Mau tahu tentang kuliah neh….???

Tinggalkan komentar

Buat kalian yang sekarang udah kelas 3 SMA (dan yang masih kelas 1 atau 2 ini mungkin bisa jadi bahan referensi ), mungkin ada sedikit informasi yang bisa kalian ketahui untuk menambah referensi kalian tentang perguruan tinggi. Yang jelas perguruan tinggi itu terbagi menjadi tiga, perguruan tinggi negeri, perguruan tinggi swasta, dan perguruan tinggi yang punya ikatan dinas. Kalian bisa milih tuh mana perguruan tinggi yang sesuai dengan keinginan kalian, sesuai dengan keadaan financial (keuangan), dan sesuai dengan prospek kerja yang diminati. Untuk bisa bergabung kedalam perguruan tinggi itu kalian bisa menempuhnya dengan tiga jalur, yaitu SNMPTN, PMDK, dan UM. Nah sekarang kalian tinggal meninmbang-nimbang mana yang kalian anggap cocok dan sesuai dengan cita-cita serta keinginan kalian, coba bicarakan kembali dengan orang tua dan jika ingin konsultasi lebih lanjut coba deh konsultasikan dengan guru BK sekolah, …^_^

Oya..hampir lupa…di bawah ini ada link dimana kalian bisa akses langsung tentang berbagai perguruan tinggi negeri, swasta, dan ikatan dinas di indonesia…

1. Link untuk perguruan tinggi negeri di Indonesia

http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_perguruan_tinggi_negeri_di_Indonesia

 

2. Link untuk perguruan tinggi swasta di Indonesia

http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_perguruan_tinggi_swasta_di_Indonesia

 

3. Link untuk perguruan tinggi ikatan dinas

http://evisyari.wordpress.com/2009/02/22/daftar-sekolah-tinggi-ikatan-dinas/

 

Atau bisa juga kalian langsung klik saja Daftar Perguruan Tinggi yang ada dsamping Blog BK ini….

Jangan lupa yah…kalo kalian pengen liat lebih lanjut tentang perguruan tingginya…kalian bisa klik alamat website perguruan tingginya di setiap artikelnya…^_*

Iklan

Sebenarnya Apa Sih Bakat Kita Ini?

Tinggalkan komentar

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Adakah orang yang meragukan keampuhan bakat sebagai modal dasar bagi seseorang untuk meraih kesuksesan? Kelihatannya tidak ada. Karena, kita percaya bahwa jika bisa mengoptimalkan bakat alias talenta kita, maka pastilah kita akan menjadi orang yang sukses. Persoalannya kemudian adalah, bagaimana kita mengidentifikasi dan mengenali apa sesungguhnya talenta kita ini? Bahkan, meskipun umur kita sudah tergolong dewasa, kita tidak benar-benar yakin bahwa kita sudah bekerja pada bidang yang sesuai dengan bakat yang kita miliki. Apakah anda juga merasakan hal sedemikian?

Salah satu hal menarik yang bisa kita saksikan dari kontes-kontes dijaman modern seperti American atau Indonesian Idol, Britain Got Talents, dan kontes serupa lainnya adalah; kita sering dikejutkan oleh orang-orang yang menyimpan bakat tersembunyi didalam dirinya selama berpuluh-puluh tahun. Selama itu, bakat mereka terkubur dalam balutan tubuh masing-masing. Dan tak sesaatpun terbangunkan hingga mereka mengikuti kontes itu.

Dalam salah satu tayangan kontes itu saya menyaksikan seorang lelaki berusia tiga puluhan. Dia mengatakan bahwa cita-citanya adalah untuk melakukan sesuatu yang menjadi alasan terbesar mengapa dia dilahirkan, yaitu; menyanyi. Namun selama ini dia tidak pernah melakukannya karena menurutnya;saya selalu mempunyai masalah besar dengan kepercayaan diri dan keyakinan bahwa saya bisa tampil dengan baik. Dari wajah dan tatapan matanya, kita bisa segera tahu bahwa orang ini memang sangat malu dan minder.

Ketika naik keatas panggung menghadapi audiens dan Pak Simon Cowell beserta dua juri lainnya, dia kelihatan benar-benar gugup. Apa yang akan kamu lakukan disini?kata salah seorang juri. Saya akan menyanyikan lagu opera….katanya dengan nada getar. Semua penonton terdiam, besiap untuk memberikan simpati dan belas kasihan. Sedangkan semua juri mengernyitkan dahi, dan mempersilakan orang itu melakukan apa yang ingin dilakukannya dengan nada enggan.

Sesaat kemudian, musik opera mulai diputar membuat pengunjung semakin mengkhawatirkan nasib sang kontestan saat dikritik oleh juri nanti. Namun, ketika bunyi pertama keluar dari suara vokal lelaki itu, semua pendengar terperangah. Bahkan, sang juri paling sangar sedunia itupun terkejut dan mulai menatap kearahnya dengan tatapan mata kekaguman. Mendengar suaranya yang tidak kalah dengan Luciano Pavarotti itu, pendengar yang terbius mulai menitikkan air mata. Lalu, mereka berdiri dan bertepuk tangan ketika nyanyian itu berakhir. Hingga acara selesaipun penampilannya masih menjadi pembicaraan dimana para juri merumpikannya sebagai salah satu penampilan paling mengejutkan dari kontestan yang sempat disepelekan.

