tentang hukum mencontek ketika ujian dalam perspektif Isalam. Tulisan ini saya buat berdasarkan beberapa referensi yang saya baca.

HUKUM MENCONTEK

Dalam sebuah hadist dikatakan bahwa Rasulullah saw bersabda :

Barangsiapa mencurangi kami maka bukan dari golongan kami”(HR. Muslim)

Dari hadist di atas jelas tergambar bagaimana kedudukan orang yang berbuat curang. Dalam hal ini, mencontek dan bahkan menconteki teman dengan membiarkan teman lain membaca jawaban kita, adalah termasuk kecurangan dan hal ini merupakan hal yang jelas-jelas dilarang dalam Islam.

Mungkin masih banyak dari saudara/i kita semuslim yang tidak segan mencontek untuk mendapatkan hasil yang sempurna. Cara apapun dilakukan, asalkan tidak ketahuan. Padahal Allah berfirman :

“Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ghaib di langit dan di bumi, Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (Q.S. Al-Hujuraat:18).

Saudaraku, sudah selayaknyalah hanya kepada Allah kita berserah diri dan memohon pertolongan/petunjuk. Ingat, sertai tawakal dengan ikhtiar. Kalau yang mudah saja kita selesaikan dengan jalan mencontek, lalu apa kelebihan dan kemampuan kita??

Ketidakbisaan bukan alasan. Kita bisa belajar dan mencoba memahami apa yang kita hadapi. Saya yakin hasilnya akan lebih mengena dan yang pasti, dapat menjadi berkah dan kita yang berusaha melakukan perintah Allah dan menjauhi larangannya, semoga senantiasa termasuk golongan orang-orang yang beruntung. Amin…

Belajar Efektif Ala Steven Covey

Tinggalkan komentar

Ingin sukses dalam belajar?  Ingin mendapatkan suatu cara efektif untuk belajar dengan menyenangkan?  Berikut ini adalah 7 (tujuh) langkah yang dapat kamu lakukan dan kembangkan sendiri yang diadaptasi dari buku Seven Habits of Highly Effective People karangan Steven Covey.

  1. Bertanggung jawab atas dirimu sendiri.Tanggung jawab merupakan tolok ukur sederhana di mana kamu sudah mulai berusaha menentukan sendiri prioritas, waktu dan sumber-sumber terpercaya dalam mencapai kesuksesan belajar.
  2. Pusatkan dirimu terhadap nilai dan prinsip yang kamu percaya. Tentukan sendiri mana yang penting bagi dirimu. Jangan biarkan teman atau orang lain mendikte kamu apa yang penting.
  3. Kerjakan dulu mana yang penting. Kerjakanlah dulu prioritas-prioritas yang telah kamu tentukan sendiri. Jangan biarkan orang lain atau hal lain memecahkan perhatianmu dari tujuanmu.
  4. Anggap dirimu berada dalam situasi “co-opetition” (bukan situasi “win-win” lagi). “Co-opetition” merupakan gabungan dari kata “cooperation” (kerja sama) dan “competition” (persaingan). Jadi, selain sebagai teman yang membantu dalam belajar bersama dan banyak memberikan masukkan/ide baru dalam mengerjakan tugas, anggaplah dia sebagai sainganmu juga dalam kelas. Dengan begini, kamu akan selalu terpacu untuk melakukan yang terbaik (do your best) di dalam kelas.
  5. Pahami orang lain, maka mereka akan memahamimu. Ketika kamu ingin membicarakan suatu masalah akademis dengan guru/dosenmu, misalnya mempertanyakan nilai matematika atau meminta dispensasi tambahan waktu untuk mengumpulkan tugas, tempatkan dirimu sebagai guru/dosen tersebut. Nah, sekarang coba tanyakan pada dirimu, kira-kira argumen apa yang paling pas untuk diberikan ketika berada dalam posisi guru/dosen tersebut.
  6. Cari solusi yang lebih baik. Bila kamu tidak mengerti bahan yang diajarkan pada hari ini, jangan hanya membaca ulang bahan tersebut. Coba cara lainnya. Misalnya, diskusikan bahan tersebut dengan guru/dosen pengajar, teman, kelompok belajar atau dengan pembimbing akademismu. Mereka akan membantumu untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik.
  7. Tantang dirimu sendiri secara berkesinambungan. Dengan cara ini, belajar akan terasa mengasyikkan, dan mungkin kamu mendapatkan ide-ide yang cemerlang.

Older Entries