Pada kesempatan lain, saya bertemu dengan salah seorang sahabat yang berpofesi sebagai pengelola radio. Orang ini telah sukses membawa banyak radio yang ditanganinya hingga menjadi bisnis yang menguntungkan dan bergengsi. Ketika saya bertanya; tantangan terberat apa yang pernah dihadapinya? Dia menyebutkan; pandangan masyarakat. Maksudnya, orang-orang disekitarnya yang menganggap bahwa bekerja diradio bukanlah bekerja. Sebab, masyarakat kita sering menganggap bekerja itu identik dengan dasi atau seragam bagus. Atau, memiliki kartu nama bertuliskan perusahaan semacam bank atau perusahaan lain yang memiliki nama besar. Diluar itu; nilai bekerja menjadi berkurang.

Sampai disini, kita sudah mendiskusikan 2 rintangan terbesar yang sering kita hadapi ketika ingin mengoptimalkan bakat yang kita miliki. Pertama adalah rintangan dari dalam diri ketika kita dihambat oleh rasa percaya diri. Kita ragu jika apa yang bisa kita lakukan itu benar-benar bernilai. Dan kedua adalah hambatan dari luar diri kita, ketika kita harus berhadapan dengan stigma yang berlaku dimasyarakat. Mereka menilai rendah orang-orang yang memiliki profesi aneh dan tidak sesuai dengan gambaran profesi yang kebanyakan orang definisikan.

Dan ternyata memang benar bahwa kedua hal itu sangat efektif dalam menggagalkan kita untuk sampai kepada pencapaian tertinggi yang sesunguhnya bisa kita raih. Faktanya, betapa seringnya kita merasa ragu apakah kita akan mendapatkan penghasilan yang memadai jika memilih untuk melakukan apa yang kita yakini sebagai bakat sesungguhnya yang kita miliki. Dan keraguan itu telah membuat kita memilih untuk bekerja pada suatu profesi yang sesungguhnya bisa dikerjakan tanpa bakat khusus. Maka jadilah kita orang yang bekerja pada bidang yang tidak benar-benar kita sukai. Dan kita membiarkan bakat itu terkubur sia-sia.

Betapa seringnya kita merasa takut masyarakat tidak akan bersedia menerima apa yang kita lakukan sesuai dengan bakat kita itu. Padahal, kita semuanya yakin bahwa ketika kita bisa memberi manfaat kepada lingkungan dan masyarakat, maka akan selalu ada tempat yang bersedia menerima kita dengan tangan terbuka. Mungkin, yang perlu kita lakukan adalah menemukan tempat yang tepat itu. Sebab, kita semuanya yakin bahwa setiap manusia dilahirkan dengan sebuah misi yang Tuhan berikan; yaitu berkontribusi kepada dunianya. Dan ketika setiap orang memahami itu, maka mestinya tidak ada lagi kehawatiran yang menghambat seseorang untuk berfokus kepada bakat yang dimilikinya. Dan mendalami kegiatan dan pekerjaan sesuai dengan bakat itu. Sebab, ketika seseorang bekerja sesuai dengan bakatnya; bukan hanya akan melakukannya dengan gembira dan suka cita. Dia juga juga akan menghasilkan karya yang mengesankan. Sebab, salah satu alasan Tuhan memberi kita bakat yang unik dan berbeda-beda adalah; untuk saling memberi manfaat dengan sesama. Satu sama lain.

10 cara menghargai keunikan diri

Tinggalkan komentar

Sebuah pesan yang kita dengar ketika masih kanak-kanak adalah bahwa lebih baik memberi daripada menerima. Atau yang terbaik adalah menjadi rendah hati. Adalah terbaik untuk tidak menyinarkan sinar terang atas diri kita sendiri.

Hal itu benar, namun tidak sepenuhnya benar. Kita juga perlu mengenali bahwa sampai kita menghargai diri kita dengan kasih dan belas kasihan barulah kita mampu memberi sepenuhnya kepada orang lain, atau menyinarkan terang kepada orang lain atau kita tidak akan benar-benar mengerti arti kerendah-hatian.

Langkah-langkah sederhana di bawah ini akan membawa Anda menapaki sebuah jalan untuk menghargai keunikan diri Anda setiap hari. Gunakanlah langkah-langkah ini untuk melihat bagaimana Anda melakukannya. Pilihlah untuk membuat perombakan di tempat dimana perombakan dibutuhkan.

1. Ambillah waktu untuk berdiam diri setiap hari. Ya, memang betul ada banyak sekali yang harus diselesaikan. Sekali Anda memelihara suatu kebiasaan untuk menjadi tenang, baik untuk merenung, berdoa atau bermeditasi maka Anda akan tercengang melihat betapa lebih efisiensi Anda melaksanakan tugas-tugas, kewajiban dan proyek-proyek Anda.

2. Perlakukan diri Anda dengan penuh perhatian, lebih dari Anda memperlakukan orang lain. Cintai dan rawatlah diri Anda sendiri seperti Anda mencintai dan merawat mereka yang ada di sekeliling Anda. Sekali Anda mampu memperhatikan diri Anda, maka memperhatikan orang lain bukan lagi suatu usaha yang berat menum mengalir keluar dari hati Anda dan lebih dari sekedar kewajiban.

3. Terimalah pujian dari orang lain dengan keanggunan. Jangan pernah merendahkan mereka dengan mengacuhkan atau mengingkari pujian mereka. Sebaliknya terimalah layaknya Anda menjadi kotak harta karun atau hadiah yang lama dinantikan. Ucapkan syukur bahwa mereka dapat melihat sesuatu ekstra istimewa mengenai Anda!

4. Ambillah waktu melakukan investasi dengan cara mengembangkan suatu persahabatan yang dekat. Gabungkan beberapa teman untuk membentuk berbagai aktivitas dalam kerutinan sehari-hari. Berlatihlah bersama seorang teman melalui makan bersama. Tetaplah berhubungan melalui email singkat atau 10 menit menelepon setiap hari dan TEPATI bila melakukan janji bertemu.

5. Kelilingi diri Anda dengan keindahan. Hargai rumah Anda dengan mendekornya sebagai satu cara untuk mengekspresikan siapa diri Anda dalam pekerjaan rumah. Apabila Anda berani, pergunakan warna-warna berani dan asesoris. Nyalakan lilin beraroma wangi, dengarkan musik yang Anda suka, pergunakan sabun yang penuh bisa dan berbau wangi.

6. Berilah dengan gembira dan terima dengan tangan terbuka. Kenalilah bahwa memberi dan menerima adalah suatu rangkaian yang sama dan tidak terpisah sama sekali! Belajar memberi sepenuhnya menterjemahkan menerima lebih dari pada yang pernah Anda rancangkan atau harapkan dalam menerima.

7. Jadilah bagian dari komunitas yang lebih besar. Hal ini bisa saja berarti seuah kelompok tertentu atau mungkin suatu lingkaran sahabat atau grup diskusi buku. Hubungkan diri Anda dengan mereka yang memiliki kesamaan hobby, cita-cita dan visi bagi dunia. Sinergi akan memperlengkapi Anda dengan kekuatan yang menakjubkan ketika Anda bergabung dalam sebuah komunitas dimana Anda secara sejajar dapat memberi dan menerima pada tingkat paling rendah secara teratur.

8. Jadilah mentor atas seseorang secara sederhana demi kesenangan mengobservasi dan menjadi telibat dalam pertumbuhan mereka. Undanglah seseorang yang tidak memiliki tingkatan keahlian yang sama seperti Anda selagi Anda berjalan bersamanya. Dengarkanlah masukan mereka dan lihatlah apa yang dapat Anda ciptakan bersama-sama. Kesempatan-kesempatan adalah Anda akan belajar banyak dari mereka (demikian juga sebaliknya) menciptakan situasi Win/Win sekaligus mempelajari kekuatan-kekuatan dan kelemahan Anda sendiri dalam suatu proses.

9. Hiduplah dengan tujuan, visi, suatu hidup yang berorientasi kepada berbagai penyebab. Kenali dan rengkuhlah bahwa Anda sedang menciptakan hidup Anda seperti seorang seniman ahli setiap hari. Anda dapat memilih tiap-tiap hari apakah Anda menghendaki hidup yang dengan mudah dan berjalan begitu saja atau Anda menghendaki untuk menjadikannya penuh. Pilihlah yang kedua.

10. Cintai diri Anda dengan sepenuh hatimu, jiwamu dan kekuatanmu tanpa ada kaitan dengan apa yang Anda sedang capai dalam hidup Anda hari ini. Jadilah seorang yang berbelas kasihan dan pengertian namun sekaligus berdiri teguh dalam satu pengetahuan bahwa Anda dengan amat menakjubkan adalah unik dan mampu. Ketika Anda menguasai keseimbangannya, bila dikaitkan dengan hasil-hasil akhirnya nanti bukan lagi menjadi suatu masalah karena Anda akan mencapai hasil yang jauh melampaui imajinasi Anda. Anda akan menjadi begitu magnetis dan Anda akan bertanya-tanya di mana saja Anda selama ini ? Jawabannya? Anda TEPAT ada di sana, siap dan menunggu untuk mengikuti prinsip-prinsip sederhana ini. Hiduplah dengan Gairah. Hari ini.

Mengetahui Bakat Bawaan

Tinggalkan komentar

JAKARTA, KOMPAS.com — Ditanya akan memilih jurusan apa saat kuliah nanti, Santi mengaku bingung menentukan pilihan, apalagi ketika pilihan tersebut dikaitkan dengan bakat dan minatnya. “Jangankan memilih sesuai minat dan bakat, saya sendiri pun belum tahu minat dan bakat saya,” katanya.

Santi (18), sebutlah namanya begitu, mengaku dirinya memang bukan siswa pandai di kelas. Namun, ia juga bukan nomor buncit dalam urusan nilai pelajaran. Hanya, dia merasa tidak “ngeh” soal minat atau bakatnya pada hal-hal tertentu.

Memang, kerap orang mengatakan minat dan bakat adalah teropong bagi jalan kehidupan di masa depan. Membayangkannya pun terasa menyenangkan karena dengan keduanya kita bisa menjadi siapa pun yang diinginkan asalkan mau kerja keras dan pantang menyerah.

Kenyataannya, pemahaman itu justru sebaliknya. Hal itu sering kali menimbulkan masalah ketika kita beranjak dewasa dan tiba saatnya memilih bidang pendidikan dan karier. Pemahaman itu sedikit banyak menciptakan ilusi akan beragam pilihan bidang pendidikan dan karier yang menjanjikan masa depan. Dan lagi, apakah semua itu pilihan yang benar-benar kita inginkan?

Selain itu, pemahaman tersebut juga membentuk imajinasi tersendiri bahwa kita bisa menjadi sosok terbaik di bidang apa pun yang kita minati. Duh, apa betul begitu? Apakah bisa, prestasi seorang Chris John yang dielu-elukan berkat tinjunya di atas ring itu akan bersinar oleh puja-puji pula di lapangan basket?

Nyatanya tidak. Adalah sebuah fakta bahwa kita memang tidak bisa menjadi siapa pun yang kita mau. Kita lupa, selain minat, ada faktor lain yang sangat menentukan langkah kita ke depan. Ya, bakat dan latihan khusus untuk mempertajamnya.

Temukan, Bukan Ciptakan
Kenyataan, tidak semua orang bisa menjadi seorang Chris John, Bill Gates, atau David Beckham. Mereka bertiga punya bakat alami dan telah menjadikan bakat itu sebagai investasi yang dilatihnya sejak lama. Dan kita tidak bisa membuat dan mengubahnya “semau gue”.

Sekarang, lihat ke sekeliling Anda! Mungkin, ada orang yang suka duduk berlama-lama di depan laptop? Bahkan saking lamanya Anda lupa, kapan orang itu makan dan minum?

Atau, Anda pun mungkin bingung, kenapa rekan dekat Anda lebih memilih les guru bahasa Inggris ketimbang Anda yang lebih senang naik gunung atau bermain band di saat libur? Banyak, dan banyak lagi contoh yang kita pun tidak tahu keuntungan mereka melakukan semua itu.

Anda pun sebetulnya bisa begitu. Meniru untuk kreatif berekspresi seperti mereka, berhasil lalu merasa puas. Namun kelak yang terjadi, Anda tidak akan pernah merasa nyaman melakukan hal-hal di luar kerangka bakat Anda tersebut.

Ya, Anda tidak akan bisa menjadi mahasiswa arkeologi dan menjadi arkeolog mumpuni karena Anda sebenarnya sama sekali tidak hobi “keluyuran”. Usaha Anda hancur terus dan kapok untuk terjun ke bidang bisnis sehingga Anda memilih kembali menjadi karyawan. Tidak salah, Anda memang tidak punya hobi itu. Anda tidak bakat!

Mutlak, Anda harus paham apa yang disebut dengan bawaan atau nature (hormonal atau DNA) dan latihan atau nurture. Sejatinya, yang harus Anda lakukan ialah membentuk diri Anda tak ubahnya dengan bawaan Anda sejak lahir. Anda jangan hanya menginginkan suatu bidang pendidikan yang bisa membuahkan karir tertentu dengan gaji selangit.

Jika itu Anda lakukan, berarti Anda sudah “bunuh diri”. Pasalnya, kerangka neurologis Anda yang telah membentuk bakat tersebut akan menolak. Alhasil, Anda tidak dapat menikmatinya. Kecuali, Anda memang berniat keras untuk menambal “kekurangan” tersebut dengan nurture, dengan latihan-latihan khusus.

Semakin cepat Anda sadar untuk melihat diri Anda dan menemukan potensi di dalamnya, semakin beruntung pula Anda. Pilihan minat dan bakat Anda dengan sendirinya akan lebih mudah Anda tentukan.

Anda mulai bisa memilih peran Anda, bentuk pendidikan yang cocok untuk menambal peran tersebut, serta produktifitas yang akan Anda hasilkan kelak di dunia kerja. Cara memulainya, simak beberapa hal di bawah ini:

Maksimalkan kekuatan Anda, tuntaskan pula kelemahan Anda!
Jika Anda termasuk orang yang sulit berdiplomasi, dapatkah Anda terjun bebas ke dalam bidang ini karena Anda menyukainya? Kalau Anda tergolong paling lambat mengambil keputusan, dapatkah Anda melatihnya sekeras hati? Jika Anda bukan seorang konseptor, siapkah Anda menjadi seorang “ahli lapangan” agar kekurangan Anda tersebut lenyap ditelan bumi!

Tidak cukup latihan keras, Anda butuh bakat alami!
Memang, antara pengetahuan, keterampilan, serta materi bisa Anda dapatkan melalui belajar dan latihan. Namun, hal sesungguhnya yang penting adalah bakat sebagai bawaan Anda sejak lahir. Anda akan mampu melakukan segala hal berkat keterampilan, sementara kuantitas dan kualitas Anda melakukannya adalah berkat dorongan bakat alami Anda.

Siapkan sistem pendukung hindari aktivitas tak terarah!

Sistem pendukung itu bisa saja hanya berupa pesan singkat di ponsel atau sekadar kertas-kertas yang Anda tempel di meja belajar, bahkan pintu kamar!

Sadar dan amati reaksi spontan Anda saat menyikapi hal atau kejadian

Nah, bagaimana Anda akan mengambil peran atas kejadian itu? Anda cenderung memegang kendali, membuat analisa hal itu secara seksama, atau hanya berusaha mencari sisi-sisi lain ternyata tidak penting dari kejadian tersebut?

Amati besarnya niat dan keinginan Anda melakukan aktivitas tertentu

Dari situ, yakinkan bahwa sebuah aktivitas telah membuat Anda rindu untuk berulang melakukannya. Rasa rindu itu akan senantiasa timbul hingga Anda lekas-lekas melakoninya.

Secepat apa Anda belajar dan menguasai sebuah bidang tertentu?
Secepat kilat atau selambat becak? Sadari hal itu dan bandingkan upaya Anda dengan hasil yang didapatkan oleh rekan-rekan Anda.

Sepuas apa perasaan Anda seusai melakukannya?
Entah, karena yang pasti, saat melakukannya Anda nyaman, senang, dan membuat Anda sejenak tenggelam di dalam keasyikan melakukannya.

Monitor perilaku dan perasaan Anda ketika menjalaninya
Dari sini Anda akan mengevaluasi apa yang sudah Anda lakukan. Amati dan berikan analisis pada diri Anda. Benarkah ini pilihan Anda?

Anda tidak bisa menikmati? Anda lambat dan merasa tidak berkembang?
Tinggalkan sekarang juga! Cari peran lain, jangan habiskan uang dan waktu Anda hanya untuk mengatasi kelemahan Anda, melainkan juga pertajam bakat dan kekuatan alami dalam diri Anda.

Ingat, banyak orang muda yang sukses. Yakinlah bahwa mereka memang pribadi-pribadi yang menemukan bakatnya sejak dini dan mau belatih sebagai investasi di masa depannya.

memanfaatkan bakat yang dimiliki

Tinggalkan komentar

Sudah mengetahui bakat yang dimiliki? Mulailah Anda mengembangkannya. Namun jika belum tahu apa bakat yang dimiliki, belum terlambat untuk mengetahuinya. Anda hanya butuh empat kunci berikut untuk mengeluarkan potensi Anda yang sesungguhnya.

1. KEAHLIAN
Pernahkah Anda mempelajari sesuatu yang benar-benar baru dan ternyata Anda dapat menguasainya dengan mudah? Atau mengerjakan sesuatu lebih cepat dari rekan lain? Bisa jadi, itulah bakat yang sedang memanggil, menunggu Anda meraihnya dan mengembangkannya.  Jika Anda dengan mudah bisa menyelesaikan sebuah perhitungan saat orang lain menyumpahi kalkulator. Berarti disitulah bakat Anda. Nah, pikirkanlah hal-hal yang begitu mudah bagi Anda tetapi tidak bagi teman-teman. Kemudian, perhatikan bakat apa yang tengah bekerja pada diri Anda.

2. KETERTARIKAN
Cara lain menemukan bakat adalah dengan memikirkan hal-hal yang begitu Anda inginkan. Seringkali hal-hal yang menarik perhatian selalu berkaitan dengan kemampuan alami atau bakat. lni merupakan suatu pola konsisten dalam hidup dan bukan sekadar cara menghabiskan waktu alias hobi semata.  Nah, coba pikirkan apa yang paling Anda ingin lakukan seharian? Menonton film? Melatih hewan? Menata barang? Memainkan alat musik? Atau membaca buku? Sesuatu itu tidak harus yang menjadi ambisi Anda, meski ambisi merupakan petunjuk kuat adanya bakat yang tengah bekerja.

3. KEPUASAN
Apa yang membuat Anda merasakan kebahagiaan dan kepuasan dalam bekerja? Pekerjaan apa yang membuat Anda begitu hanyut dan merasa tak ingin berhenti saat mengerjakannya? Bagi para atlet, perasaan hanyut sering terjadi ketika mereka berolahraga. Sementara bagi para ahli komputer, perasaan hanyut terjadi ketika mereka menghadapi piranti lunak. Dalam keadaan hanyut, kita memang menjadi sangat terfokus pada kesempatan untuk menggunakan bakat. Alhasil, pola gelombang otak kita saat itu begitu mirip dengan pola gelombang otak ketika kita tertidur lelap. Nah, sekarang apa yang membuat Anda terhanyut? Jika Anda belum juga menemukan, pikirkan suatu kegiatan yang membuat Anda terlibat sepenuhnya. Mungkin bakat Anda ada di sana.

4. KEBIASAAN
Pernahkah Anda dipuji karena kemampuan atau sikap Anda? Misalnya, orang menilai Andasebagai karyawan yang sangat teratur atau ide pemasaran Anda hebat, atau Anda pendengar yang baik, dan lain sebagainya. Lewat komentar orang-orang di sekitar, Anda juga bisa mengetahui kemampuan alami Anda.  Ketrampilan alami memang bisa muncul dalam berbagai cara. Namun, kadang kita menganggapnya biasa saja karena ketrampilan itu sudah sangat melekat sehingga hampir tak disadari kehadirannya. Lalu, bagaimana mengenali bakat itu? Coba cermati apa yang membuat orang tertarik pada Anda, mengenali Anda atau terfokus pada Anda? Apakah Anda menjadi tempat curahan hati teman-teman? Atau mereka selalu meminta pendapat Anda soal pakaian? Nah, di sanalah bakat Anda tersimpan. Anda hanya perlu mencari kesempatan untuk mengembangkannya. Namun yang juga perlu diingat, bahwa belum tentu bakat yang sudah Anda pastikan tersebut membawa keberhasilan. Karena keberhasilan sesungguhnya tetap mengacu kepada kemauan untuk berusaha sekeras mungkin. Dengan kata lain, bahwa apapun bakat Anda, tetap pelajari dan tekuni hal2 lainnya yang bisa menunjang dan meningkatkan kemampuan Anda.

SALAH KAPRAH TENTANG PENJURUSAN KELAS DI SMU

Tinggalkan komentar

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1988 : 770), “salah kaprah” artinya “kesalahan yang umum sekali, sehingga orang tidak merasa salah kalau melakukannya”.

Tulisan ini mencoba untuk mengangkat beberapa hal yang salah kaprah tentang penjurusan kelas di SMU.

Seperti diketahui bersama, di akhir kelas dua SMU, setiap siswa akan dihadapkan pada tiga pilihan manakala mereka naik ke kelas tiga, yaitu : jurusan IPA, IPS, atau bahasa. Pilihan ini mau tidak mau, suka atau tidak suka, disengaja atau tidak disengaja, direncanakan atau tidak direncanakan, langsung atau tidak langsung harus ditentukan salah satunya : kalau tidak IPA, ya IPS, atau bahasa, lain tidak!

Sekarang-saat dibuatnya tulisan ini-mereka sudah duduk di kelas tiga SMU sesuai dengan jurusannya masing-masing. Idealnya, pemilihan jurusan itu berdasarkan minat, bakat, dan kemampuan siswa; sehingga dengan itu mereka diharapkan akan berhasil dalam menyelesaikan studinya di SMU serta dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Namun, tidak sedikit siswa yang mengambil salah satu jurusan itu hanya lantaran nilai rapor kelas dua SMU untuk jurusan tersebut telah memenuhi syarat. Misalnya, X masuk ke IPA karena nilai Matematika, Fisika, Kimia, dan Biologi-nya lebih baik daripada nilai Ekonomi, Sosiologi, Geografi, atau Sejarah. Demikian juga dengan Y, nilai IPSnya lebih tinggi daripada nilai IPA, maka oleh wali kelasnya dijuruskan ke IPS. Adapun Z, karena nilai bahasa (Indonesia dan Inggeris)nya lebih bagus daripada nilai IPA dan IPS, maka diarahkan ke jurusan bahasa. Padahal belum tentu X, Y, atau Z meminati dan berbakat di jurusan tersebut.

Selain itu, masih banyak persepsi siswa yang keliru tentang pilihannya itu. Umpamanya, mereka yang masuk IPA karena ingin menghindari pelajaran “hafalan” seperti di IPS. Padahal untuk memahami reaksi kimia, contohnya, siswa harus menghafal rumus unsur berkalanya. Begitu pula untuk hewan dan tumbuhan, harus hafal istilah Latinnya, ordo, genus, kelas, dan species-nya. Untuk Fisika dan Matematika pun, banyak rumus dan dalil-dalil yang mesti dihafalkan oleh siswa!

Sebaliknya, mereka yang masuk IPS menganggap bahwa di jurusan ini lebih banyak menghafal dan tidak terlalu banyak berhitung. Anggapan seperti ini tidak seluruhnya benar, sebab di IPS pun ada mata pelajaran yang berhubungan dengan hitung-menghitung, seperti Ekonomi, Akuntansi, atau Ekonometri. Berkaitan dengan “menghafal”, mata pelajaran apa saja pasti akan memulai aktivitasnya dengan itu (baca : domain kognitif taxonomy Bloom dimulai dengan menghafal-recall, C1), dus, tidak hanya di IPS saja.

Kekeliruan lainnya, adanya anggapan bahwa pendidikan IPS adalah “kelas dua” dan IPA “nomor satu”. Hal ini juga salah besar. Karena keberhasilan hidup seseorang tidaklah ditentukan oleh pendidikan(IPA/IPS)nya semata, melainkan lebih ditentukan oleh bagaimana kiprah dia dalam hidupnya, di lingkungannya, di masyarakatnya, bagi bangsa dan negaranya-jelasnya bagaimana seseorang bermakna (meaningful) dan berguna (useful) ditentukan oleh peranan atau kontribusinya terhadap kehidupan dalam arti luas.

Di pihak lain, bukti empirik memang masih memperlihatkan timpangnya perhatian pemerintah/masyarakat (orang tua siswa/Dewan Sekolah) terhadap pendidikan IPS. Buktinya : silahkan cari laboratorium IPS di SMU-SMU di Indonesia, niscaya kemuskilan yang akan dijumpai, ibarat mencari jarum di tumpukan jerami! Tetapi hampir di semua SMU terdapat laboratorium IPA!

Itulah sekelumit kesalahkaprahan atau kelirumologi (meminjam istilah Jaya Suprana) tentang penjurusan di SMU. Mudah-mudahan dengan dimuatnya tulisan ini hal-hal seperti yang dielaborasi di atas tidak terjadi lagi, paling tidak dapat dieleminasi dari persepsi masyarakat.

IPA LEBIH TINGGI DARIPADA IPS !

Tinggalkan komentar

IPA LEBIH TINGGI DARIPADA IPS ! :
Benarkah Itu ?

oleh : Ev. Jeffrey Lim, M.Div. (Cand.)

Di sekolah-sekolah Indonesia pada tahun 1990-an, bagian dari bidang studi dibagi menjadi IPA dan IPS. IPA adalah Ilmu Pengetahuan Alam atau Natural Science. IPS adalah Ilmu Pengetahuan Sosial atau Sosial Science. Pada saat itu kita semua mendapatkan kesan dari opini publik bahwa IPA lebih tinggi daripada IPS. Seorang siswa akan bangga bila masuk IPA karena masuk kelas pilihan yang lebih sulit, sedangkan seorang siswa akan merasa malu kalau masuk IPS karena termasuk anak-anak yang kesannya malas, bodoh dan suka hura-hura. Inilah kesan yang didapat dari sekolah pada masa itu. IPA itu tidak banyak hafalan dan hanya pakai logika sedangkan IPS banyak hafalan dan harus mengingat banyak teori. Bagi orang IPS, tidak apa-apa tidak mengerti teorinya sebab di Indonesia yang penting adalah menghafal saja. Pendidikan di Indonesia, seseorang terdidik untuk menghafal banyak hal termasuk hal-hal yang tidak perlu. Opini publik pada saat itu adalah bila seseorang masuk IPA maka prospek kehidupannya lebih cerah. Bila masuk IPS, akan suram. Yang termasuk di dalam jurusan IPA adalah teknik, komputer, matematika, biologi, fisika, kedokteran, dan lain-lain. Sedangkan yang termasuk di dalam jurusan IPS adalah sastra, sosiologi, filsafat, hukum, bahasa, seni, dan lain-lain. Di Indonesia, siswa IPA bisa masuk IPS tetapi yang IPS tidak bisa masuk IPA.

Tetapi bila kita renungkan lebih dalam, apakah IPA itu benar-benar lebih tinggi daripada IPS ? Benarkah IPA lebih sukses daripada IPS ? Tujuan artikel ini bukan untuk membandingkan mana yang lebih tinggi antara IPA dan IPS sebab semua ilmu berasal dari yang Mahakuasa dan sama baik. IPA sama baik dengan IPS. Kemudian pembagian IPA dan IPS juga sebenarnya membagi wilayah ilmu pengetahuan menjadi dua wilayah yang terpisah. Sebenarnya ilmu pengetahuan adalah integrasi menjadi satu kebenaran yang utuh. Tujuan artikel ini adalah membahas kesalahan di masa lalu yang menganggap IPA lebih unggul dan untuk menjelaskan pentingnya IPS di zaman sekarang ini. Akan dijelaskan juga bahwa kebenaran itu utuh, sehingga ilmu pengetahuan jangan dibagi ekstrim menjadi dua wilayah dimana kedua-duanya terpisah secara mutlak. Tidak ada yang lebih tinggi atau rendah. Baik IPA maupun IPS, semuanya adalah baik dan suci adanya.

Pertama-tama, darimana datangnya opini bahwa IPA itu lebih unggul ? Saya berpendapat adalah karena secara umum memang IPA itu membutuhkan logika yang kuat karena bergerak di bidang teknik dan karena itu kebanyakan orang yang mempunyai IQ serta kemampuan matematika sebagian besar masuk IPA. Sebenarnya IPS juga membutuhkan logika. IPS seperti filsafat yang membutuhkan logika bahkan mempengaruhi IPA. Tetapi opini publik yaitu siswa yang masuk IPA adalah yang mempunyai IQ tinggi. Kemudian mengapa IPS dianggap jurusan yang lebih rendah ? Saya berpendapat, karena sebagian besar orang-orang yang masuk IPS lebih suka bergaul dan bersosialisasi. Mereka cenderung suka bermain. Suka bergaul mempunyai efek, yaitu dapat terpengaruh lingkungan sehingga kelihatannya anak-anak IPS itu anak-anak nakal atau malas. Realita zaman itu secara generalisasi juga berbicara bahwa anak-anak IPS kelihatan lebih “nakal” dan anak-anak IPA lebih “alim”. Tetapi kenyataan ini tidak bisa menjadikan satu kesimpulan bahwa IPS lebih bodoh dan lebih malas. Banyak anak IPS yang juga pandai bahkan definisi pandai juga tidak bisa hanya dibatasi pada IQ saja sebab di zaman ini ada istilah EQ juga ( Emotional Quotient ). Di zaman lalu yang dianggap bisa sukses adalah yang memiliki IQ tinggi. Di zaman sesudahnya, yang dianggap bisa sukses adalah yang memiliki EQ tinggi. Walaupun di zaman sekarang yang dianggap bisa sukses adalah yang memiliki SQ(Spiritual Quotient) tinggi.

Mengapa di Indonesia pada zaman 1990-an IPA dianggap lebih penting daripada IPS? Saya menganalisa karena di Indonesia mulai masuk zaman modern. Sebenarnya perkembangan zaman itu bergerak dari zaman primodern kemudian modern dan postmodern. Di zaman primodern adalah zaman sebelum teknologi dan penemuan-penemuan ilmiah. Pada zaman ini, kebanyakan masyarakat memiliki pandangan yang bersifat mitos. Kepercayaan animisme dan dinamisme masih banyak. Masyarakat juga banyak bergerak di bidang agraris atau pertanian. Kemudian setelah datangnya pandangan mengenai ilmu pengetahuan dan teknologi, masyarat mulai masuk ke zaman modern. Pada zaman modern ini, semuanya mulai memakai rasio (IQ). Pada zaman modern ini, masyarakat mementingkan teknologi dan ilmu pengetahuan. Mesin-mesin dan pabrik-pabrik mulai banyak bermunculan. Masyarakat juga mulai bergerak di bidang industri. Bila kita mengingat modern maka kita harus mengingat abad pencerahan yang merupakan awal yang mengakibatkan zaman modern. Dan akhirnya di dunia Barat, zaman sudah bergeser ke zaman postmodern yaitu zaman setelah modern. Zaman ini adalah zaman yang dimulai dengan kekecewaan kepada modern yang mengagungkan teknologi dan ilmu pengetahuan tetapi ternyata banyak membawa kepada masalah sosial. Di zaman postmodern, yang banyak dipentingkan adalah masalah-masalah sosial dan kemanusiaan. Karena Indonesia adalah negara berkembang yang mulai memasuki modern maka yang banyak dipentingkan adalah : a. IQ, b. Ilmu Pengetahuan Alam, c. Industri, d. Teknik. Karena itu IPA rasanya lebih cocok dan dibutuhkan pada masa itu. Menurut pandangan saya, inilah alasan masyarakat yang menganggap IPA lebih penting.

Pada saat itu di Indonesia, jurusan hukum kurang diminati orang, tetapi di negara maju seperti Amerika, Australia, jurusan hukum adalah salah satu jurusan yang paling top. Mengapa ? Sebab di dalam Negara yang maju, ilmu mengenai sosial dan kemanusiaan sangat penting. IPS adalah ilmu yang penting. Bahkan bahasa yang banyak dianggap sebagai jurusan yang tidak penting di Indonesia pada zaman dulu, sekarang bisa dianggap penting karena di dalam dunia globalisasi harus banyak berkomunikasi dengan banyak orang. Kalau kita selidiki lebih jauh, IPS merangsang IPA. IPS dan IPA ini saling berkaitan, karena itu tidak bisa menganggap IPS lebih inferior.
Kesimpulan saya adalah bahwa IPS adalah ilmu yang penting sekali, apalagi di dalam konteks zaman sekarang. IPS bukanlah ilmu yang tak berguna. IPS penting karena berkaitan dengan kemanusiaan dan kita adalah manusia, sedangkan IPA banyak berkaitan dengan alam. Alam dan manusia tentulah manusia yang lebih penting. Tetapi maksud saya bukan berarti IPS lebih tinggi dari IPA juga. Memang ada opini publik juga yang mengatakan bahwa orang-orang IPA yang pintar pada akhirnya akan dibayar oleh orang IPS yang bisa menggunakan orang-orang IPA tersebut. Orang-orang IPS yang akhirnya menjadi manager-manager yang mengaji orang IPA. Tetapi sesungguhnya pandangan ini juga bisa mengakibatkan kita menilai bahwa IPA lebih rendah daripada IPS. Ini tidak benar. Semua ilmu tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah. Semua ilmu adalah totalitas dan integrasi yang ada dalam diri manusia. Semua ilmu dari Tuhan dan yang berasal dari Tuhan adalah baik adanya. Ilmu berasal dari LOGOS atau Firman Tuhan. Ilmu adalah baik dan digunakan untuk kemuliaan Sang Pencipta dan untuk kepentingan manusia.

Jangan memandang rendah IPS. IPS itu penting apalagi di zaman sekarang dan jangan memandang rendah IPA. Semua ilmu adalah baik. Semua pekerjaan juga baik. Pekerjaan itu mulia, baik pekerjaan IPA atau IPS. (kecuali pekerja narkoba, penjual perempuan, teroris dan pekerjaan yang jahat lainnya). Pekerjaan itu mulia karena untuk kemuliaan Pencipta kita.

Older Entries